Sorotan Isu Politik Nasional! Dedi Mulyadi Disarankan Segera Terbang ke Kalimantan Agar Tidak Didahului Gibran

DEMOCRAZY.ID — Aktivitas dan pergerakan para tokoh politik nasional kembali menuai sorotan tajam dari berbagai kalangan pemerhati sosial dan media.

Kritik Pegiat Media Sosial Terhadap Kunjungan Kepala Daerah

Jurnalis sekaligus pegiat media sosial, Ahmad Arif, melontarkan kritik terbuka terkait agenda kunjungan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, yang turun langsung ke Nusa Tenggara Timur (NTT) guna menyalurkan bantuan bagi korban gempa.

Arif menilai bahwa penanganan bencana di wilayah lain, seperti musibah kabut asap akibat Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Kalimantan, juga memerlukan perhatian serius dan kehadiran nyata para pejabat publik.

Dalam unggahan di akun media sosial pribadinya pada Jumat (21/8), Arif menyampaikan sentilan tajam agar penanganan krisis lingkungan di daerah lain tidak terabaikan.

“Tolong kasih tahu Gub Jabar yang sedang cosplay itu, setelah dari NTT agar langsung ke Kalimantan. Kalau bisa berkantor di Banjarbaru, minimal seminggu biar merasakan penderitaan rakyat. Semoga makin moncer,” tulisnya di akun X pribadinya, dikutip Jumat (21/8).

Lebih lanjut, ia juga menyoroti dinamika kunjungan ke lokasi bencana agar langkah yang diambil para tokoh tetap berorientasi pada substansi penanganan darurat dan tidak terkesan saling mendahului dalam panggung pencitraan politik.

“Jangan sampai keduluan Wapres,” tandas Arif.

Penyaluran Bantuan dan Skema Belanja Lokal

Sebagai catatan, pada Jumat (21/8/2026), Dedi Mulyadi atau yang akrab disapa Kang Dedi Mulyadi (KDM) memang melakukan kunjungan ke NTT sebagai respons atas permohonan bantuan warga melalui platform digital. Dalam kunjungan tersebut, total bantuan yang disalurkan mencapai Rp4,5 miliar, yang bersumber dari gotong royong Pemprov Jabar, Baznas Jabar, Bank BJB, Apindo, Kadin, serta donasi pribadi KDM sebesar Rp4 miliar.

Selain itu, Wali Kota Depok, Supian Suri, turut mendampingi rombongan dengan membawa tambahan sumbangan senilai Rp500 juta yang dihimpun dari ASN serta masyarakat Kota Depok.

“Kita hari ini membawa bantuan sebesar Rp4,5 miliar. Rp4 miliar dari provinsi (Jabar) dan Rp500 juta dari kota depok,” ujar KDM dalam video yang dibagikan melalui akun Instagram pribadinya.

Menariknya, dalam proses distribusi logistik, KDM memilih skema yang berbeda dari kebiasaan umum.

Alih-alih mengirimkan barang langsung dari Jawa Barat, ia memutuskan untuk membelanjakan dana bantuan secara langsung di pasar-pasar tradisional di sekitar lokasi bencana—seperti di Labuan Bajo.

Langkah ini dinilai efektif untuk mempercepat sampainya bantuan kepada korban sekaligus membantu menggerakkan roda perekonomian warga lokal.

Darurat Kabut Asap di Kalimantan Selatan

Di sisi lain, situasi di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, dilaporkan semakin mengkhawatirkan menyusul pekatnya kabut asap akibat Karhutla yang mencapai titik terparah dalam sebulan terakhir, terutama sejak puncaknya pada Rabu, 19 Agustus 2026.

Berdasarkan catatan BMKG Stasiun Klimatologi Kelas I Kalimantan Selatan, konsentrasi partikel halus PM2.5 tercatat mencapai angka 389,4 µg/m³, yang dikategorikan sebagai tingkat Berbahaya bagi kesehatan pernapasan.

Ketebalan kabut asap tersebut bahkan memangkas jarak pandang pengendara di jalan raya hingga tersisa 5–10 meter, dan di beberapa titik ekstrem hanya 1–3 meter, yang sempat memicu insiden kecelakaan lalu lintas akibat buruknya jarak pandang.

Artikel terkait lainnya