Klaim Upah Pengupas Bawang Rp700 Ribu Terbukti Bohong? Kader PDIP Bongkar Fakta Harga Bawang Sebenarnya di Brebes Cuma Segini!

DEMOCRAZY.ID – Kader PDI Perjuangan (PDIP) Mohamad Guntur Romli menyoroti pernyataan Presiden Prabowo Subianto mengenai upah buruh pengupas bawang yang disebut mencapai Rp700 ribu per kilogram.

Gun Romli, sapaan Mohamad Guntur Romli, mempertanyakan kewajaran nominal tersebut.

Ia membandingkannya dengan harga bawang yang disebut hanya sekitar Rp22 ribu per kilogram di Brebes, Jawa Tengah.

“Upah ngupas bawang 700 ribu per kilogram,” tulis Gun Romli melalui akun X pribadinya, Sabtu (15/8/2026).

Menurut Gun Romli, nominal upah yang disampaikan Prabowo tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan harga bawang itu sendiri.

Ia mengaku memperoleh informasi harga bawang tersebut langsung dari petani di Brebes.

“Padahal bawang dibeli seharga Rp22.000 per kilogram di Brebes. Laporan dari petani bawang,” terang Gun Romli.

Pernyataan Prabowo soal Upah Pengupas Bawang

Pernyataan mengenai upah pengupas bawang itu disampaikan Prabowo dalam pidato kenegaraan di Gedung DPR/MPR RI, Jakarta.

Dalam kesempatan tersebut, Prabowo memperkenalkan seorang perempuan bernama Susana.

Ia disebut sebagai penerima Program Keluarga Harapan (PKH) dan Program Sembako yang kini mengalami perbaikan kondisi ekonomi.

“Hari ini hadir bersama kita Ibu Susana dari Kabupaten Bogor. Dia bekerja sebagai buruh harian,” ujar Prabowo.

Susana yang hadir dalam acara tersebut kemudian berdiri. Prabowo lantas menjelaskan pekerjaan dan nominal upah yang diterimanya.

“Buruh harian mengupas bawang dengan upah Rp700 ribu per kilogram,” kata Prabowo.

Pernyataan tersebut kemudian menjadi sorotan di media sosial. Sejumlah pihak mempertanyakan angka Rp700 ribu per kilogram yang disebut sebagai upah mengupas bawang.

Muhadkly Acho Ikut Soroti Pernyataan Prabowo

Sutradara film Agak Laen, Muhadkly Acho, juga menanggapi pernyataan Prabowo tersebut.

Ia menilai nominal upah pengupas bawang sebesar Rp700 ribu per kilogram sulit diterima secara logika.

“Ga masuk akal dari sisi manapun,” kata Acho dikutip dari unggahannya di X, Sabtu (15/8/2026).

Acho bahkan menilai pernyataan tersebut menunjukkan kurangnya wawasan mengenai angka yang disampaikan.

“Emang kosong aja berarti wawasannya,” terangnya.

Ia juga mempertanyakan bagaimana angka tersebut dapat dianggap masuk akal sebelum disampaikan kepada publik.

“Kok bisa sampai kepikiran kalo angka itu masuk akal,” imbuhnya.

Menurut Acho, masyarakat yang mendengar angka tersebut semestinya langsung mempertanyakannya karena nominalnya dinilai tidak wajar.

“Kalo orang berpikir pakai nalar sih harusnya langsung ga percaya saat dapat laporan begitu,” pungkasnya.

Acho kemudian membandingkan angka tersebut dengan nominal yang menurutnya lebih masuk akal.

“Kalo 700 perak baru masuk akal. Tapi kalo segitu ya bukan keberhasilan,” pungkasnya.

Polemik mengenai pernyataan upah pengupas bawang ini kemudian berkembang menjadi perdebatan mengenai akurasi data dan informasi yang disampaikan dalam pidato Presiden.

Hingga berita ini ditulis, belum terdapat penjelasan lebih lanjut dalam materi yang disampaikan mengenai konteks perhitungan angka Rp700 ribu per kilogram tersebut.

Artikel terkait lainnya