DEMOCRAZY.ID – Potongan video Rocky Gerung kembali ramai diperbincangkan di media sosial X.
Dalam video tersebut, Rocky merespons tudingan yang menyebut dirinya telah menjadi ‘antek’ Presiden Prabowo Subianto dan tidak lagi berani mengkritik pemerintah.
Tudingan tersebut disebut datang dari sejumlah kader Partai Solidaritas Indonesia (PSI).
Rocky membantah tudingan itu sekaligus menyinggung isu rumah yang disebut-sebut diberikan Prabowo kepadanya.
Dalam potongan video yang beredar, Rocky Gerung merespons tudingan bahwa sikapnya berubah setelah pemerintahan Prabowo berjalan.
Rocky bahkan menyinggung isu yang menyebut dirinya mendapatkan rumah dari Prabowo di kawasan Sentul.
“Rocky Gerung udah jadi anteknya Prabowo. Astagfirullah. Gila. Gak mampu hadapi saya, terus dia (tuduh) antek,” ujar Rocky menirukan tudingan tersebut, Senin (14/9/2026).
Ia kemudian membantah isu bahwa dirinya memperoleh rumah dari Prabowo.
“Rocky Gerung dapat rumah dari Prabowo di Sentul. Memang rumah saya 200 meter dari Prabowo,” tukasnya.
Rocky menegaskan dirinya bahkan sudah tinggal di kawasan tersebut sebelum Prabowo.
“Bahkan lebih dulu dari Prabowo. Ini otaknya di mana nih anak-anak ini? Tolol, tolol,” tegas Rocky.
Dalam responsnya, Rocky juga menyinggung label ‘penganggur’ yang selama ini kerap disematkan kepadanya.
Menurut Rocky, tidak memiliki pekerjaan formal bukan berarti seseorang tidak memiliki penghasilan atau tidak dapat menjalani kehidupan.
“Saya penganggur, orang yang tidak punya pekerjaan, pasti tidak punya uang, tidak punya uang,” tutur Rocky.
“Penganggur itu bukan tidak punya pekerjaan, dari masa itu sudah menganggur, masih hidup, saya tidak pernah kerja,” lanjutnya.
Ia kemudian mengkritik pola pikir yang menurutnya terlalu menyederhanakan persoalan berdasarkan pekerjaan dan kepemilikan barang.
“Jadi kepicikan itu datang di situ. Oke, kamu pakai mobil double cabin, itu dapat dari oligarki. Nah, gue dari SMA, gue bawa mobil,” imbuhnya.
Rocky kemudian membandingkan hal tersebut dengan para pejabat yang menurutnya baru memiliki kendaraan setelah menduduki jabatan.
“Jadi apa masalahnya itu? Yang mesti ditakdir menteri-menteri, kau misalnya baru punya mobil. Gue punya mobil baru,” tuturnya.
“Lo bukan punya mobil baru, lo baru punya mobil, tadinya kere, gila nih orang-orang,” tambahnya.
Lebih jauh, Rocky menilai kebijakan yang tidak tepat dapat menghambat kemampuan masyarakat maupun negara untuk menghasilkan sesuatu.
“Bagaimana kebijakan itu menghambat kita untuk menghasilkan, ketidakmampuan melihat arah sejarah menyebabkan Republik kehilangan arah,” tandasnya.
Rocky menilai kritik terhadap pemerintah juga harus memiliki arah yang jelas, bukan sekadar kemarahan terhadap berbagai persoalan.
“Semua oposisi marah ke segala arah, marah ke segala arah artinya marah tanpa arah,” pungkasnya.
👇👇
Bung @rockygerung
Anda ngomong ngalor ngidul kesana kemari tapi gak nyambung dengan persoalan.
Yg dipertanyakan orang kenapa anda mendukung program MBG yg jelas jelas jadi lahan korupsi dan sudah banyak makan korban keracunan.
Anda juga mendukung kopdes merah putih… pic.twitter.com/0Sk6pRLhi3
— Edy Bayo Regar (@regar_op0sisi) September 14, 2026
Di tengah riuhnya dinamika politik yang sering dibumbui persepsi “lawan vs kawan”, momen ini justru jadi tamparan halus bagi banyak pihak yang gemar menyederhanakan kritik sebagai permusuhan.
Rocky Gerung, yang selama ini dikenal vokal dan tajam dalam menguliti kebijakan… pic.twitter.com/9cOvdzHtKY
— BP™ (@BangPino__) April 27, 2026