DEMOCRAZY.ID – Pendakwah kondang, Ustaz Abdul Somad (UAS), menyampaikan satire tentang ijazah dan hubungan kekuasaan saat mengisi kegiatan Tabligh Akbar di Masjid Agung Istiqomah, Kabupaten Bengkalis, Riau, Kamis (8/10/2026) kemarin.
Dalam ceramahnya, UAS menyinggung bagaimana ijazah yang diperoleh melalui pendidikan tinggi tidak selalu menjamin seseorang mendapatkan kesempatan yang diharapkan.
Ia kemudian menceritakan pengalaman pribadinya setelah menempuh pendidikan di luar negeri, termasuk ketika kembali ke Indonesia dengan membawa ijazah dari Mesir dan Maroko.
Pernyataan UAS yang paling menyita perhatian adalah sindirannya mengenai latar belakang keluarga dan hubungan kekerabatan dengan pejabat.
“Ijazah tidak ada apa-apanya kalau kau bukan anak siapa dan pamanmu bukan hakim konstitusi,” ujar UAS dalam ceramahnya yang saat ini viral di X.
UAS kemudian mengenang perjalanan pendidikannya hingga berhasil memperoleh gelar dari luar negeri.
Ia mengaku membawa dua ijazah setelah menyelesaikan pendidikan di Mesir dan Maroko.
Hanya saja, menurut cerita yang disampaikannya, pencapaian tersebut tidak serta-merta membuatnya mendapatkan pengakuan yang diharapkan ketika kembali ke Tanah Air.
“Saya kemudian pulang ke kampung membawa dua ijazah LCMA, S1 Mesir, S2 Maroko. Tapi ternyata di negara itu ijazah tidak ada apa-apanya kalau kau bukan anak siapa dan pamanmu bukan hakim konstitusi,” tukasnya.
UAS juga mengungkapkan pernah menerima ejekan ketika berada di Arab Saudi dan ketika ada pihak yang meragukan pengalamannya menempuh pendidikan di Mesir.
“Saya diejek-ejek di Saudi ketika saya jadi TKI, saya enggak marah. Saya diejek-ejek ketika saya dikatakan enggak berangkat ke Mesir, saya enggak marah,” ucap dia.
Ia menegaskan, kekecewaannya muncul ketika ijazah yang diperolehnya setelah menjalani pendidikan bertahun-tahun seolah tidak mendapatkan perhatian.
“Tapi ketika saya pulang membawa dua ijazah tidak diperhatikan saya akan lawan,” lanjutnya.
Tidak berhenti di situ, UAS juga menceritakan perjuangannya mengikuti seleksi calon pegawai negeri sipil (CPNS) untuk menjadi dosen.
Ia mengaku mengikuti berbagai tahapan seleksi, mulai dari tes kemampuan bahasa Inggris atau TOEFL hingga tes bahasa Arab.
UAS menyebut kemampuan bahasa Arabnya terbentuk setelah menjalani pendidikan selama empat tahun di Mesir dan dua tahun di Maroko.
Namun, ia menyelipkan humor ketika menceritakan pengalamannya tersebut.
“Tapi jangan mentang-mentang lama di Arab, unta lebih lama,” terangnya.
UAS melanjutkan ceritanya tentang tahapan seleksi hingga akhirnya mengikuti tes audiensi.
Pada tahap tersebut, ia mengaku mendapat pertanyaan yang membuatnya kehilangan kepercayaan diri.
“Disuruh ngajar, lulus. Sampai akhirnya tes audiensi berdua. Pertanyaan yang merontokkan jiwa saya. Pertanyaannya, sudah punya pengalaman ngajar? Langsung badan saya lemas,” jelasnya.
UAS kemudian mengenang momen ketika dirinya menerima kabar tidak lulus seleksi menjadi dosen.
Saat itu, ia sedang berada di dalam Metro Mini dan bergelantungan ketika ponselnya berbunyi menandakan ada pesan singkat masuk.
“Pas saya lihat kau enggak lulus, Mad. Marah dalam diri saya. Aku yang di Mesir 4 tahun, aku yang di Maroko 2 tahun, aku yang nulis tesis 300 halaman, aku yang sudah disidang 3 profesor, aku yang alumni luar negeri. Marah, tapi enggak tahu mau marah ke siapa,” ucapnya.
Kabar tersebut membuatnya kecewa.
Ia merasa telah menjalani pendidikan panjang, menyelesaikan tesis ratusan halaman, hingga mempertanggungjawabkan hasil penelitiannya di hadapan tiga profesor.
Namun, semua pencapaian itu tidak membuatnya lolos dalam seleksi yang diikutinya.
UAS menggambarkan perasaannya saat turun dari Metro Mini di kawasan Kampung Melayu.
“Saya turun dari Metro mini, itu aspal Kampung Melayu itu seperti dodol saya injak, embut rasanya,” katanya.
UAS mengungkapkan, menjadi dosen saat itu merupakan salah satu harapan yang ingin diwujudkannya.
Ketika harapan tersebut kandas, ia mengaku tidak tahu harus melangkah ke mana.
“Satu-satunya harapan saya mau jadi dosen, tapi saya enggak lulus,” bebernya.
Ia kemudian menceritakan kondisi keluarganya yang bukan berasal dari kalangan berada maupun pejabat.
“Mau ke mana saya? Saya bukan anak orang kaya, saya bukan anak pejabat. Akhirnya kata emak saya pulanglah kau ke kampung,” UAS menuturkan.
Di penghujung cerita, UAS menggambarkan kekecewaannya dengan ungkapan satire yang disampaikan secara jenaka.
Ia mengaku sempat membayangkan akan kembali ke kampung halaman untuk menanam kelapa sawit.
“Saya sudah terbayang, aku akan pulang ke kampung nananam kelapa sawit. Akan kubakar hutan ini semua,” kuncinya.
[VIDEO]
Ustadz Abdul Somad melontarkan kritik satire menohok soal praktik nepotisme :
“Di negara itu, ijazah tidak ada apa-apanya kalau kau bukan anak siapa-siapa, dan pamanmu bukan hakim konstitusi ”Sentilan ini disampaikannya saat membagikan kisah masa lalunya di hadapan ribuan jamaah dalam acara Padhang Bulan Fest 2026 di Yogyakarta, akhir September lalu.
Nyindir siapa ya 😬🤭
— Nda ! 🧳 (@Naandaa27) October 8, 2026