Dokter Tifa Heran: Jokowi Malah Plesiran ke NTT Padahal Sudah Pensiun, Mending Hadiri Sidang Atas Laporannya Sendiri!

DEMOCRAZY.ID – Tifauzia Tyassuma atau dokter Tifa heran dengan kunjungan Presiden ke-7 Jokowi di Nusa Tenggara Timur (NTT).

“Seharusnya pak Jokowi ini tidak usah pergi ke mana-mana apalagi sampai ke NTT segala,” kata Tifa dikutip dari unggahannya di X, Jumat (18/9/2026).

transnusaApalgi, kata Tifa, Jokowi juga sudah pensiun.

Sama dengan pernyataan yang dia lontarkan ke pengungsi gempa di NTT.

“Toh juga mengaku kalau sudah pensiun dan ngga bisa berbuat apa-apa,” ujarnya.

Ketimbang datang ke NTT padahal sudah pensiun, menurutnya lebih baik datang ke Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Timur.

“Yang terbaik justru hadir di PN Jakarta Timur, menghadiri Sidang atas laporan polisinya seperti selalu dia katakan sendiri: Saya akan hadir. Saya sudah tidak sabar untuk hadir,” ucapnya.

Tifa sendiri salah satu tersangka kasus yang berkaitan tudingan ijazah palsu Jokowi.

“Lha ini sidang dr Tifa yang kesekian kali sudah didelenggarakan demi dia, lha kok malah berkali-kali mangkir?” ujarnya.

Jokowi ke NTT

Jokowi sebelumnya berkunjung ke NTT pada Rabu malam (16/9/2026).

Dia mendatangi pengungsian korban gempa.

Juga mendengar keluhan sulitnya akses air bersih.

Saat itu, Jokowi mengaku sudah pensiun.

Sehingga tidka bisa apa-apa.

“Kalau saya enggak bisa apa-apa, saya pengsiun,” ucap Jokowi.

94 Meninggal

Badan Nasional dan Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 94 korban meninggal dunia di pengungsian gempa NTT.

Kepala BKKBN Wihaji mengatakanpihaknya berkolaborasi dengan Kitabisa terus berupaya memastikan kondisi ibu hamil, ibu menyusui, balita, anak-anak, perempuan, dan para korban mendapatkan gizi yang cukup serta kebersihan sanitasi.

“Salah satunya (bantuan) ada rumah, air bersih, kemudian juga ada mandi, cuci, kakus (MCK). Jadi, penyebab (stunting) itu nanti yang akan kita kerjakan di sana dan memang menjadi prioritas kita,” kata Wihaji di Jakarta, Kamis.

Ia menegaskan, sebelum ada gempa Kemendukbangga/BKKBN juga telah berkolaborasi dengan berbagai pihak di NTT dalam rangka menurunkan prevalensi stunting.

“Sebelum ada gempa pun, kita sudah bekerja sama dengan kampus-kampus juga dan lebih konkretnya tentu tambah baik, dan semoga nanti semakin cepat untuk bisa kita bantu di sana,” ujar dia.

Wihaji menjelaskan, sebelum mengintervensi keluarga berisiko stunting, penting untuk mengetahui penyebab utama atau faktor yang memengaruhi terjadinya kondisi tersebut pada anak.

“Yang paling penting adalah sebabnya apa. Untuk menyelesaikan masalah, itu sebabnya kita selesaikan dulu. Kalau sebabnya air bersih, kita bantu air bersih, kalau sebabnya edukasi, kita edukasi, kalau sebabnya asupan gizi, kita asupan gizi, tentu dari sebab itu kita pilih dan kerjakan yang bisa kita kerjakan,” paparnya.

Artikel terkait lainnya