Dokter Tifa & Amien Rais Kompak Deklarasikan Perlawanan: Makzulkan Gibran, Selamatkan Prabowo!

DEMOCRAZY.ID – Pernyataan pegiat media sosial, Tifauzia Tyassuma atau yang akrab disapa Dokter Tifa kembali jadi sorotan publik.

Kali ini Ia menyoroti kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto bersama Gibran Rakabuming Raka.

Sontak, pernyataan tersangka kasus tudingan ijazah Jokowi palsu itu memantik perhatian publik lewat akun X pribadinya nya, Minggu (14/6/2026).

Dokter Tifa secara blak-blakan menyuarakan gerakan politik ekstrem yakni mempertahankan posisi Presiden Prabowo Subianto, namun mendesak pemakzulan terhadap Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang ia sebut dengan julukan satir “Fufufafa”.

Uniknya, narasi tajam Dokter Tifa ini bergulir sembari menyematkan video pernyataan tokoh Reformasi 1998, Amien Rais, yang pasang badan demi menjaga stabilitas politik nasional dengan meminta mempertahankan Prabowo hingga 2029.

Dalam unggahannya, Dokter Tifa mengaku sepakat dengan pandangan Amien Rais untuk memberikan kesempatan bagi Prabowo memimpin hingga akhir masa jabatan pada 20 Oktober 2029.

Ia bahkan mengutip filosofi dari musisi sekaligus pemikir Sabrang Mowo Damar Panaluan (Noe Letto) untuk memperkuat posisinya dalam mengkritik kabinet saat ini.

“Jangan turunkan Prabowo. Tapi makzulkan Gibran Fufufafa. Saya sepakat dengan Prof Amien Rais,” kata Tifa.

“Terhadap Pemerintahan saat ini, saya sependapat dengan Sabrang: Kalau Pemerintah jahat, kita lawan. Kalau Pemerintah bodoh, kita tolong,” tulis Dokter Tifa.

Pernyataannya memicu perdebatan dan menarik perhatian netizen di kolom komentar.

Di sisi lain, Amien Rais selaku Ketua Majelis Syuro Partai Ummat memiliki alasan yang jauh lebih konstitusional.

Lewat kanal YouTube resminya, mantan Ketua MPR RI ini “mengancam” sekaligus mengingatkan seluruh elemen bangsa agar tidak mencoba-coba menggulingkan pemerintahan pusat di tengah jalan.

Menurutnya, ritme pergantian kekuasaan per lima tahun adalah amanat sakral UUD 1945.

Amien menilai, sebuah pemerintahan hanya boleh jatuh jika terjadi pelanggaran luar biasa, seperti pengkhianatan negara atau skandal moral yang fatal.

Di luar itu, Prabowo harus diberi waktu yang adil untuk mengeksekusi delapan program prioritas “Asta Cita” demi menghindari luka sejarah masa lalu.

“Mengingat pengalaman politik kita di masa lalu, 6 tahun ada lima presiden bergonta-ganti dan semuanya menguras energi nasional kita, maka Presiden Prabowo kita beri kesempatan yang adil,” cetus Amien.

Realitas Hukum Tata Negara dan Sentilan Gaya Hidup

Meski publik di akar rumput kerap menyuarakan kekesalan terhadap polemik akun “Fufufafa” yang menyeret nama Gibran, Amien Rais secara realistis mengakui bahwa jalur pemakzulan di Indonesia adalah hal yang hampir mustahil.

Berdasarkan Pasal 7B UUD 1945, mekanismenya teramat rumit dan membutuhkan restu berlapis dari DPR, Mahkamah Konstitusi, hingga MPR.

Dengan konstelasi kepemimpinan parlemen saat ini yang didominasi koalisi pemerintah, wacana mendepak Gibran dari kursi wapres dinilai Amien sebagai riak politik yang sulit terwujud.

Namun, dukungan Amien kepada Prabowo bukan berarti tanpa syarat.

Mengabaikan formalitas politik, Amien menyentuh sisi sensitif dengan mengkritik gaya hidup para elite di tengah gelombang PHK massal dan lesunya pasar tradisional.

Ia meminta Presiden dan jajaran menteri menghentikan segala bentuk selebrasi mewah dan aksi “joget-joget” di depan publik yang dinilai mencederai empati rakyat.

Jika peringatan ini diabaikan dan tekanan ekonomi kian mencekik, Amien khawatir keresahan sosial dapat memicu gerakan massa (people power) yang jauh lebih beringas dibanding tragedi 1998.

Sumber: Tribun

Artikel terkait lainnya