Bocor ke Publik! Draft Perdamaian Terbaru Iran-AS Selipkan Ketentuan Tak Biasa, Apa Itu?

DEMOCRAZY.ID – Stasiun televisi pemerintah Iran, IRIB baru-baru ini melaporkan draft tidak resmi dari kesepakatan ‘Kespemahaman Islamabad’ mengungkap beberapa hal penting.

Mulai dari rencana terkait pengamanan Selat Hormuz hingga pencairan dana milik Iran yang selama ini dibekukan di luar negeri.

Namun kesepakatan tersebut hingga kini masih dalam tahap pembahasan dan belum disahkan.

Melansir laman Anadolu Agency, Senin 1 Juni 2026 berikut ini detail draf yang dimaksudkan di atas.

1. Ketentuan terkait Selat Hormuz

Berdasarkan draf yang dilaporkan media pemerintah, Iran akan memiliki hak penuh untuk menentukan kapal mana yang bolej melintas di Selat Hormuz.

Kapal yang dianggap membawa muatan atau memiliki tujuan akhir yang dianggap memusuhi Iran tidak akan dianggap sebagai kapal komersial dan bisa dilarang melewati jalur tersebut.

Draf tersebut juga disebut akan memberikan Iran hak atas jalur pelayaran, biaya layanan navigasi, pengaturan keamanan hingga kompensasi yang berkaitan dengan kerusakan lingkungan.

Selain itu, setiap kapal yang akan melewati Selat Hormuz diwajibkan memberikan informasi rinci mulai dari daftar muatan, data kepemilikan, dan tujuan akhir perjalanan kepada otoritas Iran.

Nantinya informasi tersebut akan digunakan untuk menentukan apakah kapal tersebut memenuhi syarat untuk bisa melintas atau tidak.

2. Aset yang Dibekukan dan Jaminan Akses Dana

Bagian penting lainnya yang ada dalam draf tersebut berkaitan dengan pencairan aset Iran yang selama ini dibekukan di luar negeri.

Dalam skema yang diusulkan, Amerika Serikat akan memungkinkan Iran mengakses dana beku senilai 12 miliar dolar AS atau setara Rp 213,88 triliun dalam waktu 60 hari.

Dana itu disebut dapat dipindahkan dan digunakan melalui bank-bank yang ditunjuk Iran tanpa pembatasan.

Secara terpisah, anggota tim negosiasi ekonomi Iran, Hossein Ghorbanzadeh, mengatakan bahwa pembahasan dalam kunjungan terbaru ke Qatar banyak difokuskan pada upaya memastikan dana yang telah dicairkan tidak dapat dibekukan kembali.

Dalam wawancara dengan televisi pemerintah Iran, Ghorbanzadeh menjelaskan bahwa para negosiator menghabiskan waktu berjam-jam untuk membahas mekanisme teknis dan keuangan yang dirancang guna menjamin akses berkelanjutan terhadap dana tersebut.

“Isu paling penting adalah bagaimana kami bisa memastikan bahwa setelah aset-aset ini dicairkan, aset tersebut tidak akan dibekukan kembali melalui keputusan atau instruksi baru,” ujarnya.

Menurut Ghorbanzadeh, tim negosiasi Iran menilai skema yang sedang dibahas berbeda dari mekanisme pencairan aset sebelumnya karena mencakup sejumlah perlindungan yang bertujuan memastikan Iran tetap dapat mengakses dana tersebut dalam jangka panjang.

Delegasi tingkat tinggi Iran yang dipimpin Ketua Parlemen Mohammad Bagher Qalibaf mengunjungi Doha pada awal pekan ini sebagai bagian dari upaya diplomatik yang dimediasi Pakistan untuk mengakhiri konflik antara Teheran dan Washington.

Menurut Kantor Berita Tasnim, Iran menuntut pencairan aset beku senilai 12 miliar dolar AS atau setara RP 213,88 triliun sebagai bagian dari kemungkinan kesepakatan dengan Amerika Serikat.

Selain itu, Teheran juga meminta tambahan 12 miliar dolar AS lainnya ditransfer dalam waktu 60 hari setelah perjanjian ditandatangani.

Sumber: VIVA

Artikel terkait lainnya