Pejabat Bergaji Besar Ini ‘Dihukum Mati’ Gegara Tak Becus Kerja!

DEMOCRAZY.ID – Punya gaji besar ternyata tidak menjamin seorang pejabat punya kinerja baik.

Akibat kinerja buruknya, pejabat tersebut dihukum mati.

Kisah ini pernah terjadi pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels di Hindia Belanda pada 1810.Pejabat tersebut bernama J.F.P.

Filz, seorang perwira berpangkat kolonel yang bertugas mempertahankan Ambon, Maluku.

Dia dijatuhi hukuman mati setelah gagal menjaga wilayah penting penghasil rempah-rempah itu dari serangan Inggris.

Sebagai gambaran, ketika memerintah Hindia Belanda pada 1808-1811, pria yang lahir tepat hari ini 264 tahun lalu itu melakukan sejumlah perubahan dalam birokrasi pemerintahan.

Salah satunya adalah menaikkan gaji para pejabat agar mereka tidak mencari penghasilan tambahan melalui praktik korupsi.

Sejarawan Djoko Marihandono dalam risetnya Sentralisme Kekuasaan Pemerintahan Herman Willem Daendels di Jawa 1808-1811 (2005) menyebut Daendels berharap kenaikan gaji dapat memperkecil perilaku korupsi sekaligus memperbaiki kinerja para pejabat.

Kebijakan tersebut berjalan beriringan dengan penerapan disiplin yang keras.

Daendels tidak segan menjatuhkan hukuman berat kepada aparat yang dianggap melakukan pelanggaran atau gagal menjalankan kewajibannya.

Namun, gaji tinggi dan ancaman hukuman ternyata tidak menjamin seluruh bawahannya mampu menjalankan tugas dengan baik.

Salah satu kasus yang berujung fatal menimpa J.F.P. Filz.

Dalam De teruggave der Oost-Indische koloniën, 1814-1816 (1910), Filz disebut sebagai perwira berpangkat kolonel yang pernah bertugas di Ambon.

Dia mendapat tugas mempertahankan wilayah Maluku yang memiliki arti penting bagi perdagangan rempah-rempah dunia.

Ambon bukan sekadar wilayah kolonial biasa.

Penguasaan atas pulau tersebut juga berkaitan dengan kepentingan ekonomi dan persaingan kekuatan Eropa di kawasan Nusantara.

Sayang, tugas mempertahankan Ambon tidak berjalan sesuai harapan.

Pada awal 1810, pasukan Inggris menyerang wilayah tersebut dan berhasil memukul mundur pasukan yang dipimpin Filz.

Inggris kemudian menguasai Ambon, termasuk wilayah yang menjadi bagian penting dari jaringan perdagangan rempah-rempah.

Kekalahan tersebut menjadi pukulan bagi pemerintahan kolonial karena kehilangan wilayah strategis kepada kekuatan saingan.

Riset Geschiedenis van Nederlandsch Indië (1940) menggambarkan kabar jatuhnya Ambon sebagai pukulan bagi pemerintahan Daendels.

“Tanpa diduga, pada bulan Mei, berita sedih diterima bahwa Ambon berserta pulau dan seluruh posnya telah jatuh ke tangan Inggris,” ungkap riset Geschiedenis van Nederlandsch Indië (1940).

Kabar tersebut membuat Daendels harus menghadapi kenyataan bahwa wilayah penting yang dipercayakan kepada bawahannya telah jatuh ke tangan musuh.

Filz kemudian harus mempertanggungjawabkan kegagalannya.

Dia dibawa ke pengadilan dan didakwa atas kerugian negara sebesar 3.000 ringgit akibat ketidakmampuannya menyelamatkan wilayah tersebut dari penguasaan Inggris.

Pengadilan akhirnya menjatuhkan hukuman mati kepada Filz.

Pada 10 Juni 1810, perwira tersebut dieksekusi oleh regu tembak.

Kisah Filz memperlihatkan betapa beratnya konsekuensi yang dapat dihadapi seorang pejabat atau perwira pada masa pemerintahan Daendels.

Kenaikan gaji tidak membuat aparat terbebas dari tuntutan pertanggungjawaban ketika gagal menjalankan tugas.

Artikel terkait lainnya