DEMOCRAZY.ID – Ketua DPP Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Bestari Barus menuding PDI-P masih sakit hati ditinggal oleh Presiden ke-7 Joko Widodo (Jokowi).
Bestari menduga hal inilah yang membuat PDI-P terus-menerus mengungkit Jokowi dipecat partai pada 2024 lalu.
Menurut Bestari, Jokowi tidak dipecat oleh PDI-P, melainkan keluar dengan kesadaran diri saja.
“Ya memang salah satu orang keluar itu kan dengan kesadaran sendiri, dengan mencuekin partainya juga bisa. Ya kemudian supaya (PDI-P) enggak kalah malu, bilangnya (Jokowi) dipecat gitu,” ujar Bestari saat dihubungi, Minggu (14/6/2026).
“Kenapa mesti bangga kemudian terlepas gitu loh Pak Jokowi itu dari partai itu, dari partai PDI-P itulah. Kenapa mesti bangga gitu? Kehilangan, sakit hati yang luar biasa, tidak dapat pengganti yang selayak Jokowi. Sekaliber Jokowi itu tidak ada, langka di partai itu. Calonnya kalah mulu kecuali Pak Jokowi calon presidennya,” sambungnya.
Bestari mengatakan, PDI-P sedang merasakan kekecewaan yang sangat luar biasa karena tidak mampu menjaga kadernya sendiri.
Bestari pun meminta PDI-P untuk belajar lagi cara menjadi partai yang waras, bisa menjaga kader, menjaga kedamaian, dan patut menjadi contoh.
“Kalau hari ini kan dia enggak bisa jadi contoh lagi karena omongannya busuk terus gitu. Sampaikan kepada PDI-P saya bersimpati atas rasa sakit yang mendalam. Saya cuma bisa bersimpati, tidak bisa ber-Indosat karena Indosat sudah dijual,” tukas Bestari.
Lebih jauh, Bestari mengungkit Jokowi merupakan sosok yang pernah mengangkat PDI-P begitu tinggi.
Dia pun heran kenapa Jokowi kini malah dipermalukan, diremehkan, dan dikuyo-kuyo.
“Perhatikan Pak Jokowi, tidak pernah dia menjelek-jelekkan PDI-P tuh, tapi PDI-P sepertinya menjelek-jelekkan kepedean gitu, menjelek-jelekkan Pak Jokowi,” ucapnya.
Sementara itu, Bestari menyayangkan PDI-P yang mengaku partai besar, tapi kerap mengeluarkan statement yang tidak berkelas.
“Hanya gini, sangat disayangkan yang katanya partai itu besar ya, partai besar tapi kok tidak dalam hal terkait dengan Pak Jokowi itu kok sangat tidak berkelas, kosong, dan low level gitu loh dalam menyikapinya gitu ya. Dan tidak tahu balas budi juga gitu. Coba berapa menterinya waktu itu diangkat oleh Pak Jokowi itu? Banyak itu, banyak. Masa enggak nikmat sih? Penikmat diberikan kenikmatan begitu kenikmatannya dicabut, terkaing-kaing kan begitu,” imbuh Bestari.
Sebelumnya, politikus PDI-P Guntur Romli menegaskan bahwa Presiden ke-7 Joko Widodo (Jokowi) sudah dipecat dari PDI-P. Guntur menyebut, kala itu, Jokowi dipecat lantaran melanggar konstitusi, AD/ART, dan aturan partai.
Hal tersebut Guntur sampaikan dalam merespons Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang akan menjadikan Jokowi sebagai Dewan Pembina PSI.
Adapun PSI ingin Jokowi mengingatkan masyarakat untuk menyampaikan bahwa dirinya sudah bukan di PDI-P lagi.
“Jokowi bukan hanya tidak lagi bersama PDI Perjuangan, tapi Jokowi sudah dipecat oleh PDI Perjuangan, bersama Gibran, Bobby dan 27 orang lainnya pada Desember 2024, karena pelanggaran konsitusional, pelanggaran terhadap AD/ART dan peraturan partai. Jadi Jokowi bukan keluar dari PDI Perjuangan atau mundur, tapi dipecat karena pelanggaran,” ujar Guntur, Minggu (14/6/2026).
Guntur menyampaikan, berhubung Jokowo sudah dipecat, maka bukan urusan PDI-P terkait ayah Gibran Rakabuming Raka itu ingin berpartai lagi atau tidak.
Dia turut mengingatkan para pendukung Jokowi yang tidak mau Jokowi disebut sebagai petugas partai di masa lalu.
“Cuma mau mengingatkan dulu pendukung Jokowi tidak mau Jokowi disebut ‘petugas partai’ saat bersama PDI Perjuangan, itu ejekan katanya. Maka dengan Jokowi masuk partai hanya untuk kepentingan elektoral partai itu, artinya ludah dijilat di sini,” jelasnya.
“Bedanya ‘petugas partai’ Jokowi sebagai orang partai (PDI Perjuangan) ditugaskan untuk kepentingan rakyat dan negara. ‘Jongos partai’ Jokowi sebagai orang partai (PSI) hanya bekerja untuk kepentingan elektoral partai itu saja,” imbuh Guntur.
Sumber: Kompas