Pengamat Ramal Kejutan Besar di Pilpres 2029: Figur Baru Ini Diprediksi Mampu Ubah Peta Persaingan lawan Prabowo!

DEMOCRAZY.ID — Peta persaingan menuju Pemilihan Presiden (Pilpres) 2029 makin bergejolak seiring melonjaknya modal politik Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi (KDM).

Pengamat politik Adi Prayitno menguliti peluang KDM untuk melenggang sebagai calon presiden, yang dinilai sangat bergantung pada keberaniannya berpisah jalan dari Partai Gerindra dan melepaskan diri dari bayang-bayang Presiden Prabowo Subianto.

Ujian terbesar KDM di tingkat nasional kini berada pada keputusannya: apakah akan tetap bertahan di barisan Gerindra yang sudah pasang badan mendukung Prabowo kembali bertarung di 2029, atau berani berburu kendaraan politik baru.

Dilema Gerindra dan Kunci Tiket Capres Bagi Dedi Mulyadi

Adi Prayitno menguraikan bahwa jika KDM memilih bertahan di dalam barisan Gerindra, ruang geraknya menuju bursa capres dipastikan akan terkunci rapat.

Sebab, Gerindra secara internal dipastikan mengusung kembali Prabowo Subianto.

Sebaliknya, peta kekuatan nasional bakal berubah drastis jika KDM memilih mengambil langkah ekstrem dengan hengkang dan mengamankan dukungan dari partai politik lain pemilik kursi parlemen.

Diungkapkan Adi melalui kanal YouTube miliknya, popularitas dan tingginya elektabilitas di daerah belum cukup untuk menjamin tiket pencalonan tanpa adanya kepastian koalisi parpol.

Berburu kendaraan politik di luar Gerindra menjadi pekerjaan rumah paling krusial bagi KDM jika ingin menembus panggung Pilpres 2029.

Survei SMRC: Elektabilitas Dedi Mulyadi Meroket Tembus 35,5 Persen, Prabowo Terpuruk

Skenario pecah kongsi ini kian memanas setelah lembaga survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) merilis hasil riset nasional terbaru.

Dalam simulasi semi-terbuka 24 nama kandidat presiden, Dedi Mulyadi melesat di posisi puncak dengan elektabilitas mencapai 35,5 persen.

KDM sukses mengungguli Anies Baswedan yang berada di urutan kedua dengan 10,3 persen.

Sementara itu, posisi Presiden Prabowo Subianto justru merosot tajam ke peringkat ketiga dengan raihan hanya 9,8 persen.

Anjloknya elektabilitas Prabowo kian telanjang dalam simulasi tanding ulang dua nama (head-to-head).

Dalam skenario persaingan langsung tersebut, KDM unggul telak dengan raihan 69,3 persen, sedangkan Prabowo terpuruk jauh di angka 18,8 persen.

Anjloknya Kepercayaan Publik pada Rezim dan Opsi Jalur Mandiri KDM

SMRC menyoroti penurunan drastis elektabilitas Prabowo yang berbanding lurus dengan memburuknya penilaian masyarakat terhadap kondisi ekonomi nasional serta pengawasan program-program pemerintah yang sarat skandal.

Kekecewaan publik atas kinerja rezim mulai mengalihkan dukungan ke figur potensial baru.

Bagi KDM, tingginya elektabilitas ini menjadi amunisi politik raksasa.

Namun, popularitas tinggi di Jawa Barat tidak otomatis mengamankan posisi jika ia gagal menggalang koalisi nasional di luar lingkaran Gerindra.

Akankah Dedi Mulyadi bertahan sebagai pengikut Gerindra atau berani banting stir menjadi penantang utama Prabowo di 2029?

Semua bergantung pada keberanian KDM mengambil keputusan politik serta dinamika pembentukan koalisi di Senayan!

Artikel terkait lainnya