DEMOCRAZY.ID – Pakar ilmu komunikasi, Prof Henri Subiakto, buu-bukaan tentang dirinya yang pernah percaya sekaligus tertipu dengan ucapan dan penampilan mantan Presiden Jokowi.
“Saya pernah percaya dan tertipu juga dengan ucapan dan penampilan yang penuh polesan. Sekarangpun masih banyak yang buta terhadap sosok ini, hanya karena suka dengan hasil kerja pemerintahannya dulu yg terlihat sukses membangun infrastruktur,” kata Henri Subiakto, dikutip dari media sosialnya, Minggu (25/10/2026).
Dia menjelaskan, penampilan Jokowi yang seolah seperti orang biasa membuat ada kesamaan dengan kalangan masyarakat yang hidup sederhana.
Bagi mereka rakyat bawah, formalitas pendidikan tinggi itu dianggap tidak penting.
Makanya para pengritik Jokowi itu dianggap pembenci, dianggap orang yang sakit hati karena kalah berpolitik.
Bagi para pendukung setianya, Jokowi itu dilihat jauh lebih bagus dibanding Prabowo.
Nilai kelebihan Jokowi itulah yang terus disuarakan para buzzer dan para pembelanya di berbagai media dan kesempatan.
“Sampai seolah kita semua harus menormalkan ketidakjujuran. Membiasakan adanya perilaku curang, hingga menerima strategi politik asal menang yang sudah dikondisikan,” kata Henri Subiakto.
Padahal pembangunan infrastruktur yang terlihat sukses itu aslinya membawa bom waktu, saat tagihan-tagihan utang harus dibayarkan.
Stabilitas politik yang seolah tenang, sejatinya menyimpan jeratan-jeratan politik penyanderaan pada hampir semua partai politik.
Belum lagi dampak buruk rusaknya tatanan, moral, dan etika demokrasi hingga ketergantungan pada asing, akan berkonsekuensi panjang memperpuruk negeri ini.
Dosa- dosa terkait ini tidak banyak didalami sebagian besar rakyat negeri ini.
“Sementara berharap pada Prabowo untuk memperbaikinya, malah bisa membuat frustrasi. Kenyataannya Prabowo sulit memutus total pengaruh Jokowi. Dia masih mengakomodir kepentingan Jokowi hingga hari ini,” kata Henri Subiakto.
Walau terkadang tampak melakukan konsolidasi, tapi tetap saja masih memberi ruang dan kesinambungan kebijakan pada orang-orang Jokowi.
“Prabowo itu mix signal. Kesannya dia berkuasa, tapi tak mampu menghilangkan bayang-bayang mantan bos yang dulu mengangkatnya jadi jenderal penuh dan jadi kepala negara,” kata Henri Subiakto.
Gaya kepemimpinan dan komunikasinya memang beda tapi mereka tetap menjaga jarak aman karena masih saling membutuhkan.
Walau sekarang sudah tidak seharmonis di awal-awal Pemerintahan, tapi Prabowo tampak tak berani putus total apalagi berhadap-hadapan.
Isu ijazah dan putusan MK yang sangat melemahkan Jokowi, Gibran dari sisi moral pun tidak direspons tegas oleh Prabowo.
Seolah hanya jadi catatan dan simpanan peluru yang tidak harus terburu digunakan.
Mudah-mudahan rakyat melihat ini semua bisa bersabar dengan ketidakjelasan dan ketidaktegasan di tengah keadaan sosial ekonomi dan politik negara yang makin memburuk ini.