DEMOCRAZY.ID – Ketua Umum GRIB Jaya Hercules Rosario de Marshall mengaku heran namanya ikut masuk dalam daftar pihak yang diduga menjadi target penyadapan bersama Presiden Prabowo Subianto dan sejumlah pejabat negara.
Alih-alih merasa khawatir, Hercules justru menanggapi kabar tersebut dengan santai.
Ia bahkan menganggap dirinya semakin terkenal karena ikut menjadi sasaran penyadapan.
Hal itu disampaikan Hercules saat ditemui di Polda Metro Jaya, Kamis (5/11/2026).
“Lalu, yang tadi… saya kemarin lihat. Wah, saya juga masuk apa urutan nomor 25 ya? Wah, ini aku makin hebat aja ini aku ya. Ha? Aku ikuti disadap juga. Presiden disadap, petinggi-petinggi pemerintah disadap, termasuk Hercules disadap juga,” kata Hercules.
Ia mengaku tidak habis pikir mengapa dirinya ikut menjadi sasaran penyadapan.
Menurutnya, ia bukan pejabat negara ataupun pihak yang mengelola perusahaan milik negara.
“Saya bukan pejabat negara. Saya bukan mengelola perusahaan negara, bidang negara. Ya, saya bukan cawe-cawe hukum atau cawe-cawe apa hadap-hadap menteri, minta-minta proyek,” ujarnya.
Hercules juga menegaskan dirinya tidak pernah berurusan dengan pihak kementerian untuk meminta proyek.
“Kalau menteri ada yang lihat aku minta-minta proyek, bikin komentar. Aku datangi kantornya. Dan aku enggak pernah berurusan dengan yang namanya plat merah. Enggak,” ucapnya.
Meski mengaku heran, Hercules mengatakan tidak merasa terganggu apabila dirinya memang disadap.
“Kalau Hercules yang disadap ya biarin aja. Hercules sudah biasa, jangan disadap. Apalagi mau disadapkan gitu loh. Jadi enggak pusing kalau saya sendiri disadap,” katanya.
Hercules justru mengaku bangga karena namanya ikut menjadi perhatian dalam polemik tersebut.
“Ya, orang enggak ada kerjaan itu, aku ketawain itu lho. Tapi ya bangga juga sih aku makin terkenal aja, ya kan?” tuturnya.
Namun, Hercules membedakan sikapnya apabila penyadapan tersebut menyasar Presiden Prabowo.
Ia menilai dugaan penyadapan terhadap kepala negara dan sejumlah pejabat pemerintahan merupakan persoalan serius yang tidak boleh dibiarkan.
Ia pun menyebut tindakan tersebut sebagai bentuk pengkhianatan terhadap bangsa dan negara.