Hobi Rombak Kabinet Tapi Minim Hasil, Jurnalis Senior: Prabowo Kecanduan Reshuffle dan ‘Omon-Omon’!

DEMOCRAZY.ID – Jurnalis senior Lukas Luwarso menilai Presiden Prabowo Subianto terlalu sering melakukan perombakan kabinet sejak memimpin pemerintahan.

Menurutnya, frekuensi reshuffle yang berulang justru menunjukkan adanya persoalan dalam tata kelola pemerintahan.

Lukas bahkan menyebut Presiden Prabowo seolah “kecanduan” melakukan reshuffle kabinet.

Ia menilai pergantian menteri dalam waktu yang relatif singkat menimbulkan pertanyaan mengenai arah dan konsistensi pemerintahan.

“Kayaknya Presiden Prabowo ini kecanduan omon-omon pidato dan kecanduan reshuffle,” kata Lukas dalam Podcast Kosadata, Selasa (6/10/2026).

Menurut Lukas, dalam waktu kurang dari dua tahun pemerintahan Prabowo telah melakukan sekitar tujuh kali reshuffle jika seluruh perubahan dalam kabinet diperhitungkan.

Dengan frekuensi tersebut, ia memperkirakan perombakan terjadi setiap sekitar dua setengah hingga tiga bulan.

“Ini rekor yang luar biasa. Bayangkan ada satu pemerintahan yang hobinya melakukan reshuffle,” ujarnya.

Lukas menilai frekuensi pergantian pejabat yang terlalu sering bukan otomatis menunjukkan ketegasan seorang presiden.

Sebaliknya, menurut dia, kondisi tersebut dapat menjadi indikasi adanya kelemahan dalam menentukan dan mengelola jajaran pemerintahan.

Ia juga mempertanyakan dasar setiap pergantian pejabat.

Menurutnya, pemerintah tidak selalu memberikan penjelasan yang terang kepada publik mengenai alasan seorang menteri atau pejabat diganti.

“Ini sebenarnya menunjukkan kelemahan kepala negara. Ketika reshuffle itu diganti karena apa, enggak terlalu jelas. Apakah karena tidak kompeten, enggak bisa kerja dan sebagainya,” katanya.

Lukas juga menyoroti bahwa tidak semua perubahan merupakan pergantian pejabat baru.

Sebagian pejabat justru mengalami pergeseran posisi.

Ia mencontohkan seorang pejabat yang menurutnya telah beberapa kali dipindahkan dari satu posisi ke posisi lainnya.

“Bukan sepenuhnya reshuffle kan, digeser saja. Si Qodari itu digeser tiga empat kali,” ujarnya.

Karena itu, Lukas menyebut pola tersebut sebagai sebuah pertunjukan yang tidak semestinya terjadi dalam pengelolaan negara.

Ia mengingatkan bahwa pemerintahan bukan perusahaan rintisan atau startup yang dapat dengan mudah mengubah struktur organisasi dalam waktu singkat.

“Ini pertunjukan dagelan menurut saya. Negara tidak bisa dipermainkan. Pemerintahan tidak bisa dikelola dengan gaya startup, yang cepat ganti,” tegasnya.

Selain frekuensi reshuffle, Lukas juga mengkritik pengisian Dewan Pertimbangan Presiden yang menurutnya justru berpotensi menjadi tempat menampung berbagai figur yang tidak lagi memiliki posisi dalam struktur pemerintahan.

Ia menggunakan istilah keras untuk menggambarkan kondisi tersebut.

“Yang lebih konyol menurut saya dari reshuffle ini adalah menjadikan Dewan Pertimbangan Presiden menjadi tong sampah,” kata Lukas.

Menurut dia, pengisian lembaga penasihat presiden semestinya mempertimbangkan kapasitas, kompetensi dan kebutuhan strategis pemerintahan, bukan menjadi tempat menampung figur yang sebelumnya kehilangan posisi.

Pernyataan Lukas tersebut juga menyinggung masuknya sejumlah tokoh ke lingkaran pemerintahan Prabowo.

Ia menyebut secara satir seorang tokoh yang selama ini dikenal dengan jargon “akal sehat”.

“Saya agak geli akhirnya ini kawan kita, kawan kita ini si juragan akal sehat juga dapat juga,” ujarnya.

Lukas kemudian mengaitkan perjalanan politik tokoh tersebut sejak pemerintahan Presiden Joko Widodo dengan posisi barunya di pemerintahan Prabowo.

“Perjalanan yang begitu jauh sejak Jokowi dengan menjual akal sehat, ternyata kini masuk ke dalam lingkaran akal sesat,” kata Lukas.

Artikel terkait lainnya