Sinyal Politik 2029! Prabowo ‘Tutup Pintu’ Pilih Gibran Jadi Cawapres di Pilpres 2029?

DEMOCRAZY.ID — Panggung politik nasional kembali bergemuruh menyusul manuver politik tingkat tinggi yang memperlihatkan keretakan tajam di lingkaran kekuasaan.

Analis Kebijakan Publik, Muhammad Said Didu, secara blak-blakan menilai bahwa Presiden Prabowo Subianto telah menutup pintu rapat-rapat bagi Gibran Rakabuming Raka untuk kembali berpasangan dengannya pada kontestasi Pilpres 2029 mendatang.

Analisis Penolakan dan Sinyal Keretakan Politik

Menurut Said Didu, indikasi paling nyata dari tertutupnya peluang tersebut terlihat dari sikap Presiden Prabowo yang hingga kini sama sekali tidak merespons proposal politik pihak tertentu yang menginginkan Gibran kembali menduduki posisi calon wakil presiden.

Ia juga menyoroti insiden penataan ulang posisi duduk Gibran saat rapat kabinet beberapa waktu lalu yang dipindahkan menjadi sejajar dengan para menteri koordinator, alih-alih berada di samping kepala negara.

“Prabowo tutup pintu dua periode bersama Gibran. Kalau mau, tidak mungkin tempat duduknya (Gibran) digeser,” ujar Said Didu saat mengulas dinamika tersebut melalui saluran media publik.

Langkah ini dianalisis sebagai sinyal kuat adanya pergeseran relasi serta keretakan hubungan antara kubu istana saat ini dengan lingkaran Solo.

Makin Tersisih! Tak Lagi Disamping Prabowo, Kursi Wapres Gibran Kini Sejajar Menteri di Sidang Kabinet, Gak Dianggap Lagi

Sorotan Terhadap Intervensi dan Prosedur Protokoler

Lebih lanjut, Said Didu menyoroti respons yang sempat dilontarkan oleh Presiden ke-7 RI Joko Widodo terkait polemik posisi duduk putranya di kabinet yang dinilai tidak sesuai protokoler.

Ia berpandangan bahwa seorang mantan pemimpin seharusnya bersikap lebih bijak dengan tidak mengomentari urusan teknis internal kabinet yang sepenuhnya menjadi kewenangan Sekretariat Kabinet.

“Aturan protokoler ditentukan Setkab. Kalau Gibran (ditempatkan) duduk di belakang, boleh. Tidak ada yang salah,” tegasnya.

Kritik tajam ini semakin memperkuat asumsi publik bahwa tensi politik di tingkat elite terus meningkat seiring dengan dinamika persiapan konstelasi politik jangka panjang menuju tahun 2029.

[FULL VIDEO]

Artikel terkait lainnya