Dua Tahun Prabowo Menjabat, Gibran Diduga Sengaja ‘Dikurung’: Tak Pernah Dilibatkan dalam Rapat Penting!

DEMOCRAZY.ID — Posisi Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka di lingkaran utama Istana kini benar-benar berada di titik nadir.

Pakar Hukum Tata Negara terkemuka, Bivitri Susanti, menelanjangi strategi Presiden Prabowo Subianto yang sengaja mengurung dan mengisolasi putra sulung Joko Widodo tersebut dari panggung kekuasaan nasional.

Bivitri menilai Kepala Negara sengaja memangkas peran Gibran seminimal mungkin dan tidak memberikannya pembagian tugas yang jelas, sehingga posisi Wakil Presiden saat ini tak lebih dari sekadar pajangan simbolis tanpa kewenangan organik.

Gibran Sengaja Diberangus: Disingkirkan dari Rapat Kabinet Krusial!

Bivitri membeberkan bukti telanjang di mana kehadiran Gibran kerap diabaikan secara sengaja oleh Presiden Prabowo dalam berbagai agenda strategis dan rapat-rapat penting pemerintahan.

“Bahkan kita melihat sendiri melalui rekaman-rekaman dan melalui siaran langsung dalam beberapa rapat kabinet, ia tidak diikut sertakan. Jadi sebenarnya kita juga kurang jelas apa perannya. Jadi kalau saya sih melihat memang sangat minimal ya,” kata Bivitri, Selasa (20/10/2026).

Menurut Bivitri, pengerdilan peran ini bukan karena faktor teknis biasa, melainkan hasil kalkulasi politik yang sangat matang dari Prabowo agar tidak memberikan panggung maupun porsi kekuasaan sedikit pun kepada eksponen dinasti Solo tersebut.

Bandingkan Era SBY-JK dan Boediono: Gibran Cuma Ban Serep Mati!

Bivitri menegaskan bahwa dalam sistem presidensialisme murni, seorang presiden yang menghormati etika ketatanegaraan pasti melibatkan wakilnya secara organik dengan memberikan portofolio peran yang spesifik.

Ia kemudian membandingkan nasib tragis Gibran dengan para Wakil Presiden di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Di masa SBY-Jusuf Kalla (2004-2009), JK diberikan kepercayaan penuh mengemban tugas-tugas berat seperti negosiasi konflik damai hingga penanganan bencana nasional.

Begitu pula pada era SBY-Boediono (2009-2014), Boediono memegang peran sentral dalam mengawasi dan menilai kinerja kementerian.

“Pak Boediono juga demikian, ada peran tertentu untuk mengawasi jalannya pemerintahan. Dulu kan ada penilaian untuk kementerian-kementerian dan seterusnya. Jadi ada peran-peran tertentu yang bisa diberikan kepada wakil presiden,” tegas Bivitri.

Pengasingan Politik Istana: Babak Akhir Putra Mahkota!

Sikap dingin dan strategi pengasingan yang dilancarkan Prabowo terhadap Gibran makin mempertegas bahwa dinasti Jokowi sudah tidak lagi memiliki taji di pemerintahan baru.

Diabaikan dalam rapat kabinet, disandera skandal ijazah fiktif yang tak kunjung usai, hingga dibiarkan berjalan tanpa arah tanpa fungsi ketatanegaraan.

Fenomena pengurangan panggung ini menjadi sinyal kuat bahwa Istana era Prabowo tengah melakukan pembersihan secara perlahan, membiarkan Gibran terasing di sudut Istana hingga kehilangan panggung politiknya sama sekali!

Artikel terkait lainnya