DEMOCRAZY.ID – Peta politik nasional menuju kontestasi masa depan kembali diwarnai oleh berbagai analisis strategis dari para pengamat yang menyoroti manuver serta perpindahan dukungan para tokoh penting.
Para pengamat terus mengkaji bagaimana pergeseran kekuatan politik di tingkat elite dapat memengaruhi arah koalisi serta dinamika pencalonan di masa mendatang.
Perhatian publik tertuju pada analisis yang disampaikan oleh jurnalis senior Hersubeno Arief mengenai dinamika yang melibatkan kader Partai Gerindra sekaligus Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.
Menurut analisis yang disampaikan melalui kanal YouTube Hersubeno Point, Dedi dinilai menjadi salah satu figur yang masuk dalam radar bidikan strategis Presiden ke-7 Joko Widodo (Jokowi).
“Nah langkah lain yang saya dengar ini bahwa Jokowi masih terus melakukan akuisisi-akuisisi dari politisi yang cukup senior dan punya nama besar. Saya kira figur seperti Dedi Mulyadi, Gubernur Jawa Barat, itu menjadi salah satu bidikan atau target utama dari Jokowi,” ujar Hersu, dikutip Rabu (19/8/2026).
Hersu menilai bahwa ketertarikan terhadap figur kepala daerah tersebut tidak lepas dari tingkat popularitas serta elektabilitas yang dinilai cukup tinggi.
Kehadiran figur dengan basis dukungan massa yang kuat dipandang mampu memberikan dampak elektoral yang signifikan atau efek ekor jas bagi partai politik tertentu yang sedang berupaya memperkuat posisinya di kancah nasional.
Lebih lanjut, dinamika tersebut juga dikaitkan dengan posisi politik Dedi Mulyadi di dalam struktur partainya saat ini yang dinilai mulai menemui tantangan tersendiri di tengah konstelasi kekuasaan yang berjalan.
Meski demikian rekam jejak perpindahan partai yang pernah dilakukan di masa lalu menunjukkan bahwa mobilitas politik seorang tokoh merupakan hal yang lumrah dalam strategi perebutan pengaruh.
Hersu menambahkan bahwa pola perpindahan afiliasi politik tersebut membuka peluang terjadinya skenario baru apabila terdapat tawaran kerja sama yang saling menguntungkan dari pihak luar, termasuk kemungkinan untuk membangun poros kekuatan baru.
“Kalau kemudian ini win-win, jadi antara Dedi Mulyadi dengan Gibran ya skenarionya, kemudian Dedi Mulyadi dipasangkan dengan Gibran Rakabuming Raka pada Pilpres tahun 2029. Jadi Gibran masih tetap ada sirkulasi kekuasaan,” tandasnya.
Wacana mengenai proyeksi jangka panjang tersebut sejalan dengan berbagai pernyataan yang sebelumnya pernah disampaikan oleh para tokoh sentral mengenai target politik ke depan.
Sebelumnya, Presiden ke-7 Joko Widodo sempat menegaskan bahwa fokus penguatan partai pendukung tidak hanya berhenti pada upaya melampaui ambang batas parlemen, tetapi dipatok pada pencapaian target kemenangan secara menyeluruh dalam agenda elektoral mendatang.
“Sekali lagi saya sampaikan, target kita bukan hanya target masuk Senayan. Bukan itu. Target kita adalah kemenangan di 2029,” ucap Jokowi dalam arahannya pada Rapat Koordinasi Daerah (Rakorda) PSI Kota Kupang di Hotel Harper, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (1/8/2026).