DEMOCRAZY.ID – B.J. Habibie, sosok yang dijuluki “Bapak Teknologi Indonesia” ini tidak hanya sukses di dunia politik, tetapi juga berhasil mengharumkan nama bangsa melalui berbagai pencapaiannya di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi penerbangan.
Ia tidak hanya pandai membuat dan merancang pesawat terbang, tetapi juga mampu menciptakan teori baru yang bermanfaat bagi dunia penerbangan global.
Salah satu teori fenomenalnya adalah Teori Keretakan Pesawat (Crack Progression Theory).
Selain itu, Habibie juga meninggalkan warisan dan sederet pencapaian besar yang membanggakan dan menginspirasi generasi muda Indonesia hingga hari ini.
B.J. Habibie atau Bacharuddin Jusuf Habibie adalah Presiden ketiga Republik Indonesia yang dikenal sebagai ilmuwan dan tokoh teknologi penerbangan.
Pria kelahiran Parepare, Sulawesi Selatan, pada 25 Juni 1936 ini, memiliki latar belakang pendidikan yang sangat prestisius.
Ia menempuh pendidikan teknik penerbangan di Jerman hingga meraih gelar doktor dengan predikat summa cum laude.
Sebelum menjadi presiden, ia sempat menjabat sebagai Menteri Riset dan Teknologi.
Di masa kepemimpinannya, ia berperan besar dalam pengembangan industri pesawat, termasuk proyek pesawat N-250 Gatotkaca.
BJ Habibie resmi menjabat sebagai presiden pada 21 Mei 1998 menggantikan Soeharto di tengah krisis reformasi.
Meski hanya memimpin sekitar 1 tahun 5 bulan, sosoknya dikenang karena membuka era demokrasi baru, kebebasan pers, dan pelaksanaan Pemilu 1999 yang lebih demokratis.
Habibie wafat pada 11 September 2019 dan hingga kini ia dikenang sebagai sosok cerdas dan inspiratif bagi bangsa Indonesia.
Mengutip dari berbagai sumber, berikut adalah sederet prestasi BJ Habibie yang membanggakan:
Sebelumnya, BJ Habibie sempat menempuh pendidikan di Institut Teknologi Bandung (ITB) selama satu tahun.
Ia kemudian mengambil jurusan Teknik Penerbangan dengan spesialisasi konstruksi pesawat terbang di Aachen, Jerman, setelah menerima beasiswa.
Habibie memilih jurusan tersebut karena ia mengingat pesan dari Ir. Soekarno yang menyatakan bahwa industri Dirgantara dan penerbangan sangat penting bagi Indonesia.
Lima tahun mengenyam pendidikan, Habibie akhirnya meraih gelar doktor dengan predikat summa cum laude dengan sempurna pada tahun 1965.
Habibie sempat bekerja di sebuah perusahaan penerbangan Messerschmitt-Bolkow-Blohm (MBB) selama beberapa waktu.
Berkat kejeniusannya, ia pernah menjabat sebagai wakil presiden bidang teknologi di perusahaan terkemuka tersebut.
Dengan ilmu yang didapat selama mengenyam pendidikan di Jerman, Habibie berhasil melahirkan teori kedirgantaraan yang bermanfaat bagi dunia penerbangan internasional.
Teori yang dibuatnya tersebut adalah Teori Keretakan atau Crack Progression Theory atau juga disebut The Habibie Factor, sebuah model matematika yang digunakan untuk memprediksi titik awal perambatan retakan pada sayap dan bodi pesawat terbang.
Teori yang ditemukannya itu diakui oleh dunia penerbangan dan dipakai perusahaan maskapai global.
Berkat teori itu pula, BJ Habibie dijuluki sebagai ‘Mr Crack’.
Pada 1976, Habibie yang kembali ke Indonesia dan ingin berkontribusi dalam dunia penerbangan, dipercaya menduduki jabatan sebagai Presiden Direktur di PT Industri Pesawat Terbang Nurtanio atau PT IPTN.
Selama memimpin perusahaan itu, Habibie berhasil menciptakan pesawat pertama buatan Indonesia, yaitu N-250 Gatotkaca.
Habibie diangkat sebagai Menteri Negara Riset dan Teknologi sejak tahun 1978 hingga Maret 1998. Lalu, ia diangkat sebagai Wakil Presiden RI ke-7 mendampingi Presiden Soeharto.
Dua bulan setelah pelantikannya, Habibie ditunjuk sebagai Presiden Indonesia ke-3 menggantikan Soeharto yang lengser.
Meski hanya menjabat selama 1 tahun lima bulan, kepemimpinannya sangat diapresiasi masyarakat.
Berkat penemuannya yang fenomenal, Habibie mendapatkan penghargaan bergengsi di kancah nasional hingga internasional.
Penghargaan itu adalah Edward Warner Award dan Award von Karman yang dinilai setara dengan Hadiah Nobel.
Pemerintah Jerman juga pernah memberikan penghargaan Das Grosse Verdientkreuz dan Das Grosse Verdienstkreuz Mit Stern Und Schulterband.
Sementara di negara sendiri, Habibie mendapatkan penghargaan Ganesha Praja Manggala Bhakti Kencana oleh ITB.
Saat menjabat sebagai Presiden RI, BJ Habibie menginisiasi berdirinya Komnas Perempuan pada Oktober 1998.
Lembaga ini didirikan sebagai respons atas maraknya kekerasan terhadap perempuan, khususnya tragedi kekerasan seksual dalam Kerusuhan Mei 1998.
Lembaga ini resmi berdiri melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 181 Tahun 1998.
Karena lahir di awal era transisi, Komnas Perempuan kerap dijuluki sebagai salah satu “anak pertama Reformasi”.
Kehadirannya menjadi simbol pengakuan negara bahwa kekerasan terhadap perempuan merupakan pelanggaran HAM serius yang sebelumnya jarang dibahas secara terbuka pada Orde Baru.
Sumber: Inilah