HEBOH! Konspirasi Besar Berakhir, Tasik Ngaji Telanjangi Status Agama Abu Janda, Publik Melongo Lihat Fakta Aslinya

DEMOCRAZY.ID – Sebuah video dari kanal Tasik Ngaji ramai beredar di media sosial.

Video itu membahas identitas keagamaan pegiat media sosial Permadi Arya atau Abu Janda.

Isinya memunculkan kembali potongan unggahan lama dari forum internet Kaskus hingga pernyataan-pernyataan Abu Janda di ruang publik.

Video tersebut diunggah dengan narasi “terbongkar” dan menyebut adanya dugaan bahwa Abu Janda pernah mengaku sebagai mantan muslim, mantan Kristen, hingga free thinker.

Narasi itu diambil dari tangkapan layar akun bernama “Seraf” di forum Kaskus.

Dalam video berdurasi sekitar sembilan menit itu, pembuat konten juga menampilkan sejumlah cuplikan lama Abu Janda.

Mulai dari pernyataannya saat berada di gereja, hingga dokumentasi ketika berada di Yerusalem.

Pembuat video menduga akun “Seraf” di Kaskus adalah milik Abu Janda.

Dugaan itu didasarkan pada foto profil dan sejumlah unggahan yang dianggap berkaitan dengan Permadi Arya.

Namun, hingga kini belum ada pernyataan resmi maupun verifikasi langsung dari Abu Janda terkait klaim tersebut.

Video itu juga menyinggung aktivitas Abu Janda di media sosial yang kerap mengomentari isu agama.

Pembuat konten menilai Abu Janda sering mengkritik Islam ketika ada kasus yang melibatkan oknum muslim.

👇👇

Narasi dalam video kemudian memicu beragam reaksi warganet. Sebagian mempercayai isi video tersebut.

Sebagian lain meminta publik lebih hati-hati menerima informasi yang bersumber dari unggahan lama media sosial dan forum internet.

Hingga Jumat, 29 Mei 2026, belum ada klarifikasi resmi dari Permadi Arya alias Abu Janda terkait isi video yang beredar tersebut.

Akun media sosial pribadinya juga belum memberikan tanggapan atas tudingan yang muncul.

Pengamat media digital mengingatkan masyarakat agar tidak langsung menyimpulkan identitas maupun keyakinan seseorang hanya berdasarkan potongan video, tangkapan layar, atau unggahan lama di internet.

Verifikasi dan konfirmasi tetap menjadi prinsip utama sebelum mempercayai sebuah informasi yang viral di media sosial.

Sumber: Herald

Artikel terkait lainnya