DEMOCRAZY.ID – Presiden Prabowo Subianto menyinggung adanya kegaduhan yang terjadi setiap kali Pemilihan Umum (Pemilu) usai.
Kondisi ini kata Prabowo tak membuat Indonesia jadi maju.
Menurutnya, menang dan kalah dalam pemilu merupakan konsekuensi yang harus diterima dalam negara yang menganut demokrasi.
Prabowo mengatakan dirinya pun memahami bahwa kekalahan dalam pemilu itu membuat kecewa.
Bahkan ia sendiri pernah empat kali dalam pemilu.
“Jadi kedaulatan rakyat wujudnya adalah demokrasi, demokrasi wujudnya adalah pemilihan. Kita mengerti, kita mungkin tidak puas tapi alternatifnya apa? Apakah kita mau gaduh? Habis tiap pemilihan gaduh, tiap pemilihan gaduh, yang kalah ribut, yang kalah ribut. Kapan kita mau menuju kesejahteraan untuk rakyat kita?” ujar Prabowo dalam pidatonya di acara Sarasehan Kebangsaan yang dilihat di YouTube Sekretariat Presiden, Jumat (26/6/2026).
Menurut Prabowo, setiap pemimpin dan kalangan intelektual harusnya mengarahkan seluruh kemampuan untuk menyelesaikan persoalan rakyat.
Hal ini guna membantu rakyat Indonesia sejahtera.
“Bukankah itu kewajiban kita sebagai anak bangsa, sebagai pemimpin, sebagai orang terpintar di negara ini? Bukankah itu segala kepintaran kita harus kita abdikan untuk rakyat kita yang paling miskin dan paling lemah? Bukankah itu?” ujar Prabowo.
“Silakan kalau ada yang berpendapat lain hak. Saya katakan kita berbeda. Kalau ada yang berpendapat bahwa gaduh, ribut, bakar-bakar, anarki, kebencian, permusuhan, maki-memaki itu produktif, sementara negara lain menuju kesejahteraan, menuju terobosan, menuju kekayaan,” sambungnya.
Sumber: Detik