DEMOCRAZY.ID – Alat pelacak rahasia buatan China ditemukan di mobil dinas Perdana Menteri (PM) Inggris.
Temuan ini terjadi empat tahun lalu, dengan alat pelacak tersebut diyakini ditemukan pada bagian kendaraan yang disegel dan diimpor dari China.
Informasi ini, seperti dilansir Daily Mail, Rabu (10/6/2026), diungkapkan oleh Charles Parton dari lembaga think-tank Council on Geostrategy, yang pernah menjadi diplomat selama hampir 40 tahun, termasuk di China, kepada para anggota parlemen Inggris pada Selasa (9/6) waktu setempat.
Penemuan alat pelacak ini terjadi selama operasi penyadapan pertama kali muncul tahun 2023, yang memicu kekhawatiran bahwa Beijing secara agresif memata-matai para menteri dalam pemerintahan Inggris yang dikuasai Partai Konservatif pada saat itu.
Kini terungkap bahwa alat pelacak itu sebenarnya ditemukan di mobil PM pada tahun sebelumnya.
“Mobil Perdana Menteri pada tahun 2022 mengirimkan data ke China melalui modul seluler,” ungkap Parton saat berbicara kepada Komite Bisnis dan Perdagangan pada parlemen Inggris. Parton pernah menjadi diplomat selama hampir 40 tahun, dengan 20 tahun di antaranya bertugas di China, Hong Kong, dan Taiwan.
Perangkat itu diduga memungkinkan mobil tersebut untuk berkomunikasi dengan pihak-pihak lainnya melalui jaringan seluler.
Tidak diketahui secara jelas PM Inggris dari Partai Konservatif yang mana pada tahun itu — antara Boris Johnson, Liz Truss, atau Rishi Sunak — yang menjadi target.
Ketika ditanya oleh anggota parlemen Inggris tentang hal ini, Parton menjawab: “Seorang anggota senior pemerintah yang pasti mengetahui mobil siapa itu telah memberitahu saya.”
Bagian mobil yang berisi perangkat geolokasi tersebut, menurut laporan pada saat itu, telah dipasang oleh pabrikan kendaraan tersebut.
Klaim Parton ini muncul dalam diskusi membahas modul seluler di parlemen Inggris, yang menurutnya “ada di mana-mana” termasuk pesawat, mobil, dan bahkan bel pintu pintar.
Sejak insiden itu, otoritas keamanan Inggris membongkar kendaraan pemerintah yang digunakan para menteri dan diplomat sembari mencari alat pelacak.
Ketika alat pelacak itu ditemukan, China membantahnya sebagai tuduhan “tidak berdasar dan hanya rumor belaka”.
“Kami sangat menentang manipulasi politik terhadap kerja sama ekonomi dan perdagangan normal atau pencemaran nama baik perusahaan-perusahaan China,” demikian pernyataan otoritas Beijing pada saat itu.
Kendaraan dinas PM Inggris diketahui dikelola oleh Kepolisian Metropolitan London atau Scotland Yard, yang enggan mengomentari laporan tersebut.
“Kami tidak berkomentar tentang masalah keamanan protektif.”
Sementara kantor PM Inggris atau Downing Street dan Kantor Kabinet juga belum memberikan tanggapannya.
Sumber: Detik