DEMOCRAZY.ID – Miftah Maulana Habiburrohman alias Gus Miftah mengungkap cerita di balik proses pencalonan Gibran Rakabuming Raka sebagai calon wakil presiden pendamping Prabowo Subianto pada Pilpres 2024.
Gus Miftah mengaku menjadi salah satu pihak yang sejak awal mendorong Gibran untuk mendampingi Prabowo.
Namun, menurut dia, keinginan tersebut justru sempat mendapat penolakan dari keluarga Presiden ke-7 RI Jokowi, termasuk Ibu Iriana.
Ia menuturkan, pada awal pembahasan kandidat cawapres, nama Gibran bukanlah sosok yang langsung disetujui keluarga Jokowi.
Bahkan, Prabowo disebut telah beberapa kali meminta izin kepada Jokowi agar putra sulungnya itu dapat mendampinginya dalam kontestasi Pilpres.
Gus Miftah mengatakan, dirinya termasuk orang pertama yang mengusulkan Gibran sebagai cawapres Prabowo.
Ia menyampaikan usulan tersebut ketika Prabowo meminta pandangannya mengenai kandidat yang dinilai tepat untuk mendampingi dirinya.
Saat itu, menurut Gus Miftah, salah satu nama yang mendapat dukungan Jokowi adalah Erick Thohir.
Namun, ia menilai Erick memiliki kelemahan dari sisi elektabilitas di Jawa Timur, padahal wilayah tersebut dianggap penting untuk memenangkan pemilihan.
“Jadi waktu itu saya termasuk orang pertama yang menghendaki Mas Gibran untuk bisa menjadi cawapresnya Mas Prabowo,” ujar Gus Miftah, Kamis (15/10/2026).
Ia kemudian menceritakan percakapannya dengan Prabowo yang menanyakan sosok cawapres pilihannya.
“Saya bilang sama Mas Prabowo, Mas Gibran Mas,” tukasnya.
Lanjut Gus Miftah, Prabowo mengaku telah empat kali meminta kepada Jokowi agar Gibran diizinkan menjadi pendampingnya.
Namun, permintaan tersebut belum mendapat persetujuan.
Gus Miftah melanjutkan, Prabowo kemudian memintanya untuk menghadap Jokowi dan membujuk agar Gibran bersedia maju sebagai cawapres.
Ia mengaku berupaya menemui Jokowi setelah presiden saat itu kembali dari kunjungan kerja ke China.
Pertemuan tersebut, kata dia, berlangsung di Istana Bogor.
Dalam pertemuan itu, Jokowi disebut menanyakan siapa sosok yang diinginkan Gus Miftah untuk mendampingi Prabowo.
Gus Miftah mengaku kembali menyebut nama Gibran.
Namun, menurut penuturannya, Jokowi langsung menunjukkan keberatan terhadap usulan tersebut.
“Ketika kalau Gusma maunya siapa? Kalau nggak Mas Erik. Saya waktu itu bilang, Mas Gibran. Pak Jokowi itu langsung beranjak dari tempat duduknya,” jelasnya.
Gus Miftah menilai respons tersebut menjadi salah satu alasan dirinya beranggapan bahwa Jokowi tidak memiliki ambisi untuk menjadikan Gibran sebagai cawapres.
Ia juga menyebut Jokowi sempat menyampaikan bahwa Prabowo telah beberapa kali meminta izin, tetapi dirinya belum menyetujuinya.
“Apalagi proses MK seperti itu, saya nggak mau kemudian intervensi MK. Enggak,” kata Gus Miftah, mengutip percakapannya dengan Jokowi.
Selain Jokowi, Gus Miftah mengaku mendapat informasi bahwa Iriana juga belum memberikan izin ketika Prabowo meminta bertemu dengannya.
Gus Miftah menilai cerita tersebut membantah anggapan bahwa pencalonan Gibran merupakan bagian dari ambisi keluarga Jokowi untuk membangun dinasti politik.
Menurut dia, dorongan agar Gibran maju sebagai cawapres justru datang dari sejumlah pihak di luar keluarga Jokowi, termasuk dirinya.
“Sekali lagi ini saya sampaikan apa? Bahwa keluarga Pak Jokowi tidak ada ambisi untuk menjadikan Mas Gibran sebagai Cawapres,” tegasnya.
Ia bahkan mengaku sempat mempertimbangkan nama Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa sebagai alternatif apabila Gibran tidak bersedia maju.
Gus Miftah mengatakan, setelah menemui Jokowi di Istana Bogor, dirinya juga bersilaturahmi dengan Khofifah.
Ia menyebut langkah tersebut berkaitan dengan pertimbangannya terhadap posisi Khofifah sebagai gubernur Jawa Timur dan Ketua Muslimat NU.
Gus Miftah juga mengungkapkan bahwa dirinya kemudian menjalin komunikasi intensif dengan Gibran.
Baginya, Gibran beberapa kali berkunjung ke pondok pesantrennya, sementara dirinya juga mendatangi Solo.
Dalam komunikasi tersebut, Gus Miftah mengklaim Gibran berulang kali menyampaikan bahwa Jokowi belum memberikan izin kepadanya untuk maju sebagai cawapres.
“Sampai keluar keputusan MK itu, Mas Gibran masih ketemu saya. Enggak Gus, Bapak tidak mengizinkan. Bapak tidak mengizinkan,” tandasnya.
Ia menyebut Prabowo terus menjalin komunikasi hingga akhirnya Gibran bersedia menerima pencalonan tersebut.
Bahkan, Gus Miftah bilang bahwa keputusan Gibran untuk maju baru diperoleh sehari sebelum deklarasi pasangan Prabowo-Gibran.
“Itu pun mau itu sehari sebelum dideklarasikan,” kuncinya.