Orang Arab Bawa Kapal Besar ke Sumatra Cari Tanaman Disebut Al-Qur’an

DEMOCRAZY.ID – Masyarakat Arab telah lama dikenal sebagai pedagang yang membuat mereka menjelajah berbagai kawasan.

Jangkauannya bahkan tercatat sampai ke Indonesia untuk mencari berbagai komoditas, salah satunya kapur barus.

Dalam tradisi Arab, kapur barus merupakan bagian dari sumber wewangian.

Dikenal dengan istilah kafur (kaafuur), sebagaimana termuat dalam Surat Al-Insan ayat 5 yang artinya “Sungguh, orang-orang yang berbuat kebajikan akan minum dari gelas (berisi minuman) yang campurannya adalah air kafur.”

Air kafur dijelaskan di dalamnya sebagai nama suatu mata air di surga yang airnya putih dan baunya sedap serta enak sekali rasanya.

Warga Arab Kompak Pergi ke RI Cari Tanaman Yang Disebut di Al-Quran

Para ulama menafsirkan, kaafuur memiliki arti kapur atau kamper.

Zat putih dan wangi, dikeluarkan dari dalam pohon kayu, yang biasa tumbuh di hutan-hutan pulau Sumatra.

Lebih populer lagi dengan sebutan Kapur Barus, sebagaimana dijelaskan dalam Tafsir Al-Azhar karya ulama kondang Buya Hamka, halaman 7790, sebagaimana dikutip Sabtu (25/4/2026).

Kamper yang dimaksud berbeda dengan pewangi berbentuk bulat kecil berwarna puth hasil sintesis kimia dari Naphtalene (C10H8).

Kamper atau kapur barus yang disebut di Al-Quran adalah tanaman populer di Arab bernama Latin Dryobalanops aromatica.

Tanaman ini punya ciri khas sangat wangi dan memang bisa diminum sebab menyehatkan tubuh.

Hanya saja, masyarakat Arab tak mudah memperolehnya sebab bukan tanaman asli di sana.

Alhasil, mereka harus mencari pusat tanaman kamper dan singkat cerita membawa para pedagang ke wilayah antah berantah di bumi bagian Timur. Kini, wilayah tak dikenal itu disebut sebagai Indonesia.

Tanaman Ini Dicari Dunia karena Disebut Al-Quran, Ternyata Ada di RI!

Sentra Tanaman Kamper

Arkeolog Edward Mc. Kinnon dalam Ancient Fansur, Aceh’s Atlantis (2013) menyebut, adanya jalinan perdagangan membuat orang Arab lambat laun mengetahui bahwa pusat tanaman kamper berada di Indonesia, tepatnya di Pulau Sumatra.

Secara spesifik, lokasinya berada di Fansur atau kini disebut Barus, di wilayah administrasi Sumatra Utara.

Para pedagang Arab berulang kali menyebut Barus sebagai pelabuhan penting yang mengangkut komoditas, salah satunya, adalah kamper.

Pedagang Arab, Ibn Al-Faqih, misalnya, pada era 902 sudah menyebut Fansur sebagai wilayah penghasil kapur barus, cengkih, pala, dan kayu cendana.

Lalu ahli geografi Ibn Sa’id al Magribi yang hidup di abad ke-13 juga merinci secara spesifik bahwa Fansur penghasil kamper berasal dari Pulau Sumatra.

Bahkan, jika ditarik mundur lebih jauh, ahli Romawi, Ptolemy, sudah menyebut nama Barus pada abad ke-1 Masehi.

Atas dasar ini, banyak warga Arab, khususnya para pedagang, berbondong-bondong ke Sumatra.

Mereka rela melakukan pelayaran jauh dari Arab untuk mendapatkan kamper.

Sejarawan Claude Guillot dalam Barus Seribu Tahun yang Lalu (2008) menyebut, orang Arab tiba di Barus melalui perjalanan langsung dari Teluk Persia, melewati Ceylon (Sri Lanka), lalu tiba di Pantai Barat Sumatra.

Mereka biasa membawa kapal besar untuk mengangkut banyak kapur barus yang akan dijual tinggi di pasar internasional.

Perlahan, kedatangan orang Arab ke Sumatra makin tinggi usai kamper asal Barus jadi yang bermutu tinggi mengalahkan kamper asal Malaya dan Kalimantan.

Pada titik inilah, Barus terbukti sebagai daerah penghasil kamper dan sudah berkembang jadi pelabuhan penting di Sumatra.

Muncul Agama Islam

Terungkapnya lokasi kapur barus di Indonesia membuat banyak pedagang Arab mengunjungi Barus untuk singgah hingga menetap.

Jika mereka pergi ke China, maka pasti akan singgah dulu di Barus. Hanya saja, kedatangan mereka tak cuma bermotif perdagangan, tetapi juga turut menyebarkan agama Islam.

Alhasil, terjadi Islamisasi terhadap penduduk lokal di tempat-tempat kedatangan kapal Arab, yakni Barus (Fansur), Thobri (Lamri), dan Haru.

Jejak awal Islam sudah masuk Barus diduga kuat tercatat pada abad ke-7 Masehi.

Hal ini dibuktikan dengan keberadaan kompleks makam kuno Mahligai di Barus. Di sana tertera nisan yang berasal dari abad ke-7 M.

Dari sini, muncul satu teori kedatangan Islam di Indonesia, yang tentu masih menimbulkan perdebatan.

Namun, tak melupakan fakta bahwa lambat laun terjadi proses penyebaran Islam di sana.

Terlepas dari kebenaran teori tersebut, pedagang-pedagang Muslim di Barus berhasil membentuk jaringan perdagangan yang menghubungkan dunia Arab dengan Indonesia dan membuat Tanah Air sudah terkenal sejak dahulu kala.

Sumber: CNBC

Artikel terkait lainnya