Nasib Wong Cilik Selalu Terhimpit, Ganti Presiden Belum Tentu Ubah Keadaan?

DEMOCRAZY.ID – Kompleksitas persoalan bangsa kembali memicu perdebatan di ruang publik.

Kali ini, komika sekaligus pengamat sosial-politik, Pandji Pragiwaksono, melontarkan pandangan kritis mengenai efektivitas pergantian kepemimpinan nasional dalam menyelesaikan berbagai masalah krusial di Indonesia.

Dalam penjelasannya saat menjadi bintang tamu di kanal YouTube Hendri Satrio Official yang tayang pada Senin (20/7/2026), Pandji mengingatkan publik agar tidak terjebak pada ilusi bahwa suksesi kekuasaan atau sekadar mengganti figur presiden akan otomatis melenyapkan seluruh masalah negeri.

“Presiden berganti, kayaknya masalah nggak tambah surut. Jadi ketika kita bilang kita ganti presiden, seakan-akan itu akan mengubah semuanya, kayaknya gak juga,” ujar Pandji.

Soroti Kompleksitas Kuasa Elite dan “Konsorsium Partai”

Lebih lanjut, Pandji menilai bahwa tindakan melayangkan kritik dan menyalahkan Presiden Prabowo Subianto secara tunggal atas segala persoalan yang mendera bangsa merupakan cara pandang yang terlalu sederhana (simplistik).

Ia mempertanyakan sejauh mana pemegang tampuk kekuasaan tertinggi di Indonesia benar-benar berada di tangan seorang presiden, atau justru dikendalikan oleh kekuatan di balik layar.

“Kalau kita salahkan murni kepada Pak Prabowo, simplistik menurut gue. Kita tuh nggak pernah benar-benar tahu, sebenarnya penguasanya politik nih apakah presiden, ataukah sebuah konsorsium dari para pimpinan partai?” cetusnya.

Menurut Pandji, ketidaktahuan publik terhadap struktur kekuasaan yang sesungguhnya membuat setiap gerakan pergantian kepemimpinan berpotensi menjadi sia-sia, lantaran sistem oligarki atau lingkaran elite partai tetap memegang kendali penuh atas arah kebijakan negara.

“Kalau Prabowo diturunkan, tapi kemudian konsorsium politiknya ini tidak kita sadari keberadaannya, jangan-jangan kita nggak akan mengubah keadaan,” tegasnya memperingatkan.

Ilusi Demokrasi dan Hak Pilih Rakyat

Selain menyoroti konstelasi kekuasaan elite, Pandji turut menguliti realitas sistem demokrasi elektoral di Indonesia.

Ia berargumen bahwa kebebasan memilih yang selama ini diagung-agungkan dalam pemilu sebenarnya memiliki batasan semu, sebab masyarakat praktis hanya disodori oleh kandidat-kandidat yang telah diseleksi dan ditentukan terlebih dahulu oleh para pimpinan partai politik.

“Kita kan selalu diiming-imingi bahwa demokrasi, lu bisa memilih pemimpin lu sendiri. Tapi sebenarnya kan nggak juga. Kita memilih pemimpin yang sudah dipilihin, sebenarnya,” tandasnya.

[FULL VIDEO]

Artikel terkait lainnya