DEMOCRAZY.ID – Pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut sejumlah pakar “saking pintarnya jadi goblok” menjadi sorotan.
Pernyataan itu disampaikan Prabowo saat menghadiri perayaan HUT ke-28 Partai Amanat Nasional (PAN) di Jakarta, Jumat (18/9/2026).
Dalam pidatonya, Prabowo menyinggung sejumlah pakar yang menurutnya kerap melontarkan fitnah.
Ia juga menekankan pentingnya kejujuran intelektual bagi orang yang memiliki kepakaran.
Ucapan tersebut kemudian mendapat respons dari sejumlah kalangan akademik dan pegiat kebebasan akademik.
Namun, sekitar sembilan bulan sebelum pernyataan Prabowo itu disampaikan, Guru Besar FISIPOL UGM Prof.
Amalinda Savirani juga pernah melontarkan kritik keras terhadap cara pemerintah merespons pengetahuan dan masukan dari para ahli.
Pernyataan itu disampaikan Amalinda dalam diskusi dan pemutaran film Tak Ada Makan Siang Gratis pada Desember 2025.
Amalinda Soroti Peran Ahli dalam Kebijakan PanganDalam forum tersebut, Amalinda membahas persoalan kebijakan pangan dan gizi.
Ia menyoroti banyaknya ahli yang menurutnya dapat dilibatkan pemerintah dalam penyusunan maupun evaluasi kebijakan.
Menurut Amalinda, persoalan bukan terletak pada minimnya sumber pengetahuan atau kepakaran.
Ia justru mempertanyakan kemauan pemerintah untuk membuka ruang bagi para ahli.
“Ini rezim yang menurut saya ya, keluarganya dianggap bego, padahal dia sendiri yang bego gitu ya,” ujar Amalinda, Selasa (22/9/2026).
Ia kemudian menyinggung banyaknya ahli gizi dan pangan lokal yang dinilainya dapat diajak berdiskusi.
“Keluarganya dianggap gak tau apa-apa padahal yang ahli gizi banyak banget, ahli pangan lokal banyak banget, yang bisa diajak ngobrol dan bisa itu gitu ya, ada banyak kalau mau banyak caranya gitu, tapi emang gak mau,” tukasnya.
Kritik Amalinda kemudian mengarah pada cara pemerintah merespons masukan dan pengetahuan dari kalangan ahli.
Ia menggunakan istilah “tuli”, “buta”, hingga “sotoy” untuk menggambarkan apa yang menurutnya menjadi persoalan dalam pemerintahan.
“Jadi, rezim ini tuh udah bukan hanya, kalau tadi soal Al-Baqarah, summun bukmun gitu ya. Tuli, buta, tapi juga sotoy,” tegasnya.
Amalinda juga mengkritik pemahaman mengenai gizi dan pengolahan makanan yang akan diberikan kepada masyarakat.
“Gak ngerti gizi, gak ngerti masak yang bener. Sok-sokan mau masak, mau ngomongin gizi. Dan akhirnya yang kita tahu tuh sekarang ini,” terangnya.
Menurut Amalinda, persoalan kebijakan pangan dan gizi tidak semata-mata berkaitan dengan menu makanan maupun pemenuhan kebutuhan gizi.
Ia menilai terdapat kepentingan politik dan ekonomi yang menurutnya ikut memengaruhi pengelolaan program tersebut.
“Kita dengar sekarang ini tiap hari buka media tuh capek aja. Jadi menurut saya kalau diinside dari analisa itu, berapa keuntungan adalah elit, partai, polisi, aparat keamanan yang tidak tahu apapun, mau hijau, mau coklat, sama. Cuma beda-beda porsinya aja gitu,” jelasnya.
Ia kemudian menegaskan bahwa persoalan tersebut, menurut pandangannya, tidak cukup dijelaskan sebagai persoalan perilaku individu.
“Jadi memang penjelasannya bukan penjelasan pihak viral dari perilaku gitu ya. Mereka tahu lah,” imbuhnya.
Sementara itu, dalam pidatonya di HUT ke-28 PAN, Prabowo juga menegaskan komitmennya untuk mewujudkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia.
Prabowo menyebut keinginannya melihat Indonesia sejahtera sebagai sumpah pribadi.
“Saya bersumpah ingin melihat Indonesia sejahtera, itu sumpah saya,” kata Prabowo dalam perayaan HUT ke-28 PAN di Jakarta International Convention Center (JICC), dikutip Sabtu (19/9/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Prabowo kembali menyinggung sejumlah pakar yang kerap mengkritik kebijakan pemerintah.
“Terserah pakar-pakar yang menganggap dirinya pakar, saking pintarnya jadi goblok,” sindirnya.
Prabowo menilai kritik yang disampaikan sejumlah pakar tersebut tidak selalu sesuai dengan realitas yang dihadapi pemerintah di lapangan.
Ia juga mengatakan lebih leluasa menyampaikan gagasan ketika berbicara di hadapan orang-orang yang dianggapnya sebagai kawan sejati.
“Ini masalahnya kalau bicara di tengah kawan-kawan sejati. Nanti yang diulang-ulangi itu tadi itu,” pungkasnya.