

DEMOCRAZY.ID — Program mercusuar Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali tercoreng oleh potret carut-marut di lapangan.
Alih-alih menyajikan standar kesehatan dan higienitas yang layak bagi para siswa, pendistribusian menu MBG di Desa Buniwangi, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Cianjur, justru memantik gelombang kecaman publik setelah aksinya viral di media sosial.
Pemicunya bukan sekadar menu makanan yang dibagikan, melainkan kendaraan pengangkut yang digunakan dinilai tidak layak, jorok, dan jauh dari standar sterilitas kesehatan pangan anak sekolah.
Dalam video berdurasi 41 detik yang beredar luas, tampak puluhan ompreng berisi jatah makanan siswa diangkut menggunakan mobil pikap terbuka.
Kondisi fisik kendaraan tersebut sontak mengundang erangan jijik dari warganet karena bagian samping bak mobil tampak dipenuhi karat dan hanya ditambal seadanya menggunakan lembaran tripleks yang diikat tali rafia, tanpa ada penutup atas yang steril dari debu maupun sengatan matahari.
Perekam video pun melontarkan kritik pedas berbahasa Sunda yang mencerminkan kekecewaan mendalam atas buruknya manajemen distribusi program pemerintah tersebut.
“Aduh ini SPPG Buniwangi, kurang modal. Tidak ada selera melihatnya juga, lama-lama mirip bak sampah ini mah, kurang pantas, tidak membuat nafsu makan,” ungkap pembuat video bernada geram.
Video tersebut langsung diserbu ribuan komentar warganet.
Publik mempertanyakan pengawasan ketat dari Badan Gizi Nasional (BGN), mengingat distribusi makanan untuk anak-anak sekolah semestinya memegang prinsip higienitas tingkat tinggi.
Banyak pihak khawatir makanan tersebut telanjur terkontaminasi debu jalanan atau basi akibat terpapar panas matahari secara langsung di atas bak terbuka.
👇👇
Pendistribusian Makan Bergizi Gratis di Cianjur viral karena menggunakan pikap terbuka. Koordinator mengakui risiko kontaminasi dan teguran telah diberikan. Selengkapnya di sini!
FULL : https://t.co/zwyJPzGrex pic.twitter.com/igcsmV6csw
— detikJabarofficial (@detikjabar_) July 31, 2026
Menanggapi badai kritik yang menerpa, Kepala Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG) Buniwangi, Bagas, berdalih bahwa penggunaan mobil pikap tidak layak tersebut bukanlah prosedur tetap (protap) yang direncanakan.
Ia berdalih langkah darurat itu terpaksa diambil lantaran kendaraan operasional utama mengalami kerusakan mendadak.
Menurut Bagas, hal tersebut dilakukan semata-mata agar distribusi makanan ke sekolah-sekolah yang berada di pelosok tetap tersalurkan tepat waktu.
Meski demikian, pihak SPPG secara terbuka mengakui bahwa metode pengiriman tersebut melanggar standar sterilitas makanan.
Di sisi lain, Koordinator SPPG Kecamatan Pagelaran, Abdul Latif, menyatakan pihaknya telah menjatuhkan teguran lisan kepada pengelola SPPG Buniwangi agar insiden memalukan ini tidak kembali terulang.
Namun, perihal sanksi definitif, Abdul menyebut hal tersebut sepenuhnya berada di tangan Badan Gizi Nasional (BGN) untuk memutuskan langkah lanjutan.
Insiden pikap karatan pengangkut ompreng gizi ini kembali membuka mata publik bahwa di balik ambisi besar program pemerintah, persoalan pengawasan di tingkat bawah masih karut-marut.