WADUH! Rumah Jokowi Tiba-Tiba Digeruduk Massa: Protes Soal Budi Arie, Geng Solo, Haus Kekuasaan

DEMOCRAZY.ID — Suasana kawasan Sumber, Banjarsari, Solo, mendadak bergemuruh manakala barisan massa dari Aliansi Rakyat Indonesia Bergerak (ARIB) merangsek mendatangi kediaman pribadi mantan Presiden ke-7 RI Joko Widodo.

Kedatangan mereka bukan untuk bertamu, melainkan membawa misi pengiriman “surat peringatan keras” beserta plakat khusus yang disimbolkan sebagai teguran moral atas manuver politik sang mantan kepala negara.

Aksi unjuk rasa tersebut sontak memantik perhatian publik lantaran dipenuhi atribut visual dengan narasi-narasi tanpa kompromi.

Massa membentangkan berbagai poster berukuran besar yang menyoroti tajam dugaan cengkeraman kekuasaan, di antaranya bertuliskan “Jokowi Jongos Oligarki”, “Jokowi Power Syndrome”, “Jokowi dan Dinasti Haus Kuasa”, hingga desakan “Bubarkan Geng Solo dan Dinasti Jokowi”.

Tak ketinggalan, poster berbunyi “Jokowi Melanggar Konstitusi”, “Jokowi Pembohong”, serta “Jokowi Perusak PDIP” turut mewarnai barisan aksi.

Kritik di Balik Pernyataan Makar Budi Arie

Koordinator Lapangan ARIB, Bangun Sutoto, membeberkan bahwa inisiatif aksi turun langsung ke Solo dipicu oleh akumulasi kekecewaan mendalam atas dinamika politik mutakhir.

Salah satu pemicu utamanya adalah kemunculan pernyataan kontroversial ihwal indikasi makar yang sempat dilontarkan oleh Budi Arie Setiadi, di mana posisi Jokowi tertangkap basah duduk mendampingi di sisi sebelah kiri.

Bagi massa aksi, sikap diam atau keterlibatan terselubung dalam pusaran narasi tersebut tidak bisa dibiarkan begitu saja tanpa ada koreksi publik dari anak bangsa.

“Kami ingin menyampaikan sepucuk surat dan satu buah plakat untuk Bapak Jokowi karena menurut kami Bapak Jokowi belum lama ini duduk di sebelah kiri saudara Budi Arie yang menyampaikan indikasi adanya makar. Karena itu kami sebagai anak bangsa mewakili seluruh rakyat Indonesia tidak bisa tinggal diam,” ujar Bangun, dikutip Jumat (11/9/2026).

Kendati membawa muatan kritik pedas yang menohok, penyerahan surat peringatan dan plakat filosofis berbahasa Jawa tersebut akhirnya tidak dapat dilakukan secara langsung bertatap muka dengan sang pemilik rumah.

Penyerahan atribut protes itu terpaksa diwakilkan kepada aparat Paspampres yang berjaga di ring pengamanan kediaman.

Meski demikian, Bangun menegaskan bahwa gerakan moral tersebut dilandasi oleh prinsip etika ketimuran untuk tetap memanusiakan seseorang kendati substansi kritiknya sangat keras.

“Karena itu kepada bapak kami memanusiakan bapak sebagai manusia, kalau orang Jawa bilang nguwongke uwong. Karena itu kami mengingatkan bentuk kepedulian kami kepada negara dan juga kepada Bapak Jokowi. Karena itu kami berikan surat peringatan sekaligus plakat filosofi dalam bahasa Jawa ini,” terangnya.

Ketegangan di Gang Kutai Utara

Situasi di lapangan sempat meruncing ketika massa pengunjuk rasa bergerak mendekati area Gang Kutai Utara.

Di titik tersebut, kedatangan mereka disambut oleh kelompok lain yang diidentifikasi sebagai barisan pendukung Jokowi, memicu gesekan tensi emosional di antara kedua kubu.

Beruntung, kesigapan aparat keamanan yang diterjunkan ke lokasi berhasil meredam potensi benturan fisik dan melokalisir wilayah agar tidak pecah menjadi kericuhan massal.

Selepas situasi kembali kondusif, barisan ARIB melanjutkan agenda penyampaian aspirasi secara tertib tanpa bergeser dari koridor tuntutan awal mereka agar sang mantan penguasa berhenti melakukan intervensi politik.

“Kami datang untuk kedamaian, kami minta Pak Jokowi cinta NKRI. Jadi kami datang untuk kedamaian, bukan keonaran,” pungkas Bangun menegaskan.

Artikel terkait lainnya