

DEMOCRAZY.ID – Program bantuan becak listrik yang digadang-gadang sebagai solusi modern bagi para pengayuh becak kini menuai kritik tajam.
Kendaraan yang diklaim berasal dari dana pribadi Presiden Prabowo Subianto ini dilaporkan banyak yang mangkrak karena performanya yang dinilai jauh dari spesifikasi teknis yang dijanjikan.
Keluhan ini mencuat ke publik melalui media sosial, salah satunya di platform X (dahulu Twitter).
Melalui akun @daruzarmedian, terungkap bahwa becak listrik dengan nilai investasi per unit mencapai lebih dari Rp20 juta tersebut tidak mampu beroperasi optimal.
Dalam unggahannya, pemilik akun tersebut menyoroti ketimpangan drastis antara janji spesifikasi dengan kenyataan di lapangan.
Jika dalam promosi kendaraan tersebut diklaim mampu menempuh jarak hingga 50 kilometer dalam sekali pengisian daya, realitanya banyak pengguna yang mengaku becak hanya mampu bertahan sekitar 4 kilometer.
“Kondisi ini membuat becak lebih sering terparkir di rumah daripada digunakan untuk mencari nafkah,” tulis akun tersebut.
Lebih lanjut, para pengemudi becak mengeluhkan beratnya beban kendaraan saat mode listrik tidak berfungsi.
Ketika daya baterai habis, becak tersebut menjadi sangat berat untuk dikayuh secara manual, sehingga justru menambah beban fisik bagi para penggunanya yang rata-rata berusia lanjut.
👇👇
Becak di rumahku udah diganti becak listrik dengan gambar Prabowo segede gaban. Katanya, ini uang Prabowo sendiri, bukan dari uang negara.
Becak ini gak bisa dipake lebih dari 4 kilo meter (atau kurang lebih segitu). Dikit-dikit minta dicas. Padahal katanya harganya 20 juta… https://t.co/lOkBNcefBY pic.twitter.com/6bMAs3kF3J
— 𝐃𝐚𝐫𝐮𝐳 𝐀𝐫𝐦𝐞𝐝𝐢𝐚𝐧 (@daruzarmedian) June 22, 2026
Program bantuan ini diketahui telah menyalurkan sebanyak 2.303 unit becak listrik kepada masyarakat.
Pemerintah bahkan telah menetapkan target ambisius untuk mendistribusikan total 5.000 hingga 10.000 unit di seluruh wilayah.
Namun, dengan banyaknya laporan mengenai ketidaksesuaian performa ini, muncul pertanyaan besar di kalangan publik terkait transparansi spesifikasi teknis serta efektivitas penggunaan anggaran dalam program tersebut.
Hingga saat ini, belum ada keterangan resmi dari pihak terkait mengenai solusi atau langkah perbaikan atas kendala teknis yang dikeluhkan oleh para penerima manfaat.
Publik kini menunggu kejelasan mengenai nasib ribuan unit becak yang sudah terlanjur disalurkan namun justru menyulitkan penggunanya di lapangan.