DEMOCRAZY.ID – Media Singapura CNA menyinggu 2 WNI sempat terang-terangan bergabung menjadi tentara bayaran Rusia sebelum laporan ada 8 warga negara Indonesia lainnya yang diduga menjadi korban penipuan rekrutmen kerja yang berujung pada pendaftaran diri sebagai tentara bayaran Rusia.
Informasi mengenai dugaan keterlibatan ini berawal dari data resmi yang dirilis oleh pihak intelijen Ukraina.
Kementerian Luar Negeri Indonesia perlu segera memastikan keabsahan dokumen imigrasi dan visa para WNI tersebut.
Kementerian Luar Negeri Ukraina meluncurkan temuan ini setelah mendeteksi adanya pola rekrutmen tentara asing secara masif oleh pihak Kremlin.
Indonesia kini masuk dalam daftar negara berkembang yang warga negaranya disasar untuk kebutuhan tenaga kerja militer.
Laporan Badan Intelijen Luar Negeri Ukraina (FISU) menyebutkan para WNI awal mulanya dijanjikan pekerjaan sipil dengan imbalan finansial yang sangat menggiurkan.
Namun, alih-alih mendapatkan pekerjaan non-tempur, mereka justru dimasukkan ke dalam jajaran pasukan angkatan bersenjata.
Dokumen visa dan migrasi milik delapan WNI tersebut telah dipublikasikan secara terbuka oleh FISU pada akhir Agustus.
Identitas para WNI tersebut mencakup Yuda Putra Pratama (29), Haryanto Dwi Kencana (43), Erwanda (38), Ngangun Hudri Fadli (47), Muhammad Syaripudin (32), M Hadi Maulana (39), Wahyu Oktavian Iskandar (40), serta Helmi Nuraha Hakim (43).
Pihak intelijen Ukraina membeberkan bahwa Kremlin menawarkan kompensasi finansial tinggi, pekerjaan non-kombatan, hingga proses kewarganegaraan cepat.
Berbagai fasilitas sosial menarik juga diiming-imimkan untuk memikat pendaftar dari puluhan negara.
“Mereka sering kali bahkan tidak tahu ke mana sebenarnya mereka akan dikirim. Sebagian besar dari mereka berakhir di garis depan tanpa pelatihan, dan beberapa tewas hanya dalam beberapa minggu pertama,” tulis FISU, dikutip dari CNA.
Pola penipuan lowongan kerja seperti ini sebelumnya telah memakan korban dari warga negara Nepal, Kuba, Kenya, dan India.
Banyak warga asing yang awalnya berniat mencari nafkah justru terjebak dalam konflik bersenjata tanpa persiapan matang.
Laporan dari Center for Strategic and International Studies (CSIS) mencatat korban tewas militer Rusia diperkirakan mencapai 450.000 orang sejak invasi skala penuh dimulai.
Angka tersebut merupakan bagian dari total 1,4 juta kerugian personel tentara Rusia hingga pertengahan tahun ini.
Berbeda dengan Korea Utara yang mengutus ribuan tentara resminya, warga dari negara lain umumnya tergiur oleh tawaran tawaran kerja sipil.
Hingga kini belum diketahui pasti berapa jumlah korban yang murni tertipu dan berapa yang secara sadar mendaftar sebagai tentara bayaran.
Pihak FISU menilai ukuran populasi Indonesia yang besar menjadi daya tarik tersendiri bagi target rekrutmen tenaga kerja murah.
Kebutuhan personel militer Rusia yang terus meningkat membuat jangkauan rekrutmen diperluas ke berbagai wilayah baru.
Selain untuk menutupi kekurangan prajurit di medan tempur, kedatangan warga asing ini juga dimanfaatkan untuk kebutuhan pencitraan media.
Kehadiran personel dari berbagai negara dipakai untuk menunjukkan kesan bahwa Rusia mendapat dukungan internasional dalam perang tersebut.
Di sisi lain, korban jiwa di pihak militer Ukraina juga menembus angka 125.000 hingga 150.000 orang tewas berdasarkan kalkulasi CSIS.
Total kerugian personel Ukraina diperkirakan mencapai kisaran 525.000 hingga 625.000 orang.
Masih dituis CNA, temuan delapan WNI ini menambah panjang daftar warga Indonesia yang sebelumnya pernah terdeteksi bergabung dengan militer Rusia.
Kasus-kasus terdahulu melibatkan mantan anggota institusi keamanan nasional yang keluar dari kesatuannya.
Kasus pertama melibatkan Satria Arta Kumbara, seorang mantan anggota Marinir TNI AL yang dipecat karena desersi pada tahun 2022.
Keberadaannya di Rusia mulai terungkap ke publik setelah rekaman video dirinya memakai seragam militer Rusia beredar luas di platform TikTok.
Satria mengaku nekat berangkat ke Rusia demi mencari penghasilan untuk menyambung hidup.
Dalam unggahan berikutnya, ia sempat meminta bantuan Presiden Prabowo Subianto dan pemerintah agar bisa dipulangkan ke Tanah Air.
Kondisi Satria memburuk setelah video lain memperlihatkan dirinya terluka akibat serangan drone dan mortir di garis depan pertempuran.
Sejak peristiwa evakuasi tersebut, tidak ada lagi pembaruan informasi mengenai kondisinya di media sosial.
Kasus kedua melibatkan Muhammad Rio, seorang mantan anggota Satuan Brimob Polda Aceh yang menghilang tanpa izin dari tugas resminya.
Rio membagikan foto dan video yang memperlihatkan dirinya telah bergabung dengan kelompok tentara bayaran Wagner.
Dalam komunikasinya dengan rekan-rekan di kesatuan lama, Rio mengaku mendapat imbalan uang muka sebesar 2 juta rubel atau sekitar 25.000 dolar AS.
Ia juga mengklaim menerima gaji bulanan sebesar 210.000 rubel atau setara 2.600 dolar AS selama bertugas.