

DEMOCRAZY.ID – Pegiat media sosial Ferry Koto mengkritik gaya komunikasi publik Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya.
Menurutnya, unggahan kegiatan resmi Teddy di media sosial terlalu sering menampilkan jamuan makan saat menerima tamu.
Ferry menilai pola komunikasi tersebut kurang tepat di tengah narasi efisiensi anggaran yang tengah digaungkan pemerintah.
Menurutnya, substansi pertemuan kenegaraan seharusnya lebih ditonjolkan dibandingkan sajian makanan atau suasana ruang pertemuan.
Ferry menegaskan kritiknya didasarkan pada unggahan yang dipublikasikan langsung oleh Teddy.
“Bukan saya buat hoaks, lihat ini, selalu ada makan-makan yang di-upload Teddy,” ujar Ferry, Kamis (6/8/2026).
Ia mempertanyakan pesan yang ingin disampaikan melalui pola publikasi tersebut.
“Entah apa tujuan dan dampak yang ingin diharapkan dengan mempublikasikan makan-makan dan ruang mewah dalam kegiatan Seskab,” katanya.
Ferry juga menilai cara penyampaian aktivitas pemerintahan tersebut tidak mencerminkan komunikasi publik yang baik.
“Sudah pemerintahan ini amatir, Seskab-nya buruk pula dalam mengomunikasikan kegiatan,” ucapnya.
Ia kembali menyoroti kebiasaan Teddy yang disebutnya hampir selalu mengunggah foto jamuan makan saat menerima tamu.
“Amsiong benar era ini. Saya lihat Teddy ini kalau menerima tamu, yang tentu urusan kenegaraan atau pemerintahan, selalu meng-upload foto sedang makan,” sindirnya.
Menurut Ferry, pola komunikasi tersebut justru memunculkan tanda tanya di tengah masyarakat.
“Ini kurang akal atau memang tidak berakal dalam mengomunikasikan kegiatan?” imbuhnya.
Ferry kemudian mengaitkan kritiknya dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta kebijakan efisiensi anggaran pemerintah.
Ia menilai terdapat kontras antara narasi efisiensi dengan unggahan jamuan makan dalam agenda resmi.
“MBG untuk anak-anak lo cuma dengan menu berharga Rp8 ribu sampai Rp10 ribuan saja,” cetusnya.
Ia juga menyinggung posisi Teddy dalam pemerintahan.
“Baru di era Presiden Prabowo ini ada eselon II yang malah memosisikan diri di atas menteri, dan tamu pemerintah atau negara harus lewat dirinya,” katanya.
Ferry menilai Teddy belum mampu memilah materi yang layak dipublikasikan kepada masyarakat.
“Celakanya ndak bisa memilah mana yang patut dan tidak patut dipublikasikan,” ujarnya.
Lebih lanjut, Ferry menilai unggahan tersebut memberi kesan ingin mempertontonkan kemewahan kepada publik.
“Seperti arek cilik yang ingin menunjukkan ke dunia ini saya dengan segala kuasa dan kemewahannya,” ucapnya.
Karena itu, ia berharap ada pihak yang mengingatkan Teddy mengenai etika komunikasi pejabat publik.
“Mbok ada yang menata Teddy ini. Urusan pekerjaan pemerintahan itu ndak perlu memperlihatkan hidangan makan, kecuali memang sedang ada jamuan kenegaraan,” tegasnya.
Ferry kembali mengingatkan bahwa pemerintah sedang mendorong efisiensi anggaran.
“Katanya pemerintah sedang efisiensi, tapi setiap terima tamu, publikasinya malah sedang menikmati hidup dan makan-makan,” katanya.
Ia mengaku baru kali ini melihat seorang pejabat negara secara konsisten mempublikasikan jamuan makan dalam agenda pemerintahan.
“Baru kali ini, seingat saya, ada pejabat pemerintah yang setiap menerima tamu dalam urusan pemerintahan justru mempublikasikan foto sedang makan,” ujarnya.
Ferry pun membandingkan gaya komunikasi Teddy dengan Presiden Prabowo Subianto.
“Bahkan Presiden Prabowo saja tidak melakukan itu, kecuali dalam acara kenegaraan atau saat menerima tamu di rumah dalam pertemuan informal,” tandasnya.
Ia menegaskan tidak ada yang salah dengan menjamu tamu.
Namun, menurutnya, jamuan makan tidak perlu dijadikan fokus utama dalam publikasi kegiatan resmi.
“Boleh makan-makan, tapi ndak usah dijadikan tampak depan dengan dipublikasikan,” pungkasnya.