Guru Besar IPDN Prof Ryaas Rasyid: Prabowo ‘Terjebak’ Dalam Pusaran Kebijakan MBG!

DEMOCRAZY.IDGuru Besar Institut Pemerintahan Dalam Negeri, Prof Ryaas Rasyid menyebut Presiden Prabowo Subianto sudah jadi korban atas program Makan Bergizi Gratis (MBG).

“Sekarang bukan lagi dijebakkan, dia sudah jadi beban. Prabowo sudah jadi korban MBG,” kata Ryaas dikutip dari YouTube Forum Keadilan TV, Selasa (25/8/2026).

Menurutnya, dampak MBG terhadap Prabowo dalam waktu dekat akan terasa.

“Dalam waktu dekat, karena tidak akan ada jalannya MBG yang akan berhasil. Manajemennya tidak jalan, ini proyek gagal pak,” terangnya.

Ryaas menjelaskan, mestinya Prabowo mengakui MBG merupakan programnya. Lalu mengevaluasi program yang ia cetuskan sendiri.

“Jadi presiden harus besar hati mengatakan itu visi saya. Saya koreksi demi kepentingan negara, demi kepentingan penyelamatan keuangan negara, demi tercapainya sasaran, kita hentikan, dan kita ganti dengan proyek yang lebih langsung mengenai kepentingan,” jelasnya.

Menghentikan MBG, bagi Ryaas tak berarti meninggalkan orang miskin. Namun mencari program yang lebih taktis.

“Itu bukan berarti meninggalkan orang miskin, bukan berarti meninggalkan kebutuhan untuk naik gizi. Tapi harus lebih cermat, lebih sistematik, dan lebih fokus,” imbuhnya.

Ryaas juga menyoroti pelibatan aparat dalam MBG.

“Tidak seperti sekarang, dan jangan lagi libatkan itu pihak-pihak yang tidak kompeten untuk mengurus MBG,” ucapnya.

“Bagaimana bisa institusi-institusi. Partai-partai, polisi segala macam mengurusi makanan, ini negara apa, ini nggak ada negara lain seperti ini kita saja,” sambungnya.

Sekarang, dia menilai Prabowo malah ngotot.

“Itu karena sifat ngotot presiden. Seolah-olah MBG itu adalah harga diri, dia itu kan keliru dalam menempatkan satu masalah MBG, itu kan satu instrumen saja menuju pada keberhasilan,” ungkapnya.

Prabowo menurutnya mesti segera ambil langkah.

“Jika instrumen itu tidak efektif, harus diganti, harus dikoreksi. Nah itulah fleksibilitas kepemimpinan. Jangan Anda kaku. Jangan pakai gengsi segala macam,” jelasnya.

Menurutnya, sebagai orang nomor satu di Indonesia Prabowo tidak bisa kaku.

“Fleksibilitas kepemimpinan itu adalah mengoreksi kesalahan, itu lebih dihargai daripada ngotot bertahan dalam kesalahan,” pungkasnya.

[FULL VIDEO]

Artikel terkait lainnya