DEMOCRAZY.ID – Sejumlah aktivis mahasiswa menggelar aksi unjuk rasa di persimpangan Jalan AP Pettarani dan Jalan Letjen Hertasning, Kecamatan Rappocini, Kota Makassar, Kamis (11/6/2026).
Pantauan di lokasi, pengunjuk rasa yang mengatasnamakan diri sebagai Gerakan Aktivis Mahasiswa (GAM) membentangkan spanduk besar hingga membakar ban bekas.
Hal tersebut dilakukan sebagai simbol perlawanan terhadap rezim yang dianggap telah mencederai harapan rakyat.
Dalam aksinya, mereka mengusung tagline, “Rezim Prabowo-Gibran Pengkhianat Rakyat”.
Bukan tanpa alasan, anjloknya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dianggap sebagai bukti ketidakseriusan pemerintah dalam mengurus negara.
Selain soal nilai tukar rupiah, mahasiswa juga memprotes kebijakan baru terkait harga bahan bakar minyak (BBM) yang dirilis baru-baru ini.
Panglima GAM, Fajar Wasis, yang memimpin jalannya unjuk rasa menegaskan bahwa melemahnya nilai tukar rupiah menjadi kekhawatiran di tengah masyarakat.
“Ketika nilai tukar rupiah terus mengalami tekanan, maka muncul kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi,” ujar Fajar di lokasi.
Menurut Fajar, kondisi ini berdampak langsung pada kehidupan masyarakat kelas menengah ke bawah.
“Melemahnya rupiah berpotensi meningkatkan harga berbagai barang dan jasa. Ini kemudian mendorong kenaikan harga di tingkat konsumen,” tegasnya.
Oleh karena itu, ia mendorong pemerintah mengambil langkah-langkah konkret untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Perhatian mahasiswa juga tertuju pada melambungnya harga BBM jenis Pertamax RON 92 dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter.
“Kondisi ini bisa memunculkan efek domino di masyarakat. Apabila tidak diantisipasi, maka masyarakat akan merasakan dampak buruknya,” ucap Fajar.
Menurutnya, kenaikan harga BBM meskipun non-subsidi tetap berpotensi meningkatkan biaya distribusi barang, memicu kenaikan harga kebutuhan pokok, hingga menekan daya beli masyarakat.
Selain isu kenaikan harga BBM dan melemahnya nilai tukar rupiah, mahasiswa juga menyoroti pengesahan Revisi UU Polri.
Fajar mengatakan, kontroversi pembahasan dan pengesahan Revisi UU Polri juga menjadi perhatian serius di tengah masyarakat.
“Dalam kurun waktu yang relatif singkat, pemerintah bersama DPR telah menyelesaikan Rancangan UU Kepolisian. Prosesnya kurang dari tiga pekan,” katanya.
Hingga berita ini diturunkan, mahasiswa dari GAM masih menguasai ruas Jalan AP Pettarani. Mereka memblokir jalan menggunakan truk serta membakar ban bekas.
Sumber: Fajar