DEMOCRAZY.ID – Buku berjudul Islam Ala Prabowo belakangan menjadi perbincangan publik.
Salah satu yang ikut memberikan tanggapan yakni Sugi Nur Raharja alias Gus Nur.
Gus Nur melihat ada sejumlah hal yang membuatnya mempertanyakan latar belakang penyusunan buku yang mengulas sosok Presiden Prabowo Subianto itu.
Meski begitu, Gus Nur mengakui kesimpulannya tersebut belum tentu sepenuhnya benar.
Gus Nur menuturkan bahwa penilaiannya terhadap buku Islam Ala Prabowo merupakan kesimpulan pribadi.
Ia tidak mengklaim pandangannya sebagai kebenaran mutlak.
Namun, ia tetap meyakini ada sejumlah hal yang menurutnya patut menjadi perhatian.
“Mungkin kesimpulan saya enggak 100 persen benar, tapi insya Allah juga enggak 100 persen salah,” ujar Gus Nur, Rabu (9/9/2026).
Setelah memberikan catatan tersebut, Gus Nur kemudian menyampaikan penilaian keras terhadap isi buku yang belakangan ramai dibicarakan.
Menurut Gus Nur, buku tersebut terlalu banyak memberikan pujian kepada Presiden Prabowo.
Ia bahkan menggunakan istilah yang sangat menohok untuk menggambarkan penilaiannya.
“Intinya, buku ini adalah buku penjilat kelas dewa. Ini penjilat terlicin, termunafik, terjijik sepanjang sejarah penjilatan, dunia penjilatan,” tukasnya.
Gus Nur juga mempertanyakan apakah buku Islam Ala Prabowo benar-benar ditulis langsung oleh Prabowo.
Ia menduga buku tersebut disusun oleh sejumlah pihak lain.
Dugaan itu ia kaitkan dengan sejumlah nama dan kelompok yang menurutnya memiliki keterkaitan dengan lingkungan ulama dan pejabat.
“Oke, jadi buku ini sepertinya bukan Prabowo yang nulis,” jelasnya.
Gus Nur kemudian menjelaskan dugaan mengenai pihak-pihak yang menurutnya terlibat dalam penyusunan buku tersebut.
Kata Gus Nur, buku tersebut tampaknya merupakan hasil tulisan atau susunan beberapa orang.
“Buku ini sepertinya ditulis atau disusun oleh beberapa orang, komentar dari beberapa orang yang notabene Majelis Ulama Indonesia, yang seorang ulama, kumpulan ulama, baznas, yang juga circle-circle ulama,” imbuhnya.
Ia menyebut sejumlah unsur yang diduganya memberikan komentar atau terlibat dalam buku itu.
“Lalu pejabat-pejabat, Gus-gus, Kiai-kiai, sepertinya ada di situ,” timpalnya.
Lebih jauh, Gus Nur menyimpulkan bahwa buku tersebut menurut penilaiannya terlalu sarat dengan pujian terhadap Presiden Republik Indonesia.
Ia kembali menegaskan kritiknya terhadap buku tersebut dengan menyebutnya sebagai buku yang menurutnya sangat kuat dalam memberikan pujian kepada pejabat negara.
“Intinya kesimpulanku ini buku penjilat luar biasa, licinnya luar biasa, isinya hanya memuji-muji pejabat Presiden Republik Indonesia,” tandasnya.