DEMOCRAZY.ID – Pro kontra terkait latar belakang pendidikan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka belum mereda.
Di tengah perdebatan mengenai dokumen pendidikan luar negeri yang menjadi sorotan dalam putusan Mahkamah Konstitusi (MK), mantan guru Gibran saat bersekolah di SMP Negeri 1 Surakarta, Rohwati, menyampaikan kesaksiannya.
Rohwati mengaku sakit hati mendengar anggapan yang menyebut Gibran tidak lulus SMA.
Ia menilai tudingan tersebut tidak sejalan dengan pengalamannya mengajar putra Presiden ke-7 RI, Joko Widodo, itu pada periode 1999–2002.
“Kalau saya agak sakit hati. Nggak mungkin terjadi. Sekelas Pak Jokowi putranya tidak lulus SMA saya tidak mungkin. Terutama saya sebagai gurunya saya termasuk yang tidak terima. Bukan anak bodoh anak titipan. Dan memang keterima murni semua,” ujar Rohwati dikutip Jumat, 9 Oktober 2026.
Bagi Rohwati, Gibran bukan siswa yang masuk SMPN 1 Surakarta karena privilese keluarga.
Ia menegaskan penerimaan Gibran di sekolah tersebut didasarkan pada kemampuan akademik, bukan status ayahnya.
Kesaksian itu menambah perspektif mengenai perjalanan pendidikan Gibran.
Namun, pengalaman seorang mantan guru ketika Gibran masih duduk di bangku SMP tidak dengan sendirinya membuktikan status kelulusan pendidikan menengahnya.
Persoalan tersebut tetap perlu dilihat berdasarkan dokumen pendidikan dan ketentuan administrasi yang berlaku.
Rohwati juga mengenang kemampuan Bahasa Inggris Gibran yang dinilainya cukup baik.
Menurut dia, kemampuan tersebut menjadi salah satu alasan yang membuat keputusan Gibran melanjutkan pendidikan di Singapura terasa wajar.
“Saya sering mencocokkan dengan Bahasa Inggris termasuk bagus. Makanya ke luar negeri. Wajar banget kalau sekolah di Singapura,” katanya.
Selain Bahasa Inggris, Rohwati menilai kemampuan Bahasa Jawa Gibran juga tergolong baik.
“Bagus. Mas Gibran termasuk Bahasa Jawanya juga bagus. Biasanya anak-anak yang Bahasa Jawanya bagus Bahasa Inggrisnya juga bagus,” ujarnya.
Meski demikian, kesaksian Rohwati berfokus pada pengamatannya selama mengajar Gibran di tingkat SMP.
Ia tidak memaparkan dokumen yang dapat menjelaskan secara langsung proses kelulusan Gibran dari pendidikan menengah ataupun penyetaraan ijazah yang diperolehnya di luar negeri.
Di luar persoalan akademik, Rohwati mengenang Gibran sebagai siswa yang menjaga sopan santun terhadap guru.
Menurut dia, sikap tersebut tidak hilang setelah Gibran memasuki dunia politik dan menduduki jabatan publik.
“Kebetulan Pak Jokowi anaknya mengikuti adat. Yang saya tahu sopan banget. Terutama kalau sama guru,” kata Rohwati.
Ia juga mengingat Gibran tetap menunjukkan sikap hormat ketika telah menjabat Wali Kota Solo.
“Bahkan sudah jadi Wali Kota saya masih guru ketika tahu cium tangan kalau ketemu gurunya. Dari SMP itu kesan sangat menonjol,” ujarnya.
👇👇