Pesan Moral atau Cermin Retak? Pidato Jokowi di Hadapan Warga Malaysia: Pemimpin Harus Dengar Suara Rakyat!

DEMOCRAZY.ID – Mantan Presiden Indonesia Joko Widodo atau Jokowi menegaskan bahwa fondasi membangun perdamaian bermula dari kesediaan pemimpin dan rakyat untuk saling mendengar serta memahami.

Pernyataan itu disampaikan Jokowi saat memberikan pidato pada pembukaan Dialog Perdamaian Penang di Georgetown, Malaysia.

Menurut Jokowi, pemimpin tidak cukup hanya memahami strategi dan kekuasaan.

Seorang pemimpin juga harus mampu mendekati masyarakat, mendengar keluhan, memahami kekhawatiran, serta bekerja untuk masa depan rakyat.

“Dialog ini adalah kesempatan yang luar biasa untuk berbagi gagasan dan belajar satu sama lain, agar perbedaan tidak menjadi penyebab perpecahan, tetapi membuka ruang kerja sama demi mencapai perdamaian dan masa depan yang lebih baik,” kata Jokowi seperti dikutip dari Berita Harian.

Presiden ke-7 Jokowi saat ditemui.

Jokowi menilai peran pemimpin menjadi semakin penting dalam menghadapi berbagai tantangan.

Kepemimpinan, kata Jokowi, harus dibangun dengan pemahaman terhadap kondisi masyarakat.

“Seorang pemimpin bukan hanya seseorang yang memahami strategi dan kekuasaan, tetapi seseorang yang benar-benar memahami rakyatnya. Mendengar keluhan mereka, merasakan kekhawatiran mereka, memahami masalah mereka, dan bekerja demi masa depan mereka,” ujarnya.

Jokowi mengatakan upaya menciptakan perdamaian tidak hanya menjadi tanggung jawab pemimpin.

Masyarakat juga memiliki peran penting dengan memahami arah dan tantangan yang dihadapi para pemimpinnya.

Menurut dia, pemahaman tersebut dapat memperkuat semangat masyarakat.

Kepercayaan kepada pemimpin juga akan mendorong munculnya dukungan terhadap berbagai upaya menjaga keamanan dan perdamaian.

“Ketika rakyat memahami, semangat akan bertambah. Ketika rakyat percaya, dukungan akan menyusul. Ketika pemimpin dan rakyat benar-benar saling memahami, di situlah fondasi perdamaian terbentuk,” kata Jokowi.

Jokowi menyebut Dialog Perdamaian Penang menjadi wadah penting bagi para peserta untuk bertukar gagasan, belajar dari pengalaman satu sama lain, dan membangun kerja sama.

“Perdamaian selalu lahir dari hati yang bersedia mendengar, keberanian untuk memahami, serta harapan yang tinggi terhadap perdamaian,” ujarnya.

Ketua Menteri Penang Chow Kon Yeow turut hadir dalam acara tersebut.

Ia mengatakan Penang memiliki posisi unik sebagai lokasi dialog karena sejarah wilayah tersebut dibentuk oleh pertemuan berbagai budaya, bahasa, agama, masyarakat, dan aktivitas perdagangan selama berabad-abad.

Menurut Kon Yeow, perdamaian tidak hanya berarti tidak adanya konflik.

Perdamaian juga berarti kemampuan masyarakat yang berbeda untuk hidup dan berkembang bersama.

“Bagi saya, perdamaian bukan sekadar ketiadaan konflik. Perdamaian adalah kemampuan berbagai masyarakat untuk bekerja dan hidup makmur bersama di tengah segala perbedaan,” kata Kon Yeow.

Artikel terkait lainnya