DEMOCRAZY.ID – Musibah besar biasanya meninggalkan dua hal sekaligus, yakni kehilangan dan harapan.
Kehilangan tampak nyata dalam bentuk rumah yang rusak, harta benda yang hilang, atau dokumen yang hanyut terbawa arus.
Namun harapan sering kali hadir dalam bentuk yang lebih sunyi, tersimpan dalam doa-doa yang terus dipanjatkan meski keadaan tampak mustahil.
Itulah yang dialami sejumlah calon jemaah haji asal Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh.
Ketika banjir bandang menerjang daerah mereka beberapa bulan lalu, sebagian besar warga lebih sibuk menyelamatkan diri dan keluarga dibanding memikirkan rencana keberangkatan ke Tanah Suci.
Namun siapa sangka, di tengah lumpur yang menutupi rumah dan berbagai kesulitan pascabencana, panggilan Allah SWT justru datang dan akhirnya dapat mereka penuhi.
Senja mulai turun di Asrama Haji Embarkasi Aceh, Banda Aceh, pada 18 Mei 2026.
Di salah satu kamar Gedung Madinatul Hujjaj, seorang perempuan lanjut usia duduk di tepi kasur sederhana sambil merapikan mukena putih yang baru dikenakannya. Wajahnya tampak tenang. Sorot matanya teduh.
Perempuan itu adalah Aisyah (75 tahun), calon jemaah haji asal Desa Air Tenang, Kecamatan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang.
Setelah berwudhu, ia bersiap menuju masjid untuk menunaikan shalat Maghrib berjamaah.
Namun langkahnya tertahan ketika Kepala Kantor Kementerian Haji Kabupaten Aceh Tamiang, Abdul Aziz, datang bersama sejumlah awak media.
“Sebentar Andung, ini mau diwawancarai sebentar, mau tanya-tanya boleh ya,” ujar Abdul Aziz.
Aisyah tersenyum dan kembali duduk. Di balik senyum itu tersimpan kisah panjang tentang ujian hidup yang baru saja dilaluinya.
Enam bulan sebelumnya, banjir bandang menerjang Aceh Tamiang.
Bencana yang membawa lumpur dan ribuan batang kayu tersebut meninggalkan kerusakan besar serta memaksa banyak warga memulai kehidupan dari awal.
Aisyah menjadi salah satu penyintasnya. Meski demikian, ia tidak pernah berhenti berharap dapat memenuhi panggilan menuju Baitullah.
“Alhamdulillah, dapat panggilan Allah SWT tahun ini ke Tanah Suci. Rezeki itu Allah yang kasih,” katanya.
Rumah yang ditempatinya hingga kini masih mengalami kerusakan akibat banjir. Bahkan, ia masih tinggal di bagian dapur yang dianggap paling layak untuk dihuni.
Kondisi itu sempat membuatnya khawatir. Tabungan yang selama ini dipersiapkan untuk melunasi biaya haji hilang terbawa banjir.
Sementara sisa biaya yang harus dibayarkan mencapai sekitar Rp17 juta.
“Sebelumnya pikir tidak jadi berangkat. Ya Allah SWT panggil aku ya Allah, masalah dana aku memang tidak ada, mudahkanlah,” ujarnya mengenang doa yang terus dipanjatkannya.
Dalam banyak kisah kehidupan masyarakat Aceh, keluarga selalu menjadi benteng pertama saat musibah datang.
Hal itu pula yang dialami Aisyah. Ketika harapan mulai menipis, anak dan cucunya hadir membantu seluruh kebutuhan keberangkatan, termasuk melunasi sisa biaya haji.
“Cucu yang bantu. Cucu mengatakan ‘Andung berangkat, dana ada’ katanya, akhirnya diberikan oleh cucu lunaskan setoran haji,” katanya.
Kisah Aisyah menunjukkan bahwa keberangkatan haji bukan hanya perjalanan spiritual individu, melainkan juga perjalanan kolektif sebuah keluarga yang bersama-sama mengantarkan anggota keluarganya memenuhi panggilan Allah SWT.
Pengalaman serupa dialami Basariah (43), warga Desa Bukit Tempurung, Kecamatan Kota Kuala Simpang.
Bersama suami dan kakak iparnya, ia telah menunggu antrean haji selama 15 tahun.
Tahun ini mereka hanya berstatus sebagai jemaah cadangan. Karena itu, kesempatan berangkat yang akhirnya datang terasa seperti hadiah yang tidak pernah diduga sebelumnya.
“Ternyata Allah SWT sayang dengan kami. Allah kasih anugerah kami yang terindah walaupun kami cadangan, hari ini Alhamdulillah berangkat juga ke Tanah Suci,” katanya.
Beberapa bulan sebelumnya, keluarga Basariah hampir menjadi korban banjir bandang.
Saat air meluap, ia bersama suami dan anaknya yang berusia sembilan tahun harus menyelamatkan diri dengan memanjat ke atas genteng rumah.
“Kami memanjat genteng, saya bersama suami dan anak yang berumur sembilan tahun,” ujarnya.
Mereka bertahan selama tiga hari sebelum akhirnya dievakuasi menggunakan perahu.
Sampai sekarang rumah mereka belum sepenuhnya pulih. Lumpur masih menutupi sebagian bangunan sehingga keluarga itu sementara tinggal di rumah mertua.
Di tengah kesulitan ekonomi dan kerugian akibat banjir, persoalan biaya haji kembali menjadi tantangan.
Namun sekali lagi, keluarga menjadi penyelamat.
“Alhamdulillah untuk pelunasan biaya haji mertua yang bayar. Bahkan, di saat seperti ini, mertua juga membantu biaya membersihkan rumah kami yang dipenuhi lumpur banjir,” kata Basariah.
Kisah tersebut menunjukkan satu pelajaran penting. Musibah memang dapat menguji kekuatan ekonomi seseorang, tetapi sering kali juga memperlihatkan kekuatan hubungan keluarga yang selama ini tidak terlihat.
Tidak sedikit penyintas banjir yang kehilangan seluruh dokumen penting mereka.
Imran Khalid (47), warga Kampung Landuh, Kecamatan Rantau, mengaku sempat kebingungan karena berbagai berkas miliknya hilang diterjang banjir.
“Surat menyurat entah bagaimana rusaknya dan hilang. Tapi Alhamdulillah Pemerintah Aceh Tamiang, Kanwil Haji di kabupaten dan panitia haji membantu kami, sehingga kami bisa berangkat,” ujarnya.
Di sinilah pelajaran strategis yang jarang mendapat perhatian publik muncul.
Di balik keberangkatan para jemaah penyintas banjir, terdapat peran penting sistem pelayanan haji yang terintegrasi secara nasional.
Menurut Kepala Kantor Kementerian Haji Kabupaten Aceh Tamiang, Abdul Aziz, sebagian besar jemaah memang mengalami kehilangan dokumen.
Namun data mereka tetap tersimpan melalui Sistem Komputerisasi Haji Terpadu (Siskohat).
“Pemerintah punya sistem yang bagus yaitu Siskohat, sehingga berkasnya masih ada, tinggal di-print saja bukti-buktinya, termasuk tahun mendaftar dan nomor kursi para calon jemaah bisa kita ambil kembali,” katanya.
Keberadaan sistem digital tersebut membuktikan bahwa modernisasi pelayanan publik tidak sekadar urusan administrasi, tetapi dapat menjadi penyelamat harapan masyarakat ketika bencana datang.
Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang melalui Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil juga membantu menerbitkan kembali dokumen kependudukan yang hilang, mulai dari KTP, kartu keluarga hingga akta kelahiran.
Bahkan terdapat satu fakta menarik yang kemudian dianggap sebagai bagian dari ikhtiar yang berbuah keselamatan.
Beberapa pekan sebelum banjir datang, Kantor Kementerian Haji Aceh Tamiang telah mengumpulkan paspor para calon jemaah.
Paspor-paspor tersebut disimpan di lantai dua kantor.
Ketika banjir melanda, seluruh dokumen itu selamat.
“Alhamdulillah semua paspornya selamat. Ini sudah rencana dari Allah SWT semua,” kata Abdul Aziz.
Ia mengaku sangat terharu karena seluruh jemaah yang mendapat panggilan haji akhirnya dapat berangkat meski daerah mereka baru saja diterpa musibah besar.
“Waktu manasik, Bupati Aceh Tamiang sampai meneteskan air mata ketika mengetahui 100 persen jemaah bisa berangkat. Saya juga sangat terharu,” ujarnya.
Wakil Bupati Aceh Tamiang, Ismail, menitipkan harapan khusus kepada para jemaah.
Ia meminta mereka mendoakan agar daerah tersebut segera pulih dari dampak bencana.
“Kami sangat mengharapkan doa dari bapak ibu para jemaah di Makkah, di tempat yang mustajab, agar dapat mendoakan Aceh Tamiang ini cepat pulih kembali. Artinya, pulih lebih cepat, bangkit lebih kuat,” katanya.
Permintaan itu bukan sekadar formalitas. Dalam tradisi masyarakat Aceh yang religius, doa dari Tanah Suci memiliki makna spiritual yang sangat kuat.
Ia menjadi simbol harapan kolektif bagi daerah yang sedang berjuang bangkit dari luka bencana.
Kini, setelah menyelesaikan rangkaian ibadah haji, Aisyah, Basariah, Imran Khalid dan para penyintas lainnya akan kembali ke kampung halaman.
Lumpur mungkin belum sepenuhnya hilang. Sebagian rumah masih menunggu perbaikan. Kehidupan masih harus ditata kembali dari awal.
Namun mereka pulang dengan membawa sesuatu yang tidak dapat dihanyutkan banjir: keyakinan.
Kisah para jemaah Aceh Tamiang ini mengajarkan bahwa bencana memang dapat menghanyutkan rumah, harta benda, bahkan dokumen penting.
Tetapi musibah tidak selalu mampu menghanyutkan harapan.
Justru di saat manusia merasa kehilangan segalanya, Allah SWT sering kali menunjukkan jalan yang tidak pernah disangka-sangka.
Sebagaimana diyakini para penyintas itu sendiri, panggilan menuju Baitullah pada akhirnya bukan ditentukan oleh kuatnya harta, utuhnya rumah, atau lengkapnya dokumen, melainkan oleh izin dan kehendak Allah SWT.
“Insya Allah,” kata Imran, “doa dari Tanah Suci akan mendapat ridha dan diijabah oleh Allah SWT.”
Sumber: Inilah