Gempar! Dulu Pasang Badan, Kini Ade Armando Balik Arah Tampar Keras Jokowi dan PSI

DEMOCRAZY.ID – Nama Ade Armando kembali ramai dibahas. Kali ini bukan karena membela Presiden ke-7 RI Joko Widodo. Justru sebaliknya.

Ia mulai melontarkan kritik terbuka terhadap PSI dan arah politik Jokowi.

Pernyataan itu muncul dalam tayangan kanal Cokro TV yang kemudian diulas ulang oleh kreator konten politik Saeful Zaman.

Video itu ramai beredar di media sosial sejak Jumat malam.

Ade Armando menyoroti rencana Jokowi kembali turun ke masyarakat.

Menurutnya, langkah itu harus dijaga agar tidak terlalu lekat dengan PSI.

“Pak Jokowi harus berhati-hati. Ia boleh turun ke lapangan, tapi sebaiknya tidak terlalu terlihat sebagai bagian dari agenda partai tertentu, termasuk PSI,” kata Ade Armando dalam tayangan tersebut.

Ucapan itu langsung memantik tafsir politik. Banyak pihak menilai Ade sedang menjaga jarak dari PSI.

Bahkan dianggap mulai menyerang partai yang selama ini membesarkan namanya.

Dalam video itu, Ade menyebut citra Jokowi selama ini dibangun sebagai tokoh rakyat. Bukan tokoh partai.

Ia mengingatkan agar kedekatan Jokowi dengan PSI tidak memunculkan kesan politik dinasti.

“Kalau Pak Jokowi terlalu sering terlihat dikelilingi kader PSI, publik bisa membaca kunjungannya sebagai konsolidasi partai keluarga,” ujarnya.

PSI sendiri kini dipimpin Kaesang Pangarep, putra Jokowi.

Karena itu, hubungan Jokowi dan PSI disebut tak lagi sekadar hubungan politik biasa.

Ade bahkan menyebut isu dinasti politik sangat sensitif di Indonesia.

Menurutnya, publik akan mulai resisten jika kekuasaan terlihat terlalu terpusat pada keluarga tertentu.

Pernyataan itu kontras dengan posisi Ade selama beberapa tahun terakhir.

Ia dikenal sebagai salah satu loyalis Jokowi paling vokal di ruang publik. Termasuk ketika membela berbagai kebijakan pemerintah dan PSI.

Dalam video ulasan Saeful Islam, kritik Ade disebut sebagai tanda kekecewaan politik.

Terutama setelah dirinya tak lagi berada di lingkar utama PSI.

“Jadi ada Armando ingin Jokowi tetap turun, tapi jangan atas nama partai,” ujar Saeful Islam dalam videonya.

Saeful juga menilai pernyataan Ade menyiratkan serangan simbolik terhadap Jokowi.

Terutama ketika menyinggung soal citra politik keluarga dan risiko resistensi publik.

Meski begitu, Ade Armando membantah dirinya sedang “ngambek” terhadap PSI.

Ia tetap menganggap Jokowi penting bagi partai tersebut.

“Saya tetap menganggap penting kalau Pak Jokowi akhirnya bergabung dengan PSI,” kata Ade.

Perdebatan itu kini melebar di media sosial. Sebagian menilai Ade mulai mengambil posisi baru.

Sebagian lain menganggap kritik itu masih bagian dari upaya menjaga citra politik Jokowi menjelang dinamika politik berikutnya.

Di tengah situasi itu, satu hal mulai terlihat. Loyalitas politik di sekitar Jokowi mulai bergerak. Perlahan. Tapi terasa.

Sumber: Herald

Artikel terkait lainnya