Jalan Panjang Menuju Titik Nadir, Pengamat: PSI dan Dinasti Jokowi Sedang Menabung ‘Kehancuran Bersama’!

DEMOCRAZY.ID – Pengamat Politik, Heru Subagia, kembali merespons pernyataan mengejutkan dari internal Partai Solidaritas Indonesia (PSI).

Pernyataan yang menyebut bahwa partai tidak bisa lagi hanya mengandalkan figur Jokowi untuk menembus target tiga besar nasional pada Pemilu 2029 itu dinilai bukan sekadar evaluasi.

Heru menyebutnya sebagai pengakuan dosa politik sekaligus vonis atas kegagalan strategi elektoral PSI terhadap trah Jokowi.

Heru menilai hubungan antara PSI dan keluarga Jokowi saat ini bak perkawinan paksa yang tidak lagi mendatangkan keuntungan.

Sebaliknya, kondisi tersebut justru menjadi beban yang nyaris mustahil diselamatkan.

“Pernyataan dari Ahmad Ali yang melontarkan statemen mengejutkan bahwa tidak cukup hanya mengandalkan figur Jokowi untuk membesarkan partai atau menembus target tiga besar nasional pada Pemilu 2029 bukan sekadar evaluasi normatif,” ujar Heru kepada fajar.co.id, Minggu (25/10/2026).

“Ini adalah pengakuan dosa politik sekaligus vonis ilmiah atas kegagalan strategi ‘parasit elektoral’ yang selama ini diterapkan PSI terhadap trah Joko Widodo,” tambahnya.

Survei Buktikan ‘Jokowi Effect’ Kedaluwarsa

Heru membeberkan data empiris terbaru yang menunjukkan anomali mencolok.

Meski trah Jokowi secara individu masih memiliki daya tawar elektoral, PSI sebagai kendaraan politiknya justru mengalami stagnasi akut.

Berdasarkan survei Voxpol Center pada 3-12 Oktober 2026, elektabilitas PSI terjerembab di angka 2,4 persen.

Sementara survei Indonesia Political Opinion (IPO) pada 12-20 Oktober 2026 menempatkan PSI hanya di angka 2,9 persen.

“Angka ini menegaskan tren mandek yang konsisten dialami PSI selama satu setengah tahun terakhir, di mana popularitas logo (mencapai 70,2 persen) sama sekali gagal dikonversi menjadi modal keterpilihan,” sebutnya.

Heru menuturkan bahwa data tersebut menjadi tamparan keras.

Sebab blusukan dan safari politik yang intens dilakukan tidak mampu mengangkat derajat PSI keluar dari zona parpol gurem.

“Publik menerima figur pribadinya, namun memuntahkan partai politiknya,” jelasnya.

Kuat Personal, Jeblok Institusi

Menariknya, Heru menyoroti kontras antara kemandekan PSI dengan elektabilitas individu dari Dinasti Jokowi.

Dalam survei SMRC Oktober 2026, Gibran Rakabuming Raka masih bertengger di posisi empat besar dengan elektabilitas 8,4 persen.

Sementara Kaesang Pangarep masuk dalam radar 10 besar figur potensial Pilpres 2029.

“Namun, di sinilah letak kebrutalan faktanya. Angka elektabilitas tersebut hanyalah sisa-sisa popularitas dari kekuasaan masa lalu, karena secara substansi dan kualitas kepemimpinan, persepsi publik terhadap dua anak muda ini sudah hancur lebur,” sindir Heru.

Heru menekankan bahwa korelasi politik antara Dinasti Jokowi dan PSI saat ini sudah tidak lagi selaras.

Ia menyebut PSI sebagai partai tanpa akar rumput organik yang hanya mengandalkan sisa pengaruh Jokowi.

Sementara Dinasti Jokowi membutuhkan perahu kokoh untuk menjaga kekuasaan, bukan sekoci bocor yang untuk lolos ke Senayan saja megap-megap.

“Jika perkawinan paksa ini diteruskan, trah Jokowi hanya akan membuang energi, logistik, dan waktu secara sia-sia untuk membesarkan anak pungut yang menderita stunting elektoral,” tegasnya.

Saran untuk Jokowi: Angkat Kaki dan Bajak Parpol Lain

Menurut Heru, jalan paling rasional bagi Jokowi adalah segera angkat kaki dan meninggalkan PSI.

Ia menyarankan agar trah Jokowi melakukan pembajakan politik atau akuisisi formal terhadap partai-partai mapan.

Ada dua opsi logis yang menurutnya tersedia.

“Partai Amanat Nasional (PAN), Partai yang dikenal sangat transaksional dan adaptif terhadap kekuasaan. Di bawah kendali manajemen yang lebih mirip korporasi ketimbang parpol ideologis, PAN selalu terbuka bagi pemilik logistik besar,” imbuhnya.

“Partai Golkar, Dengan posisinya yang kokoh di peringkat tiga besar nasional (elektabilitas 11,7 persen versi Voxpol Oktober 2026), Golkar adalah kendaraan paling paripurna dan terbuka bagi pragmatisme politik dinasti. Struktur Golkar yang teknokratis dan berbasis massa riil akan menjadi tameng sekaligus mesin perang terbaik untuk menjamin masa depan politik Gibran maupun Kaesang,” tambah Heru.

Ia pun memberikan ultimatum bagi Jokowi, tetap bertahan di dalam sekoci PSI dan tenggelam bersama di 2029, atau mengambil langkah brutal dengan membajak kapal pesiar parpol lain demi kelangsungan dinastinya.

Artikel terkait lainnya