DEMOCRAZY.ID – Aksi demonstrasi yang menyerukan boikot Ruben Onsu menjadi perhatian setelah sejumlah orang mendatangi salah satu gedung TV di Jakarta.
Mereka membawa spanduk berisi tuntutan agar presenter tersebut tidak lagi mendapat tempat di layar kaca.
Aksi ini merupakan buntut dari berbagai polemik yang belakangan ramai diperbincangkan, mulai dari video call Ruben dengan seorang pria hingga laporan dugaan pencabulan sesama jenis.
Seruan boikot tersebut tidak hanya disampaikan melalui demonstrasi secara langsung.
Sebelumnya, sejumlah warganet juga ramai membicarakan kontroversi Ruben di media sosial, bahkan muncul petisi yang meminta agar dirinya tidak lagi tampil dalam program televisi.
Lantas, bagaimana rangkaian peristiwa yang membuat Ruben Onsu menjadi sasaran aksi boikot?
Berikut sejumlah fakta yang melatarbelakanginya.
Salah satu hal yang ikut memicu kontroversi adalah beredarnya rekaman video call Ruben Onsu dengan seorang pria yang diunggah oleh mantan istrinya, Sarwendah ke media sosial.
Rekaman tersebut kemudian menjadi bahan pembahasan warganet dan memunculkan beragam komentar.
Di tengah ramainya perbincangan itu, Ruben juga dikaitkan dengan laporan dugaan pencabulan sesama jenis yang diajukan sejumlah pihak ke Polda Metro Jaya pada 15 Oktober 2026.
Dalam keterangan kuasa hukum pelapor, peristiwa yang dilaporkan disebut terjadi pada 2024.
Namun, laporan baru diajukan pada 2026 karena para pelapor diklaim baru menyadari dugaan pelecehan yang mereka alami.
Kuasa hukum juga menyebut terdapat sekitar dua hingga tiga orang yang diduga menjadi korban.
Meski demikian, dugaan tersebut masih perlu dibuktikan melalui proses hukum dan tidak dapat dianggap sebagai fakta yang telah terbukti.
ini seriusan ada demo boikot ruben onsu di depan trans tv???
PENTING banget anjir di situasi kyk gini??😂 https://t.co/niNvwns8ON— txtdaripodcast (@txtruangpodcast) November 5, 2026
Polemik yang berkembang di media sosial kemudian diikuti aksi demonstrasi secara langsung.
Sejumlah orang terlihat mendatangi gedung Trans TV di Jakarta, tempat Ruben diketahui membawakan salah satu program hiburan.
Dalam dokumentasi yang beredar, para peserta aksi membawa spanduk dengan pesan yang meminta Ruben tidak lagi tampil di televisi.
Beberapa tulisan yang terlihat di antaranya jangan beri Ruben ruang di media dan KPI diminta turun tangan untuk boikot.
“Boikot Ruben Onsu.”
“Jangan beri ruang bagi Ruben Onsu di seluruh media.”
“KPI boikot RO dari Trans TV.”
Melalui spanduk tersebut, para pendemo juga menyampaikan tuntutan agar Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) memperhatikan keberatan mereka terhadap kehadiran Ruben di layar kaca.
BEGINI RESPON RUBEN ONSU SOAL DEMO BOIKOT DIRINYA DI DEPAN KANTOR TRANSTV‼️
Ruben turut menanggapi aksi sejumlah orang yang meminta dirinya diboikot dan tak diberi ruang di televisi. Sontak kejadian ini bikin publik bertanya-tanya, sebenarnya ada apa? https://t.co/jqLxif4EHk— ⋆˚✿˖° (@nurulrhmaa) November 5, 2026
Dokumentasi demonstrasi itu turut menyebar di media sosial, salah satunya melalui platform Threads.
Akun @ultragirl08 mengunggah foto dan video aksi tersebut sambil menyinggung penampilan Ruben dalam program Brownis.
“Demo depan trans tv boikot Ruben. Penasaran kmrn dia bilang apa di brownis pas live. Ada yang punya cuplikannya?” tulis akun @ultragirl08 di Threads, dikutip pada Jumat (6/11/26).
Unggahan tersebut kemudian ikut menarik perhatian pengguna media sosial.
Kolom komentar juga dipenuhi beragam pendapat, mulai dari warganet yang mendukung aksi hingga mereka yang mempertanyakan tujuan demonstrasi tersebut.
Salah satu komentar yang muncul berbunyi:
“Akhirnya masyarakat mulai sadar juga jangan beri ruang untuk pelaku penyimpangan seksual apalgi wara wiri di stasiun tv nasional Kalau @transtv_corp kapan ?????”
Namun, ada pula warganet yang mempertanyakan apakah aksi tersebut berkaitan dengan isu lain yang sedang ramai dibicarakan.
“Kalau ini digunakan buat pengalihan issue sadap dan issue karhutla…alaaahh dia siapeeee?? Host bowtea yg lg kasusin mantan istri dan bikin drama terus di media. Satu sisi bagus sih ni org di demo kayak gini. Biar stasiun TV nya melek jgn tone deaf terus dengan protes masyarakat dan tayangan yg ga afa faedahnya.”
Komentar lain justru menduga demonstrasi tersebut berpotensi mengalihkan perhatian dari persoalan berbeda.
“Bener-bener pengalihan isunya kuat banget wkwkwkw.”
Beragam komentar itu memperlihatkan bahwa aksi boikot juga memunculkan perdebatan di kalangan pengguna media sosial.
Sebelum demonstrasi di depan gedung Trans TV ramai diberitakan, desakan agar Ruben tidak lagi tampil di televisi juga sempat disampaikan melalui petisi daring.
Petisi di Change.org tersebut menggunakan judul Boikot Ruben Onsu dari pertelevisian Indonesia.
Isinya meminta KPI memperhatikan penayangan program yang menghadirkan Ruben.
Pembuat petisi turut mengangkat kekhawatiran mengenai tayangan hiburan yang dapat diakses oleh berbagai kelompok usia, termasuk anak-anak.
Petisi itu kemudian menjadi bagian dari perbincangan warganet, terutama setelah munculnya seruan boikot melalui demonstrasi.
Jumlah dukungannya bahkan sempat dibandingkan dengan petisi yang sebelumnya ditujukan kepada Sarwendah.
Perbedaan jumlah tanda tangan kedua petisi tersebut ikut menjadi bahan diskusi di media sosial.
Meski aksi demonstrasi dan seruan boikot telah menyebar di media sosial, belum terdapat informasi mengenai tindak lanjut dari pihak Trans TV maupun KPI atas tuntutan para peserta aksi dalam bahan yang tersedia.
Sementara itu, laporan dugaan pencabulan yang menyeret nama Ruben juga merupakan persoalan terpisah yang perlu mengikuti proses hukum.
Dugaan yang disampaikan pelapor masih harus diuji melalui penyelidikan dan pembuktian.