DEMOCRAZY.ID – Pesan Presiden ke-7 RI, Jokowi, tentang pentingnya tidak menggunakan kelebihan untuk selalu mendahului orang lain justru menuai respons menohok dari pegiat media sosial, Chusnul Chotimah.
Chusnul justru menyemprot balik pesan Jokowi yang disampaikan melalui filosofi Jawa saat menghadiri peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW sekaligus Haul ke-8 Al-Maghfurlah KH Musyafa Ali di Pondok Pesantren Al-Falah, Kebumen, Jawa Tengah, Sabtu (29/8/2026).
Ia menilai pesan tersebut bertolak belakang dengan sejumlah peristiwa politik yang dikaitkannya dengan Jokowi dan keluarganya, terutama terkait perjalanan politik Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Chusnul blak-blakan menyinggung pesan Jokowi yang mengingatkan agar seseorang tidak menggunakan kelebihannya untuk selalu mendahului atau mengungguli orang lain.
Kata dia, pesan tersebut justru mengingatkannya pada polemik perubahan aturan batas usia yang sebelumnya menjadi sorotan publik.
“Itu Gibran nggak punya kemampuan malah mendahului orang lain, demi dia aturan umur diubah, kamu malah mendukung,” ujar Chusnul, Minggu (30/8/2026).
Tidak berhenti di situ, Chusnul menuding Jokowi kerap tidak berbanding lurus antara ucapan dan perbuatannya.
“Munafik kamu pak, sen kanan belok kiri. Mau muntah rasanya dengar orang ini bicara,” tukasnya.
Lebih lanjut, Chusnul juga menuding Jokowi pernah menggunakan kekuasaan untuk kepentingan pribadi dan keluarganya.
Ia bahkan menyebut nama Jokowi dan nama panggilan yang kerap digunakan oleh para pengkritiknya di media sosial.
“Dia lupa saat dia berkuasa, bagaimana kekuasaan dia pakai untuk keuntungan dirinya dan keluarganya. Mulyono sedang menasehati Jokowi,” Chusnul menuturkan.
“Orang haus kekuasaan, tukang bohong dan penghianat nggak pernah ngaca,” tambahnya.
Sebelumnya, Jokowi menyampaikan pesan mengenai sikap hidup saat menghadiri kegiatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan Haul ke-8 Al-Maghfurlah KH Musyafa Ali di Pondok Pesantren Al-Falah, Kebumen.
Dalam kesempatan tersebut, Jokowi menggunakan filosofi Jawa untuk menggambarkan pentingnya tidak selalu menunjukkan kelebihan dan mendahului orang lain.
“Lamun siro banter, ojo disik-disiki. Nek kowe iso cepet, ojo suka mendahului. Kadang-kadang seperti itu menyakitkan yang didahului. Sing didisiki iku yo ora seneng,” ucap Jokowi.
Jokowi juga mengingatkan bahwa kemampuan atau kelebihan tidak harus selalu diperlihatkan kepada orang lain.
“Ngopo sih kita itu ngerti kalau kita banter tapi kelihatan alon yo ora opo-opo. Tidak usah diperlihatkan, jangan,” jelasnya.
👇👇
Jokowi: Punya Kekuasaan, Jangan Dipakai untuk Menjatuhkan Orang
Presiden ke-7 RI Joko Widodo mengingatkan para pemegang kekuasaan agar tidak menggunakan jabatan untuk menyakiti atau menjatuhkan orang lain.
Pesan itu disampaikan Jokowi saat menghadiri peringatan Maulid Nabi… pic.twitter.com/3dNj8DzIGw
Baca Juga— Pikiran Rakyat (@pikiran_rakyat) August 30, 2026
Dalam pesannya, Jokowi juga menyinggung kondisi kehidupan saat ini yang menurutnya penuh dengan berbagai tantangan.
Ia mengingatkan masyarakat agar tidak menambah persoalan dengan hal-hal yang sebenarnya tidak diperlukan.
“Kita hidup dalam dunia sekarang ini yang serba sulit. Dunia sekarang ini serba sulit. Banyak tantangan. Kalau kita menambahi urusan dengan hal-hal yang tidak perlu, rugi semua kita,” kuncinya.
Itu Gibran nggak punya kemampuan malah mendahului orang lain, demi dia aturan umur diubah, kamu malah mendukung.
Munafik kamu pak, sen kanan belok kiri.Jokowi: Punya Kemampuan Tak Perlu Selalu Mendahului Orang Lain.https://t.co/P2Qwx6sgjS https://t.co/1lf61m8TUR pic.twitter.com/HEeeVxx7w9
— Chusnul ch💞timah (@ch_chotimah2) August 30, 2026