DEMOCRAZY.ID – Mantan Menteri Keuangan (Menkeu) Indonesia, Rizal Ramli mengungkap fakta menarik terkait Kereta Cepat Jakarta-Bandung (Woosh).
Seperti yang diketahui, Kereta Cepat Jakarta-Bandung atau woosh ini sedang jadi polemik.
Dimana, akar yang menjadi permasalahan dari semua ini adalah utang Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) Jakarta-Bandung (Woosh) yang ditolak dibayar menggunakan APBN.
Dan akhirnya soal proyek ini pun semakin menjadi polemik yang berkepanjangan.
Terbaru, ada Rizal Ramli yang mengungkap fakta menarik soal proyek ini.
Lewat cuitan di akun media sosial X pribadinya, Mantan Menkeu itu menyebut awalnya ada penolakan soal proyek kereta cepat ini.
Yang dimana, hanya ada saran perbaikan rel dan jembatan KA Jkt-Bandung bisa dicapai kecepatan 150 Km.
“Ya betul kita waktu itu menolak. Cukup perbaiki rel, jembatan KA Jkt-Bandung bisa dicapai kecepatan 150 Km,” tulisnya dikutip Rabu (22/10/2025).
Dengan melakukan perbaikan itu disebut dapat melalukan penekanan anggaran yang digunakan.
“Dengan biaya 1/3 dari KA cepat, yang harusnya berhenti di 3 stasiun sehingga kecepatannya juga hanya sekitar 150 Km,” ungkapnya.
Hanya saja, menurut Rizal saran tersebut ditolak demi kepentingan China.
Dan saran dari para Menteri pun diabaikan saat itu.
“Tapi demi kepentingan RRC, keberatan Menteri-Menteri diabaikan,” terangnya.
Ekonom senior, Rizal Ramli anggap logika pemerintah terbalik dengan mematikan KA Parahyangan demi Kereta Cepat Jakarta Bandung.
“KA Parahyangan milik negara (BUMN PT KAI) dan bersejarah,, ditutup dan dikorbankan demi KA Jkt-Bdg yg majoritas dimiliki China .. Wes wolak-walik logika ne,” turur Rizal Ramli dalam akun twitter pribadinya, @RamliRizal, Jumat (02/12).
Hal tersebut menanggapi cuitan dari akun @ferly_norman yang mengunggah foto KA Parahyangan, “Ini KA Parahyangan baru saya photo di Stasiun Bandung Pak @msaid_didu … 9 gerbongnya penuh penumpang… Betul-betul Zalim Menteri Luhut ini,” ujarnya
Sebelumnya Said Didu mencuitkan, “Demi China, apapun dilakukan. Sekalian aja Tol Jakarta – Bandung ditutup.”
Seperti diketahui, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan memastikan bahwa KA Argo Parahyangan akan ditutup.
Hal ini menyusul proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) yang akan beroperasi Juni 2023.
“Ya [akan ditutup],” ujar Luhut menjawab pertanyaan kumparan soal apakah betul kereta tersebut bakal ditutup, saat ditemui di The Ritz-Carlton Pacific Place, Selasa (29/11).
“Nanti kita lihat,” sambungnya saat dikonfirmasi lagi.
Pembangunan proyek KCJB, kata Luhut, sudah mencapai 80,41 persen.
Penyelesaian kereta modern itu akan dikebut agar bisa jalan sesuai rencana.
Panjang lintasan Kereta Cepat Jakarta-Bandung mencapai 143,2 km.
Dengan empat stasiun di dalamnya yakni Stasiun Halim, Stasiun Karawang, Stasiun Padalarang, dan Stasiun Tegalluar.
Berdasarkan data PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC), target penumpang kereta ini bisa mencapai 31.125 orang orang dalam sehari.
Menurut Pengamat Kebijakan Publik Agus Pambagio, target tersebut sulit dicapai.
Kereta cepat harus bersaing dengan KA Argo Parahyangan yang selama ini menjadi andalan transportasi publik warga ke Bandung dari Stasiun Gambir, Jakarta.
Tak hanya Argo Parahyangan, kereta cepat juga harus bersaing dengan jalan tol yang selama ini juga menjadi pilihan para pengendara mobil pribadi, bus, atau mobil travel untuk ke Bandung, lewat Tol Jagorawi dan Tol Cipularang.
Agus melihat bukan tidak mungkin KA Argo Parahyangan ditutup.
“Saya melihat pasti akan ada perintah dimatikan Argo parahyangan atau tutup jalan tol,” kata Agus kepada kumparan, Kamis (17/11).
Selama ini KA Argo Parahyangan menjadi andalan warga Jabodetabek untuk ke Bandung, begitupun sebaliknya, lantaran harga tiket yang terjangkau.
Di Traveloka, harga tiket KA Parahyangan dibanderol dari Rp 100 ribu untuk kelas ekonomi dan Rp 140 ribu untuk kelas eksekutif.
KA Argo Parahyangan mampu mengangkut 8.300 hingga 11.000 penumpang setiap hari dengan jumlah perjalanan hingga 10 kali pulang pergi. Waktu tempuhnya 3 jam dengan jarak 166 km.
Diakui Agus, waktu tempuh KA Argo Parahyangan memang lama, 3 jam. Beda dengan yang ditawarkan kereta cepat, hanya 40 menit.
Namun, kereta cepat proyek kebanggaan Jokowi dan Luhut ini tidak berhenti di pusat kota Bandung seperti Argo Parahyangan.
Penumpang hanya akan berhenti di stasiun terakhir yaitu Padalarang dan harus menyambung lagi dengan transportasi lain untuk bisa sampai ke pusat Bandung.
Belum lagi harga tiketnya Rp 150 ribu hingga Rp 350 ribu.
“Kalau naik mobil pun lewat tol dengan biaya tol Rp 500 ribu, satu mobil bisa empat orang dan bisa bersantai. Sementara kereta cepat, meski hanya 40 menit, untuk jalan ke Stasiun Halim saja bisa makan waktu sejam. Lalu nanti di Padalarang, menyambung lagi dengan transportasi lain,” ujarnya.
Kalau pun Argo Parahyangan tak ditutup, Agus yang sejak 2016 menolak kereta cepat, mengatakan bukan tak mungkin pemerintah akan memberikan subsidi tiket kereta cepat. Konsekuensinya, APBN akan terbebani lagi.
“Bangun transportasi ini tidak bisa dipaksa. Harus melihat rute dan jenis transportasi, tergantung berapa banyak manusia yang akan pakai. Kereta cepat ini teknologi tinggi dan Indonesia bagus bisa mengadopsinya. Tapi persoalannya, dampaknya, gimana? Sustainability-nya gimana?” tandasnya.
Sumber: Fajar