DEMOCRAZY.ID – Pengamat politik, Heru Subagia, menyebut hubungan politik Jokowi dan Presiden Prabowo Subianto menyimpan persoalan di tengah dinamika kekuasaan nasional.
Heru bahkan menyebut Jokowi sebagai ‘musuh dalam selimut’ bagi Prabowo, baik dalam hubungan personal maupun dalam koalisi politik.
Hal itu disampaikan Heru saat menanggapi rencana Ketua DPD Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kabupaten Cirebon, Kapten Harianto, yang ingin menghadirkan Jokowi dalam Rapat Koordinasi Daerah (Rakorda) PSI pada November mendatang.
Dikatakan Heru, rencana tersebut berpotensi tidak berjalan sesuai harapan.
Ia menilai Jokowi saat ini tengah menghadapi berbagai persoalan politik yang berkaitan dengan keluarganya.
Heru menuturkan, rencana PSI Cirebon untuk menghadirkan Jokowi dalam Rakorda November mendatang perlu mempertimbangkan situasi politik nasional yang sedang berkembang.
Ia bahkan memprediksi upaya tersebut tidak akan membuahkan hasil seperti yang diharapkan oleh pengurus PSI setempat.
“Dengan konstelasi nasional yang sedang mengalami kontraksi politik sekeras ini, rencana PSI Cirebon untuk menyeret Jokowi hadir dalam Rakorda bulan November nanti dipastikan akan berujung zonk,” ujar Heru, Jumat (16/10/2026).
Menurut dia, Jokowi saat ini memiliki persoalan politik yang dinilainya lebih mendesak untuk dihadapi, terutama terkait posisi dan masa depan politik keluarganya.
“Jokowi tidak akan konsen dan datang karena seluruh energinya habis terkuras demi menyelamatkan leher politik keluarganya agar tidak disembelih di tengah jalan dalam koalisi Prabowo,” tukasnya.
Heru selanjutnya menyentil posisi politik Jokowi di tengah dinamika nasional.
Ia menilai mantan Presiden RI tersebut kini menghadapi tekanan dari berbagai kelompok masyarakat.
Harianto, menurut Heru, perlu melihat situasi tersebut sebelum mendorong Jokowi menjadi Ketua Umum PSI.
” Harianto harus membuka matanya lebar-lebar: di panggung nasional hari ini, Jokowi telah berubah menjadi musuh bersama bagi banyak kelompok publik,” Heru menuturkan.
Ia juga menekankan bahwa dinamika politik menuju 2029 berpotensi memengaruhi hubungan antara Jokowi dan Prabowo.
“Dalam peta kekuasaan jangka panjang menuju 2029, keretakan hubungan antara poros Solo dan Hambalang sudah menjadi rahasia umum,” imbuhnya.
Heru kemudian menegaskan pandangannya dengan menyebut Jokowi sebagai sosok yang berpotensi menjadi lawan politik dari dalam lingkaran kekuasaan Prabowo.
“Dalam bahasa politik yang paling telanjang, Jokowi hari ini adalah musuh dalam selimut bagi Prabowo Subianto, baik secara personal maupun koalisi,” ucapnya.
Kata Heru, kondisi tersebut membuat rencana PSI Cirebon untuk mendorong Jokowi menjadi ketua umum partai perlu dilihat secara lebih cermat.
Ia mengibaratkan langkah tersebut seperti mengundang seseorang yang sedang menghadapi tekanan dari berbagai arah untuk masuk ke dalam lingkungan sendiri.
“Jadi, ketika PSI Cirebon memohon-mohon agar Jokowi menjadi Ketua Umum mereka, mereka sebenarnya sedang mengundang figur yang sedang dikepung musuh untuk masuk ke dalam rumah mereka sendiri,” tandasnya.
Ia pun melontarkan kritik keras terhadap langkah politik pengurus PSI Cirebon tersebut.
“Sebuah kebodohan politik yang paripurna,” kuncinya.