Diagnosis Mengejutkan Pakar! Jokowi Disebut Idap Sindrom ‘Megalomania’ hingga Tak Rela Lepas Kendali Kekuasaan

DEMOCRAZY.IDSorotan tajam dan kritik tanpa kompromi terus diarahkan kepada Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi).

Budayawan sekaligus peneliti senior Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Mohamad Sobary, melontarkan analisis psikologis sekaligus politik yang sangat menohok terkait watak dan metamorfosis sang mantan penguasa di tengah kepungan berbagai polemik nasional, termasuk sengketa ijazah yang tak kunjung usai.

Dalam pandangan Sobary, Jokowi memperlihatkan tabiat keras kepala dan menolak untuk melunak di hadapan gelombang kritik maupun tuntutan hukum yang kian berlapis-lapis mengepungnya.

“Jokowi tidak mau kalah meskipun sebenarnya nalar kita mengatakan tidak mungkin ijazah ini asli. Musuhnya Jokowi itu berlapis-lapis, tuntutan yang berlapis-lapis. Jokowi tidak mau kalah,” ujar Sobary dengan nada geram.

Metamorfosis Sosial: Dari Rakyat Jelata Menjadi “Monster” Penguasa

Lebih jauh, Sobary menarik garis sosio-historis perjalanan hidup Jokowi dari masa lalunya sebagai bagian dari masyarakat kelas bawah, hingga akhirnya memegang kendali penuh atas instrumen negara selama satu dekade kepemimpinannya.

“Kalau Jokowi adalah Jokowi Wong Deso, mari kita tarik Jokowi sebagai orang pinggir kali. Ya otomatis miskin. Orang pinggir kali hidup dalam kelas sosial semacam itu. Sekolahnya keteter semacam itu, segalanya parah,” ulasnya menggambarkan latar belakang masa lalu sang tokoh.

Namun, dinamika kekuasaan dan limpahan sumber daya luar biasa yang pernah berada dalam genggamannya dinilai telah mengubah total DNA kepribadian tersebut.

Sobary secara terbuka menyebut bahwa pengalaman singgah di singgasana tertinggi negeri ini telah melahirkan karakter megalomania yang berbahaya.

“Tapi dia kan tidak seperti itu, dia sudah berubah menjadi suatu monster yang sangat menakutkan. Punya duit, pernah berkuasa, pernah memiliki ambisi sangat besar. Pernah merasa dirinya megalomania. Aku orang besar,” ungkapnya blak-blakan.

Kontras Pencitraan Wong Cilik Versus Sindrom Megalomania Berlebihan

Sobary juga menyoroti ironi antara gaya penampilan luar yang kerap dipertontonkan untuk merawat citra sebagai orang biasa, dengan realitas ambisi kekuasaan absolut yang tersembunyi di baliknya.

Menurutnya, sindrom kebesaran diri atau megalomania itu termanifestasi secara nyata dalam berbagai intrik dan manuver politik tingkat tinggi yang dimainkannya selama dan sesudah berkuasa.

“Tapi ditampilkan dalam wujud orang kecil-orang kecil, saya dihina sehina-hinanya, ya modal seperti itu sosok yang tidak begitu jelas. Anda megalomania yang berlebih-lebihan, nampak pun megalomania itu,” sentilnya.

Kritik pedas yang dilayangkan Mohamad Sobary ini semakin melengkapi mozaik perdebatan publik mengenai warisan politik rezim sebelumnya, yang dinilai meninggalkan karut-marut struktural dan krisis legitimasi etis di tengah transisi kekuasaan saat ini.

Artikel terkait lainnya