DEMOCRAZY.ID – Pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang mengaku akan tetap memantau bawahannya dari atas apabila kelak dipanggil Tuhan mendadak viral di Media Sosial (Medsos).
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS), Nurmadi H. Sumarta, menyebut pernyataan tersebut justru memunculkan kesan lain.
Kesannya, Presiden Prabowo belum memahami secara utuh ajaran agama terkait kehidupan setelah kematian.
Dikatakan Nurmadi, dalam seluruh ajaran agama, kematian menjadi batas yang memisahkan manusia dari urusan duniawi.
Yang tersisa hanyalah amal dan pertanggungjawaban atas perbuatan selama hidup.
Nurmadi mengaku heran dengan pernyataan Prabowo yang menyebut masih akan mengawasi para pembantunya dari atas setelah meninggal dunia.
“Seolah semua kesalahan ada di anak buah. Tampak bahwa Prabowo tidak paham agama,” ujar Nurmadi, Selasa (16/6/2026).
Ia menegaskan bahwa tidak ada jabatan maupun kekuasaan yang dibawa setelah seseorang meninggal dunia.
“Semua agama juga mengajarkan, setelah mati hanya amal kebaikan dan dosa yang akan dibawa,” Nurmadi menuturkan.
“Kematian seseorang akan memisahkan dari kehidupan dunia. Bahkan jabatan tidak dibawa mati, tidak kekal, semua akan ditinggalkan dan dilanjutkan mereka yang masih hidup,” tambahnya.
Lebih jauh, Nurmadi mempertanyakan tujuan dari pernyataan tersebut jika memang dimaknai secara harfiah.
“Terus kalo bisa monitor mau ngapain? Mau marah atau joget gemoy?,” cetusnya.
Ia menyebut yang lebih penting bagi seorang pemimpin adalah memaksimalkan pengabdian selama masih diberi kesempatan memimpin.
“Yang dirasakan rakyat ekonomi semakin buruk, kondisi semakin susah, jauh dari rasa adil dan sejahtera. Kalo mau lakukan yang terbaik ya sekarang waktunya,” timpalnya.
Nurmadi juga menyinggung respons masyarakat di media sosial yang ramai membahas pidato Prabowo tersebut.
Menurutnya, banyak publik menilai ucapan itu tidak tepat disampaikan oleh seorang kepala negara.
“Banyak netizen melihatnya aneh, bukan lelucon, tidak pantas bahkan ngelantur,” sesalnya.
“Dalam pidato Prabowo seolah akan masih punya kuasa, turun dan monitor kehidupan dunia,” sambung dia.
Nurmadi berujar, gestur maupun cara penyampaian Presiden dalam merespons kritik publik seharusnya dilakukan dengan lebih bijak.
“Gestur dan ucapan nyinyir seorang pemimpin terhadap rakyat yang mengkritik, seolah provokatif dan tidak sepantasnya disampaikan dengan cara seperti itu,” tegasnya.
“Banyak komentar miring bahkan video tanggapan atas pidato tersebut,” tambahnya.
Nurmadi mengingatkan bahwa seorang pemimpin semestinya mampu mendengarkan kritik masyarakat secara terbuka dan menjadikannya sebagai bahan evaluasi.
“Sebagai seorang pemimpin Prabowo dan contoh mestinya mendengar dengan cermat setiap kritik rakyat, merespon dengan baik dan santun,” imbuhnya.
Kata dia, kritik publik tidak perlu dihadapi dengan sikap defensif yang justru memperpanjang polemik.
“Bukan provokatif seolah melawan kritik dan membiarkan pro kontra semakin jadi dan meluas,” bebernya.
Nurmadi bilang, sebagai pemimpin mestinya Prabowo bisa merangkul dan menjelaskan dengan baik respon dan tindakan positif ataupun upaya perbaikan.
Lebih jauh, ia turut menyoroti berbagai persoalan ekonomi yang menurutnya masih dirasakan masyarakat saat ini.
“Investasi menurun, industrial banyak tutup dan terjadi PHK menambah pengangguran. Lapangan kerja semakin sulit, daya beli menurun,” tandasnya.
Ia menyebut sejumlah indikator ekonomi yang dibanggakan pemerintah belum sepenuhnya sejalan dengan kondisi di lapangan.
“Banyak infrastruktur jalan dan sekolah di daerah rusak parah. Bahkan beberapa daerah tidak mampu membayar gaji PPPK,” kuncinya.
Sumber: Fajar