

DEMOCRAZY.ID — Isu liar yang sempat meniupkan ketakutan di tengah masyarakat ihwal potensi kerusuhan massal hingga ancaman pemberlakuan status darurat militer pada Agustus 2026 akhirnya ditanggapi oleh pengamat politik Rocky Gerung.
Ia secara tegas menepis berbagai spekulasi tersebut dan menilai skenario otoritarian semacam itu sangat kecil kemungkinannya untuk terjadi.
Dalam pandangan Rocky, Presiden Prabowo Subianto tidak memiliki urgensi maupun alasan rasional untuk mengambil langkah-langkah ekstrem yang justru dapat menghancurkan legitimasi serta reputasi politiknya sebagai seorang pemimpin sipil yang sah.
Ia menyoroti metamorfosis politik yang telah dilalui Prabowo, dari latar belakangnya sebagai perwira tinggi militer hingga kini sukses bertransformasi menjadi pemimpin sipil sekaligus pimpinan partai politik yang konstitusional.
“Sekarang dia adalah pemimpin sipil dan dia sudah punya reputasi internasional. Enggak mungkin dia tukar tambahkan itu dengan ambisi (darurat militer) itu,” ujar Rocky saat menjadi narasumber di kanal YouTube Total Politik, Rabu (5/8/2026).
Rocky bahkan merujuk pada situasi historis tahun 1998 silam.
Menurutnya, pada masa-masa krisis tersebut, Prabowo yang memegang posisi komandan strategis sebenarnya memiliki potensi dan kendali untuk melakukan intervensi militer yang lebih luas, namun pilihan itu tidak pernah diambilnya.
Bagi Rocky, sikap masa lalu tersebut membuktikan bahwa Prabowo memahami secara mendalam dampak buruk penggunaan kekuatan militer terhadap kelangsungan tatanan demokrasi bangsa.
“Psikologi basic psychology dari Prabowo sebagai komandan yang punya potensi lakukan itu, dia enggak lakukan,” tegasnya.
Lebih lanjut, Rocky menyoroti munculnya fenomena common sense of fear atau kecemasan komunal di tengah publik menjelang bulan Agustus ini.
Ia menduga ketakutan tersebut sengaja dihembuskan oleh pihak-pihak tertentu untuk memicu instabilitas nasional.
Salah satu target utama dari penggiringan opini tersebut, kata Rocky, adalah kelompok mahasiswa dan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) agar terpancing turun ke jalan dan melakukan aksi demonstrasi besar-besaran.
Meski demikian, Rocky meyakini bahwa kelompok terpelajar dan kaum muda saat ini jauh lebih matang serta kritis dalam membaca peta kepentingan para elite di lingkaran kekuasaan.
“Mereka tahu bahwa mereka lagi dipancing untuk jadi martir di atas perkelahian dua tokoh utama di sekitar Prabowo,” tuturnya.
Melalui analisis tersebut, Rocky mengimbau masyarakat, pelaku usaha, dan pasar agar tetap tenang serta melihat berbagai spekulasi politik yang beredar secara objektif, sehingga tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu darurat militer yang sengaja diciptakan untuk menciptakan kepanikan publik.