Dokter Tifa Bongkar ‘Cara Kilat’ Ungkap Ijazah Palsu Jokowi Tanpa Harus Repot Libatkan Tim Labfor

Signature: xnCEBaciEMPNlMPdRnx3tfGwhdwdRm6ID7v9A16RJjvhGWcANRXCr4cR996UHYd4cqxhB94Cw4KuYlBmM+ix+H3SOdFQjjk4X3oRhyp2rbPFPVGVDePYEqUURkgo/PffDGK5r0nArdgc4f/b4W/3fizKLuIz1X7VOc8a43eweFfKcGo1JBMcTvVxjg3T2AVCKEom9g0toshiZ2YTe/FZrz67Ld3kkfppz7QTDSs9uM9zOEpnjAKTLi9wD2NEz4RDwBgfWQAgP1id69PyLpUtIQ4K0jqPjzpMsq1s5d73tm7ql/8XOvPkzKVjs5bWRJAt4BBG5ZLmxCuF/firJ9WpR6sJc/0PR0awvos9Y4Bt0D2nGjO4kpjYw6CFYD0en89135AGVBNhSq3qCx9Ffh3Y7yivd44aOT/pBstSty9/SWxdzLpZMoXpde4XnYYaOx9rMCx12vzJnRzNVvdHqg7yidNRcomNpMMsZykC3ux5tKIHRCsEM8iLsOC6CgTSz6uLeldHWY+oLwIqcLFFvbXbLS3bcdRm+rx+sJeGUDhXwgWm34O9MYRWnA10o27XjuPcogaZ/MvqPmxY+9VnD9IDAoCbzxGckGrnRE3y9pnOsTbybFOBpiUTNYPQJAynTBfGuynXvfuJpBmMNyCXB15S70tUtd62TcXqoVnbn0U0iLMo3c2kZBM2nGcLcsnAA/zXeLCJygfQT0THRT47IvvGuKHtMnrZQ21aMEx6qrQllT6U2PkTolgFTe1P7W4r/8z5MMuo7pANFNoI3CwVw7cFd+sJmlEM69nri2NljRbPP0PWemV01nBEEjEKACSC0xxyrMHFsBU6eD3uBaL1liGp8sED1rmpEYg+yBVsnYeqC3IQnODefl1sK7Uu/JoKUKSP7fgSgDS91VdJxKeVSkzYxBLaxVOcQ0W+ys/hDtj6qjL7HN/I2A1ybCsYdxC33Od0aP12TurfbZ323a0F6L+JdPN0V0xRBoVN9kz7YMXqn8E=

DEMOCRAZY.ID – Tifauzia Tyassuma atau Dokter Tifa kembali menyampaikan pandangannya mengenai polemik dugaan ijazah Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi).

Di tengah proses hukum yang sedang dihadapinya, Tifa mengklaim keaslian maupun dugaan kepalsuan sebuah ijazah dapat diuji tanpa harus menggunakan pemeriksaan laboratorium forensik (Labfor).

Klaim Pembuktian Ijazah Tidak Sulit

Menurut Tifa, pembuktian keaslian dokumen dapat dilakukan melalui analisis yang telah dilakukan timnya selama lebih dari satu tahun.

“Ijazah itu gampang. Mau dibuktikan palsu atau asli itu gampang, enggak usah pakai Labfor, dengan kasat mata,” ujar Tifa, Selasa (4/8/2026).

Ia mengatakan keyakinannya tersebut didasarkan pada penelitian yang telah berlangsung sekitar 450 hari.

“Kami diuntungkan dengan 450 hari, di mana betul-betul melakukan pengkajian dan penelitian,” katanya.

Saat ditanya mengenai dokumen yang akan dijadikan barang bukti di persidangan, Tifa menyebut salah satunya adalah buku alumni yang diklaim sebagai dokumen autentik.

Menurutnya, pada awal polemik bergulir, buku tersebut sempat dijadikan rujukan oleh pihak yang berbeda pandangan.

“Ini buku alumni, autentik, asli. Dulu justru dijadikan bukti karena di halaman 280 ada nama Joko Widodo,” ujarnya.

Namun, ia mengatakan timnya tidak berfokus pada nama yang tercantum dalam dokumen tersebut.

Sebaliknya, analisis diarahkan pada karakteristik visual yang menurutnya menjadi bagian dari metode identifikasi.

“Yang kami lihat bukan namanya, tetapi kumis, kacamata, bentuk rahang, dan jarak mata,” tuturnya.

Menurut Tifa, metode tersebut merupakan bagian dari protokol analisis yang digunakan timnya.

Kemukakan Hipotesis Soal Data Pendidikan

Tifa mengatakan polemik yang berkembang saat ini masih berada pada tahap hipotesis dan belum menjadi kesimpulan akhir.

Ia kemudian menyoroti informasi mengenai asal sekolah yang tercantum dalam dokumen yang dianalisis timnya.

“Saya belum bilang ini tesis, masih hipotesis. Kalau di sini tertulis asal SLTA Jokowi adalah SMA 6 Yogyakarta,” katanya.

Berdasarkan hal tersebut, Tifa mengaku muncul dugaan yang menurutnya perlu ditelusuri lebih lanjut.

“Berarti ada dua Joko Widodo. Jadi investigasinya harus ditelusuri lagi,” ujarnya.

Ia mengatakan penelusuran akan dimulai dari data pendidikan di SMA 6 Yogyakarta hingga proses penerimaan mahasiswa baru Universitas Gadjah Mada (UGM) pada tahun angkatan terkait.

“Mulai dari SMA 6 Yogyakarta, kami akan mencari data di dinas pendidikan. Lalu ditelusuri juga pada 1980 UGM menerima berapa mahasiswa bernama Joko Widodo,” tuturnya.

Di akhir pernyataannya, Tifa kembali mempertanyakan identitas yang menurutnya perlu diklarifikasi.

“Ada dua Joko Widodo. Yang satu mengaku alumni SMA 6 Surakarta, sementara di sini ada eviden SMA 6 Yogyakarta. Nah, yang mana ini yang jadi presiden?” pungkasnya.

Artikel terkait lainnya