Prof Ikrar Sentil Prabowo: Dubes Tak Dilibatkan Dalam Misi Luar Negeri, Malah Teddy Yang Dibawa-Bawa!

DEMOCRAZY.ID – Analis politik sekaligus Duta Besar RI untuk Tunisia periode 2017-2021, Prof. Ikrar Nusa Bhakti, memberi tanggapan mengenai pernyataan Sekretaris Kabinet RI (Seskab) Teddy Indra Wijaya yang menyinggung masa jabatan Dino Patti Djalal sebagai Wakil Menteri Luar Negeri RI (Wamenlu) di era Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Adapun Teddy menyinggung nama Dino kala memberikan klarifikasi mengenai kritik terhadap tingginya intensitas kunjungan luar negeri Presiden RI Prabowo Subianto.

Pada Sabtu (30/5/2025) lalu, melalui unggahan di akun media sosial X (dulu Twitter) @dinopattidjalal, Dino memang sempat memberi kritik dan masukan kepada Prabowo terkait frekuensi kunjungan luar negerinya, terutama agar dikurangi intensitasnya sekaligus mempertimbangkan besarnya biayanya.

Sebagai informasi, sejak menjabat sebagai Presiden RI selama 587 hari, terhitung dari 20 Oktober 2024 hingga 30 Mei 2026, Prabowo tercatat telah melakukan kunjungan ke luar negeri sebanyak 49 kali.

Dari 49 kali kunjungan ini, terdapat 28 negara yang menjadi tujuan Prabowo yang bahkan didatangi lebih dari sekali sehingga total durasi kunjungan ke luar negeri tersebut mencapai akumulasi sekitar 95 hari.

Melalui statistik tersebut, tercatat bahwa 1 dari 6 hari yang dilalui Prabowo sebagai Presiden RI dihabiskan untuk kunjungan ke luar negeri.

Tingginya frekuensi kunjungan luar negeri Prabowo inilah yang disorot Dino Patti Djalal.

Apalagi, Prabowo sendiri juga sudah menyuarakan komitmen efisiensi, termasuk anggaran perjalanan dinas luar negeri, demi menyelamatkan keuangan negara dan menjalankan pemerintahan yang bersih..

Lalu, Teddy memberikan tanggapan terhadap kritik Dino Patti Djalal tersebut lewat video yang diunggah di laman YouTube Sekretariat Kabinet RI, Senin (1/6/2026).

Meski mengapresiasi perhatian yang diberikan oleh diplomat senior itu, Teddy justru sempat menyindir Dino yang menurutnya hanya tiga bulan menjabat sebagai Wakil Menteri Luar Negeri.

“Terima kasih atas masukan yang telah diberikan. Sangat cermat dan terstruktur. Saya pikir beliau adalah diplomat hebat, pernah menjadi wakil menteri luar negeri walau hanya diberi kesempatan sekitar tiga bulan,” ujar Teddy dalam videonya.

Kata Ikrar Nusa Bhakti

Dino Patti Djalal memang menjabat sebagai Wakil Menteri Luar Negeri RI (Wamenlu) selama kurang lebih tiga bulan, terhitung pada 14 Juli 2014 hingga 20 Oktober 2014, mendampingi Menteri Luar Negeri RI (Menlu) saat itu, Marty Natalegawa.

Masa jabatannya sebagai Wamenlu RI berakhir tepat dengan berakhirnya pula masa kepresidenan periode kedua SBY.

Namun, Ikrar menilai, pernyataan Teddy yang menyinggung masa jabatan Dino sebagai Wamenlu RI selama tiga bulan, terkesan mengecilkan peran pakar kebijakan luar negeri sekaligus putra mendiang diplomat senior Hasjim Djalal tersebut.

“Seakan-akan bahwa Dino menjadi Wakil Menteri Luar Negeri cuma tiga bulan ya,” kata Ikrar, dalam podcast/siniar yang diunggah di kanal YouTube Bambang Widjojanto, Selasa (9/6/2026).

Lantas, Ikrar menyebut ada banyak pihak yang membela Dino Patti Djalal, dengan membahas masa jabatan Bapak Pendidikan RI, Ki Hadjar Dewantara, yang juga hanya menjabat sebagai Menteri Pengajaran Indonesia selama tiga bulan, yakni pada 19 Agustus 1945 hingga 14 November 1945.

Menurut mantan Kepala Pusat Penelitian Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2P-LIPI) ini, meski masa jabatannya singkat, bukan berarti kontribusi baik Dino Patti Djalal maupun Ki Hadjar Dewantara, bisa diabaikan begitu saja.

“Makanya, tidak sedikit teman-teman yang membela, Ki Hadjar Dewantara menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan itu juga cuma 3 bulan, gitu kan?” tutur akademisi yang lahir di Jakarta, 27 Oktober 1957.

“Lalu apakah kemudian nilai dari Ki Hadjar Dewantara itu hilang?”

Selanjutnya, Ikrar menjelaskan, Dino Patti Djalal ditunjuk sebagai Wakil Menteri Luar Negeri RI karena memang untuk mengakomodasi kebutuhan SBY sebagai RI1.

Terutama yang berkaitan dengan kebijakan politik luar negeri.

Selain itu, Dino Patti Djalal juga diketahui menjadi penulis naskah pidato atau speech writer Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

“Dan Anda juga tahu ya, kenapa Dino waktu itu berhenti menjadi Wakil Menteri Luar Negeri? Karena memang kebutuhan dari Presiden SBY pada saat itu, agar Dino benar-benar berada di samping dia,” jelas Ikrar.

“Apakah itu menjadi ghost writer ataukah menjadi penasehat dengan macam-macam lah ya, karena kan kita tahu waktu itu Menteri Luar Negeri-nya, Marty Natalegawa, dan memang beliau juga sudah cukup sibuk ya dengan dengan urusan-urusan politik luar negeri.”

Ikrar yang meraih gelar doktor (Ph.D) bidang Sejarah Politik dari School of Modern Asian Studies, Griffith University Brisbane, Australia, 1992 itu lantas menilai, Dino memang ditarik dari jabatan Duta Besar RI untuk Amerika Serikat (AS) dan dipindah ke Wakil Menteri Luar Negeri RI karena memang untuk membantu memberi SBY masukan mengenai kebijakan luar negeri.

“Nah, makanya Dino tadinya menjadi duta besar kita di Washington, kemudian ditarik menjadi Wakil Menlu, dan akhirnya menjadi orang yang benar-benar dibutuhkan oleh Presiden SBY untuk memberikan masukan-masukan politik luar negeri di masa Pak SBY,” tandasnya.

Sumber: Tribun

Artikel terkait lainnya