Dekan Kehutanan UGM Akui Sengaja Dulukan ETD Skripsi Jokowi, Bongkar Fakta Ini!

DEMOCRAZY.ID — Keberadaan skripsi Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) di repositori arsip digital Electronic Theses and Dissertations (ETD) Universitas Gadjah Mada (UGM) sempat memicu pertanyaan dari publik karena dapat diakses secara daring, sementara karya ilmiah mahasiswa lain dari angkatan 1980 belum tersedia.

Menanggapi hal tersebut, Dekan Fakultas Kehutanan UGM, Ir. Sigit Sunarta, menjelaskan bahwa kondisi ini berkaitan dengan proses digitalisasi arsip kampus yang dilakukan secara bertahap dan dimulai dari lulusan dengan tahun angkatan paling muda.

Digitalisasi ini telah berlangsung sejak tahun 2013 dan hingga saat ini masih berjalan.

Proses pengerjaan dimulai dari angkatan terbaru karena dinilai lebih mudah.

Mahasiswa lulusan baru umumnya sudah menyerahkan skripsi dalam bentuk soft file, sehingga pustakawan tidak perlu repot mengalihmediakan dokumen fisik.

Setelah arsip dari angkatan-angkatan muda selesai didigitalisasi, proses kemudian bergerak mundur ke dokumen-dokumen lama yang masih berwujud fisik.

“Meskipun ETD itu berproses ya, berprosesnya itu lama sejak tahun 2013 sampai dengan saat ini masih berlangsung, dimulai dari angkatan yang termuda,” ujar Sigit melalui kanal YouTube UGM pada 22 Agustus 2025.

Lebih lanjut, Sigit juga membeberkan alasan khusus mengapa skripsi Jokowi dapat muncul jauh lebih awal dibandingkan karya ilmiah milik mahasiswa lain dari angkatan yang sama.

Menurutnya, Fakultas Kehutanan UGM secara khusus mengunggah skripsi Jokowi ke sistem ETD sebagai bentuk kebanggaan dan apresiasi institusi terhadap sang alumni ketika yang bersangkutan terpilih menjadi presiden dan berencana mengunjungi almamaternya.

“Pada saat Pak Jokowi menjadi presiden dan kebetulan mau berkunjung ke fakultas waktu itu, kami mewujudkan kebanggaan itu dengan cara meng-upload skripsinya Pak Jokowi itu di ETD. Jadi itu betul-betul merupakan wujud kebanggaan,” ungkap Sigit.

Pihak fakultas mengaku sama sekali tidak menduga bahwa keputusan yang dilandasi rasa bangga tersebut di kemudian hari akan memicu polemik serta berbagai spekulasi di ruang publik.

“Kami tidak pernah berpikir bahwa ini nanti akan digoreng ke sana kemari,” tambahnya.

Sigit menambahkan bahwa proses digitalisasi arsip di Perpustakaan Fakultas Kehutanan UGM sendiri saat ini rata-rata baru menjangkau karya ilmiah mahasiswa sekitar angkatan 1990.

Kecepatan proses digitalisasi di setiap unit juga tidak seragam karena sangat bergantung pada kapasitas serta kecepatan kerja para pustakawan di masing-masing fakultas.

Dengan demikian, belum tersedianya skripsi mahasiswa lain dari angkatan 1980 di dalam repositori ETD bukan disebabkan oleh unsur sengaja mengesampingkan karya tersebut, melainkan murni murni karena tahapan teknis digitalisasi arsip yang masih berjalan secara bertahap.

Artikel terkait lainnya