DEMOCRAZY.ID – Koordinator MBG Watch, Media Wahyudi Askar menyebut, selain persoalan tata kelola, pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) juga telah membawa dampak terhadap pasar pangan di sejumlah daerah.
Menurutnya, kenaikan permintaan bahan baku di wilayah dengan banyak dapur MBG ikut mendorong lonjakan harga komoditas tertentu.
“Instabilitas harga pangan luar biasa parah week to week harga daging ayam dibandingkan minggu yang lalu itu meningkat lebih dari 10 persen di daerah yang paling banyak SPPG. Jadi multiplier negative effect dari MBG ini juga dirasakan oleh masyarakat yang tidak menerima MBG,” ungkap Media saat menghadiri rapat dengan Komisi IX DPR RI, Kamis, 16 Juni 2026.
Ia berpandangan evaluasi terhadap program MBG sulit dilakukan karena adanya pihak-pihak yang disebut memperoleh manfaat dari pelaksanaannya.
“Nah dari semua proses yang kami lewati Bapak/Ibu, Kami sudah melakukan studi masyarakat sipil sudah menyuarakan bahkan sudah sampai turun ke jalan. Nah, di titik ini saya hanya ingin sampaikan part yang paling menarik dari apa yang terjadi hari ini,” ucapnya.
“Kenapa ini tetap berlanjut, kenapa ini masalah tidak akan selesai Karena mereka yang diam adalah mereka yang punya afiliasi paling kuat yang diuntungkan dari program Makan Bergizi Gratis ini,” tegas Media.
Ia menegaskan bahwa masyarakat sipil tidak memiliki kepentingan politik dalam menyampaikan kritik terhadap MBG.
“Sebelumnya saya ke DPD Bapak/Ibu, Saya juga bicara apa adanya kami tidak ada konflik kepentingan sama sekali. Bapak/Ibu bisa cek background track record kami masyarakat sipil keinginan dari masyarakat sipil itu sederhana,” tutur pengamat kebijakan publik ini.
Sebagai penutup, founder CELIOS itu juga membandingkan alokasi anggaran MBG Indonesia dengan program serupa di Brasil.
Menurutnya, porsi anggaran makan gratis di Indonesia jauh lebih besar dibandingkan negara yang selama ini dikenal berhasil menjalankan program tersebut.
“Program ini anggarannya itu masif sekali dan ditargetkan lagi Rp200-an triliun, kalau seandainya mau fair bicara best practice di negara lain, Pak Presiden bisa telepon Pak Lula dari Brazil. Berapa anggaran free meal school di Brazil? Itu hanya dua persen dibandingkan anggaran pendidikan,” kritiknya.
“Berapa di Indonesia? 34 persen dari anggaran pendidikan. Ini bukan anggaran baru, tapi memakan anggaran pendidikan yang sudah ada. Itulah yang terjadi, yang kita saksikan hari ini. Saya ngajar di kampus, beasiswa itu mengalami pengurangan signifikan,” keluh Media.