Denny Indrayana Sentil Gibran Soal Ijazah SMA: Kalau Memang Ada, Kenapa Nggak Pernah Berani Tunjukkan ke Publik?

DEMOCRAZY.ID – Mantan Wakil Menteri Hukum dan HAM Denny Indrayana menyebut Wakil Presiden Gibran Rakabuming sudah lama menunjukkan ijasah SMA-nya. Jika memang punya.

Hal tersebut, kata Denny, berdasar pada sikap Gibran sebelumnya. Saat menunjukkan ijazah sarjananya.

“Kalau ijazah SMA itu ada, maka saya rasa sejak ini mulai dimunculkan, Mas Wapres sudah menunjukkan. Sebagaimana beliau menunjukkan ijazah S1-nya,” kata Denny dikutip dari YouTube Forum Keadilan TV, Rabu (12/8/2026).

Menurutnya, Gibran patut diacungi jempol. Jika dibanding dengan ayahnya, Presiden ke-7 Jokowi, dalam hal menunjukkan ijazah.

“Dalam hal nunjukkan ijazah ini, Mas Wapres lebih patut diacungi jempol, diteladani daripada sang ayah Jokowi,” ucapnya.

“Jadi Pak Jokowi harus belajar dari Mas Wapres,” sambungnya.

Namun hingga saat ini, kata Denny, Gibran belum menunjukkan ijazahnya. Sehingga indikasi bahwa Gibran tak punya ijazah SMA menguat.

“Tapi fakta sampai sekarang ijazah SMA itu belum ditunjukkan, ini kan menguatkan indikasi betul bahwa barang ini ada atau tidak,” ucapnya.

Padahal, Denny sudah mengeluarkan sayembara sudah beberapa hari sebelumnya.

“Saya sudah mengeluarkan ini sudah beberapa hari. Belum juga muncul,” ujarnya.

Menurutnya, ada beberapa hal kenapa dia menggelar sayembara Rp100 juta untuk yang bisa menunjukkan ijazah SMA gibran.

“Kenapa saya akhirnya mengambil langkah ini? Satu, secara logika ketatanegaraan, sata bisa uraikan panjang lebar tentang syarat pendidikan yang ada dalam undang-undang Pemilu,” ungkapnya.

Selain itu sebagai gerakan moral.

“Dua, ini harus jadi gerakan moral, sosial, supaya tidak kemudian terkesan personal,” imbuhnya.

Pada intinya, dia mengaku tak punya masalah dengan Gibran secara pribadi.

“Secara pribadi saya menghormati Mas Wapres. Tapi ini persoalan negara, di mana kita butuh memverifikasi syarat wapres sesuai syarat calon wakil presiden yang diatur dalam konstitusi dan undang-undang kita,” terangnya,

“Karena itu, gerakan ini jadi sayembara sebagai salah satu metode untuk kita bersama-sama melakukan kontrol,” sambungnya.

Artikel terkait lainnya