Oleh: Ahmad Khozinudin, SH
Jalan pintas untuk memeras rakyat agar negara cepat mendapatkan cuan, adalah dengan menaikan harga BBM. Jalan ini lebih praktis, langsung cuan, bahkan bisa dieksekusi tengah malam.
Berbeda dengan pajak. Untuk mendapatkan cuan melalui pajak, pemerintah harus melakukan sejumlah kegiatan yang panjang dan bertele-tele, sejak membuat kebijakan (peraturan), pelaksanaan, hingga evaluasi. Rakyat juga masih bisa menghindari, dengan memanfaatkan sejumlah kebijakan perpajakan.
Kalau BBM? Simple. Tinggal buat SK, langsung diterapkan oleh Pertamina. Duit rakyat langsung diambil dari kantong mereka, melalui harga BBM yang dinaikan.
BBM adalah barang primer, tidak bisa di subtitusi. BBM juga dimonopoli, sehingga rakyat tak bisa menghukum pasar, dan memaksa harga BBM turun, dengan membeli BBM ditempat lain, atau mengganti BBM dengan air sumur.
Andaikan, ada pemain SPBU dari Iran, dan menjual BBM dengan harga setara di Iran yakni seharga kisaran USD 0,03 per liter atau setara dengan Rp480 hingga Rp500 per liter, maka rakyat ga peduli pertamina naikan harga BBM.
Rakyat tinggal beli BBM di SPBU Iran. Pertamina silahkan jual Pertamax Rp 16.250 bahkan hingga Rp. 30.000 per liter, ga ada soal. Paling SPBU Pertamina menjadi kuburan, sepi pembeli.
Hari ini, Pertamax naik hingga 4000 per liter menjadi 16.250, jelas membuat panik dan susah rakyat.
Dan dalih bahwa BBM bersubsidi tidak naik (pertalite), rakyat tidak perlu panik, itu merupakan penyesatan opini. Apalagi, omongan yang menyebut hanya orang kaya yang terdampak.
Penjelasannya sebagai berikut:
1. Pertama, yang mengkonsumsi BBM jenis Pertamax itu bukan hanya orang kaya, melainkan juga mayoritas rakyat hingga Abang Abang ojek online. Alasannya ada dua, pertama karena ingin memelihara mesin (motor/mobil) dengan kualitas bensin yang bagus. Kedua, ogah ngantri BBM pertalite di SPBU.
2. Kedua, saat Pertamax naik, kendaraan jenis mobil tidak bisa otomatis pindah ke BBM subsidi (pertalite). Karena sebelumnya pemerintah telah memagari konsumsi pertalite dengan kartu BBM subsidi.
Kendaraan yang tak punya kartu BBM subsidi, tidak bisa migrasi ke pertalite dengan alasan Pertamax naik. Mereka, terpaksa minum Pertamax meski leher mereka tersedak karena harus membayar harga jauh lebih mahal.
3. Ketiga, kendaraan motor yang biasa konsumsi Pertamax pada akhirnya tidak bisa beralih ke pertalite bukan karena tak boleh beli. Akan tetapi, tak mau dibuat pusing mengantri pertalite di SPBU. Akhirnya, terpaksa minum Pertamax meski leher mereka tersedak karena harus membayar harga jauh lebih mahal.
4. Keempat, kepastian stok BBM subsidi jumlahnya berapa hanya Allah SWT dan pemerintah yang tahu. Rakyat tak bisa ngontrol, dan hanya bisa dipaksa mengonsumsi pertalite yang disediakan Pertamina.
Jika akhirnya, pertalite akan bernasib seperti premium, hilang dari peredaran, atau stoknya dikurangi, mulai langka di SPBU Pertamina, mulai ramai pemberitahuan di SPBU dengan tulisan “BBM subsidi pertalite kosong, sedang dalam pengiriman” maka pada akhirnya seluruh rakyat dipaksa minum Pertamax yang harganya sudah dinaikan 4000 per liter.
Itu artinya, kenaikan harga Pertamax berlaku untuk seluruh rakyat.
Pemerintah secara sistematis dan masif, menjarah kantong rakyat dengan mengambil harga lebih mahal saat rakyat beli bensin, tanpa rakyat bisa menghukum dengan mengganti pertalite atau Pertamax mereka dengan air sumur.
Rakyat tak bisa menghukum pasar yang dikendalikan pemerintah, rakyat terpaksa ikut aturan, dijarah uang mereka melalui kenaikan harga BBM, karena tak ada SPBU Iran atau alternatif lainnya yang menjual BBM murah meriah.
Jadi, jangan sok bela pemerintah dengan dalih yang naik hanya Pertamax. Jangan sok bela pemerintah, dengan dalih BBM subsidi masih harga lama. Pertamax naik, itu dampaknya mengimbas kepada seluruh rakyat. ***